Cerpen Ricardo Marbun (Radar Mojokerto, 01 Januari 2023)
AKHIR-AKHIR ini, tak pernah lagi teman-temanku datang menjengukku. Padahal dulu, ketika aku kenal dan akrab dengan mereka di fakultas teknik, kami berikrar perkawanan ini akan awet selamanya tak peduli akan kondisi apapun.
Barangkali waktu itu kami meluap-luap sebagai mahasiswa baru, apalagi mahasiswa perguruan tinggi negeri, segala ikrar gampang saja dicetuskan. Sampai-sampai aku membuat jarak dengan Parman.
Ah, Parman….
“Jangan lupa bawakan juga untuk Parman, Kim!” seru Ibu dari dapur.
Aku bungah akan kasih sayang Ibu pada Parman. Aku percaya, di pagi ini, di rumah Parman, tidak terlalu jauh jarak dari rumah kami, situasi meja makan mereka kurang lebih sama. Ibu Parman pasti mengingat namaku. Aku adalah anak juga dihadapan Ibu Parman.”
“Kalian langsung les, tho?” Ibu sudah muncul saja dari dapur.
Aku mengangguk. Cekatan tangan Ibu mengisi kotak bekalku. Aku tidak ikut campur masalah itu. Tangan Ibu sangat terampil untuk hal-hal seperti ini. Dalam hitungan menit tempat bekalku sudah siap. Padahal, sarapanku pun belum habis.
“Ayo, cepat! Katanya kamu mau jemput Parman dulu?” suara Ibu bernada tak sabar.
Apakah di meja makan rumah Parman seperti ini juga? Aku yakin kurang lebih sama. Padahal kami bukan saudara. Tidak ada hubungan keluarga di antara kami. Seingatku kedekatan ini bermula dari TK. Kami sama-sama sekolah di TK yang sama. Waktu-waktu menunggu, Ibu dan Ibu Parman berkenalan. Termasuk aku dan Parman di kelas bisa dekat padahal tidak saling kenal. Dan itu berlanjut sampai dewasa.
“Hakim pamit, Bu.” Aku segera mencium punggung tangan Ibu.
“Iya, hati-hati. Baik-baik di sekolah,” pesan Ibu seperti biasa.
Kegaduhan rutin setiap hari. Terkadang aku berpikir, kok, tidak ada rasa bosan? Cara Ibu, hari demi hari rutin seperti itu. Dari cerita Parman, di rumah mereka ibunya berlaku sama. Pikiran itu tiba-tiba mengusikku. Aku butuh situasi yang lain. Aku sendiri heran, angin dari mana membisikkan itu pada telingaku. Sambil menyelesaikan SMP dengan baik aku dan Parman dua orang tak terpisahkan. Masuk SMA aku ingin suasana baru. Menurut pikiranku!
Perubahan itu memang tidak langsung terasa. Aku bisa apa untuk ukuran anak SMA. Kami sama-sama diterima di SMA terbaik di kota ini. Parman masih rajin datang ke rumah. Aku juga masih menjemput dia. Kalau dulu kami menggunakan sepeda balap sekarang kami sudah diizinkan naik motor. Ibu yang memutuskan aku harus menjemput Parman. Padahal aku yakin Ibu Parman tidak tahu menahu akan hal ini. Terkadang gemes, Ibu selalu terdepan untuk hal-hal menurutku tidak penting. Sebaliknya, maha penting untuk Ibu.
Perubahan itu aku perlihatkan di sekolah. Aku aktif di banyak kegiatan di sekolah. Parman juga aktif namun tidak seakut diriku. Aku bisa seharian di sekolah untuk merencanakan satu kegiatan. Aku seperti menemukan dunia beda. Dunia baru penuh tantangan. Bukan hidup seperti itu-itu saja. Hidup karena sebuah rutinitas. Kupikir Parman akan bertindak. Pulang lebih dulu. Minta tolong ayahnya untuk menjemput. Atau pulang dengan angkutan kota. Atau apalah! Selama aku berkegiatan Parman sama sekali tidak memperlihatkan diri. Itu berarti tidak menganggu ruang gerakku. Siapa sangka, Parman bisa tenang menunggu aku selesai di sekolah. Hampir malam, aku terkejut mendapati Parman menunggu aku di parkiran. Aku bahkan lupa kata-kata.
“Kegiatanmu luar biasa banyak belakangan ini. Semoga tidak berpengaruh pada pelajaranmu, ya?” ujar Parman biasa. Anehnya bagiku itu sindiran.
“Maksudmu? Kamu pikir aku main-main! Cari-cari kegiatan, gitu? Aku ini ingin melakukan sesuatu untuk sekolah. Jadi apa sekolah kalau muridnya semua seperti kamu?” sahutku seakan disengat kalajengking. Parman bahkan urung naik di belakangku.
“Maaf, Kim. Bukan begitu maksudku?” Parman terlihat takut. Untuk pertama kali aku membenci diriku. Aku sudah tega pada Parman.
“Ya sudah, naik!” jawabku dingin.
Harusnya aku senang. Usahaku berhasil. Pertengkaran kecil di tempat parkir membuka pikiran Parman. Berangkat sekolah Parman membawa motor sendiri. Aku benar-benar tidak peduli. Kebetulan sekali, batinku. Aku tidak perlu terganggu harus jemput dan antar dia pulang. Sudah besar ini. Tiba-tiba aku kepikiran Ibu. Dan itu membuat pikiranku mumet. Aku paling tidak bisa untuk satu hal yang berurusan dengan Ibu.
Dugaanku keliru. Ibu bergeming. Tidak menyinggung perihal itu. Aku ingin bertanya tapi kuurungkan. Sepertinya alam menyertai segala rencanaku. Aku mendambakan sebuah perubahan. Sebuah kehidupan pilihanku, hingga kami masuk di perguruan tinggi yang sama.
Aku berubah total! Anak-anak lain rajin bangun pagi untuk persiapan kuliah. Aku sebaliknya malah tidur serasa tidak berbeban sama sekali. Aku masih mengalah. Mau satu kos dengan Parman. Kalau bukan demi Ibu ingin rasanya aku mencari tempat kos lain agar tidak bersentuhan dengan Parman. Tidak perlu aku selidiki, Ibu pasti meminta tolong Parman agar ikut mengawasiku. Api kebencian kian besar setiap kali ingat Parman dan kebiasaannya.
“Hakim, Kim. Hakim! Kamu tidak kuliah? Ada kuliah pagi, kan?” Parman mengetok pintu kamarku berulang kali. Bedebah! Mengangggu sekali, sih! Umpatku dalam hati.
“Ada apa?” jawabku sambil membuka pintu.
“Pulang pagi lagi? Kamu ada kuliah Kim?” Parman berusaha sabar.
“Mau tidak pulang, urusan apa sama kamu!” sahutku ketus.
“Pergi sana! Aku mau tidur.” Bukan pergi, Parman justru membuatku bertambah muak.
“Kamu bisa tidak lulus, Kim. Kamu sudah absen empat kali mata kuliah Pak Pono. Kuliahmu akan molor kalau caramu begini. Ayo, bangun. Kuliah!” jawab Parman kaku. Darahku mencapai ubun-ubun rasanya.
“Kamu, ya. Pergi! Tidak perlu campuri hidupku. Sana!” Aku mendorong pintu kamar keras. Hening. Tidak terdengar suara Parman sama sekali.
Hidupku serba terbalik. Di saat orang di rumah istirahat atau belajar, aku justru berada di kampus bersama kelompok manusia-manusia merindukan kebebasan. Kami bicara dari Timur ke Selatan. Bicara apa saja. Merembet ke segala masalah negeri ini. Pikiran cermerlang kami ingin memperbaiki keadaan itu. Pikiran kami mendidih membicarakan ketimpangan. Kemiskinan. Kesusahan hidup.
Ruang lingkup kami bertambah luas. Kami tidak lagi sebatas intern kampus. Kami bernegoisasi dengan kampus-kampus lain. Darah kami berkobar. Pikiran-pikiran cemerlang kami kian tumbuh bahkan hendak berbuah. Kami ingin mewujudkan dalam sebuah bentuk nyata. Sebuah bentuk untuk perubahan negeri.
Pikiran kami adalah api. Segala diskusi kami adalah bahan bakar untuk membesarkan api itu. Tekad kami bulat. Kami harus berjuang. Kami bukan robot yang selalu bergerak karena remot. Kami tidak membutuhkan hidup seperti itu. Undangan demi undangan berdatangan. Kami bertemu di tempat-tempat khusus. Merencanakan sebuah gerakan. Segala rencana untuk sebuah perubahan. Kami merencanakan segala sudut dengan matang. Diskusi-diskusi panjang itu berlangsung hingga pagi. Perlahan kami melupakan kata “kewajiban”.
Di kejauhan aku menangkap bayangan Parman. Bisa mampus aku, juga Parman, jika kunyuk itu sampai masuk ke tempat terlarang ini. Padahal tempat ini berada di jalan kecil. Bagaimana Parman bisa tahu bahwa aku berada di kawasan sini. Pura-pura kepentingan, aku keluar dari kerumunan orang-orang banyak. Aku harus segera menyeret Parman.
Parman jatuh berulang kali karena seretanku. Aku menuju tempat terjauh dari lokasi rahasia itu. Parman berusaha melawan. Tenagaku lebih unggul untuk kekuatan tangannya. Setelah merasa aman, aku menjatuhkan Parman dengan sangat kuat. Parman tersungkur lagi.
“Anjing! Untuk apa kamu datang ke tempat ini?” raungku marah.
“Menyelamatkan kamu. Ayo kita pulang, Hakim. Kamu sudah terlalu jauh ikut arus. Tempat kita bukan di sini. Ayo! Aku harus membawamu pulang,” tegas Parman sembari berusaha bangun.
“Tolol! Kamu tahu apa perjuangan, hah! Hidupmu nol. Kosong. Robot. Kamu tidak akan pernah tahu rasanya sebuah pengalaman hidup. Kamu tidak lebih seorang badut. Lebih baik kamu pergi dari sini. Jangan urusi diriku!” bentakku lebih keras lagi.
“Tidak Hakim. Aku harus membawamu pulang.” Parman bertahan dengan tekadnya.
Aku lupa diri dan memberi pukulan keras ke wajah Parman. Tidak sempat ancang-ancang Parman tersungkur ke tanah. Parman pingsan. Sejenak aku mengawasi Parman. Dadanya masih naik turun. Aku tahu, Parman hanya pingsan. Tidak ingin terlalu lama aku segera meninggalkan Parman di situ. Teman-teman lain pasti mencariku.
Massa mulai berpencar. Tercerai berai tak karuan arah. Sebagian merangsek maju. Melempar segala batu dan benda-benda lain ke arah petugas. Sebagian sisanya maju terus melawan kerumunan petugas. Aku maju memimpin perlawanan. Tujuan utama kami adalah menguasai kantor pemerintah. Petugas menembak gas air mata. Massa membalas dengan segala yang mereka punya. Kerusuhan benar-benar tidak terhindarkan!
Di tengah sesak napas karena gas air mata, aku terhenyak menyaksikan teman seperjuangan kepalanya bocor dihantam pentungan oleh petugas. Jiwaku mendidih. Aku merangsek maju berusaha menolong teman itu. Aku menangkap tubuh yang hampir tumbang. Berhasil. Seketika kaosku penuh lumuran darah. Aku berusaha menyeret dari kerumunan. Terlambat! Tendangan sangat keras menghantam punggung belakangku. Seperti tombak rasanya. Aku tersungkur bersama teman dalam pelukanku. Tiba-tiba aku muntah darah segar. Sekujur tubuhku tak bertenaga. Pandanganku gelap. Sangat gelap. Aku tiba-tiba melayang.
Akhirnya ada orang datang menjenguk setelah sekian lama. Semula aku bahagia pelan-pelan wajahku berubah muram. Orang yang datang itu adalah Parman. Aku mengamati Parman lamat-lamat. Aku melihat ada perubahan pada dirinya. Terlihat lebih dewasa. Parman datang sendiri. Parman cuma berdiri dengan muka murung, tunduk kepala. Sikap sarat kesedihan.
Dan aku bergeming. Aku tidak ingin mengusik Parman. Kalau saja bisa aku ingin menghiburnya untuk tidak bersedih lagi. Kesedihan tidak lagi berguna sekarang. Bukankah dia tahu bahwa aku cemburu padanya. Cemburu pada sikapnya. Niatnya. Belajar dengan baik. Menyelesaikan tugas-tugas kuliah dengan baik. Belajar keras saat ujian tiba. Merasakan nilai-nilai cemerlang dari hasil kerja keras itu. Cemburu tidak beralasan. Sikap tenangnya. Sikap santunnya. Sikap mengalahnya. Sikap tidak berubahnya dengan semua keajaiban yang keluar dari diriku. Cemburu itu menyeretku ke pusaran tak berdasar.
“Hakim….”
Suara Parman … atau suara angin?
“Terima kasih untuk pengalaman ini, Hakim. Aku tidak akan pernah melupakan pengalaman ini. Sebuah pengalaman sarat kesedihan. Kamu berhasil membuka mataku. Bahwa tiap orang punya alasan untuk memberi warna dalam hidup. Kamu memberi warna dalam hidupmu. Memberi warna pada diriku. Memberi warna pada semua orang. Aku yakin warna ini akan abadi.”
Parman … aku ingin sekali menghiburnya.
“Aku pulang dulu, Hakim.”
Parman menghamburkan kuntum-kuntum mawar di atas batu itu. Tepat di bawahnya tubuhku telah menyatu bersama tanah. Parman menghamburkan seluruh kuntum yang dia bawa. Merata sudah kuntum-kuntum itu menutupi pusaraku. Aku melihat Parman menangis. Tangannya menyentuh batu nisanku. Mengusapnya berulang kali. Lalu, Parman pergi.
Aku berdiri ketika gerak langkah Parman kian jauh. Aku tersadar percuma untuk memanggil namanya. Punggungnya tegak kian jauh dan lenyap. Satu kuntum kamboja terlepas dari pohonya. Kuntum itu seakan mewakili semua rasa sedihku.
Aku masih berharap, entah kapan, tidak tahu caranya, bertemu Parman dan mengatakan, “Terima kasih.” ***
.
.
RICARDO MARBUN. Datang dari Pematang Siantar, menetap di Surabaya walau lahir di Jakarta. Lulusan Universitas Negeri Surabaya, sangat mengidolakan Budi Darma. Bahkan menganggap dirinya adalah Budi Darma berikutnya. Belajar menulis secara autodidak sejak tahun 2010. Banyak karya sederhananya dimuat media nasional seperti Femina, Pesona, Kartini, Gadis, Hai, Aneka, Nova, Jawa Pos, Suara Pembangunan, Jurnal Nasional, Republika, Detik, Kompas Digital, Solo Pos, dan media online. Berencana ingin menulis sampai ujung usia. Boleh ditemui pada IG @ricardo_mrb.
.
Cemburu. Cemburu. Cemburu. Cemburu. Cemburu.