Hari Ketujuh

Hari ini adalah hari terakhirmu bisa melihatku. Sebab, tubuhku akan segera dimasukkan ke lahad, dan akan lenyap tertimbun tanah. Kupandang lebih saksama wajahmu tampak murung dengan mata yang basah. Seolah tak rela melihatku dikebumikan.

KAU memang tak bisa melihatku, tetapi bukan berarti sebaliknya. Nyatanya aku bisa mengawasi gerak[1]gerikmu. Aku masih bisa menyentuhmu, meski kau tetap bergeming. Bahkan ketika seluruh prosesi penguburan telah usai, aku bisa mengikutimu sampai tiba di rumah. Di sanalah aku menyaksikan apa pun yang kau lakukan.

Di malam pertama, kau turut serta dalam doa bersama orang-orang. Rapalanmu sungguh khusyuk mengeja ayat suci, seakan bukan hanya terlisan lewat mulut, melainkan dengan hati. Seusainya, kau melayani orang-orang yang mengajakmu berbincang.

“Sebenarnya sudah sempat membaik. Tapi malamnya drop, dan meninggal jam 3 dini hari.”

Malam kian sunyi setelah orang[1]orang berangsur pamit. Tersisa beberapa saja yang akan menemanimu hingga esok pagi. Kau menutup pintu yang sedari pagi terbuka lebar. Dan mulai merebah di kasur yang baru kau gelar ruang utama. Kedua matamu melihat genting dengan tatapan hampa. Beberapa kali mengusap wajah yang sebenarnya tidak ada apa-apa. Kau terlelap beberapa jam setelahnya.

Esoknya, meski fajar baru menjelang, kau sudah mengawali pagi dengan memandangi foto yang melekat di dinding. Foto kita terbingkai dan terpampang di sana. Sama-sama berdiri menghadap kamera dengan mengacungkan buku nikah yang tanda tangannya masih basah. Melihatmu menatapnya, membuatku melakukan hal yang sama. Parahnya kau sudah sejam mendongak ke arah foto itu, sampai seorang perempuan tua, yang kutahu ia adalah ibumu, menegurmu dari arah belakang.

“Sudahlah, yang terpenting mendoakannya,” kata ibu sembari mengusap pundakmu.

“Aku tak percaya, secepat ini kami berpisah,” katamu seraya mengusap wajah pagimu itu.

Sewaktu bersimpuh di atas sajadah pada siang harinya, kau juga menyebut-nyebut namaku. Hal itu yang menyebabkan ibadahmu lebih lama. Padahal, yang kutahu tak pernah selama itu. Setelah selesai, kau bangkit dan menuju kursi yang terjejer di emperan. Kursi yang sengaja dikeluarkan bahkan sejak aku belum dibawa ke pemakaman.

Kau tak sendiri, beberapa orang masih setia menemani. Di antara orang-orang itu, aku melihat gadis kecil menghampirimu.

“Om,” sapanya. “Tadi malam kenapa kok mendoakan tante? Kan tante sudah mati?” Pertanyaan yang sebenarnya kurang sopan itu kau tanggapi dengan senyuman. Kau memaklumi, lalu menjawabnya.

“Supaya tantemu senang di surga sana.”

“Kalau tidak didoakan memangnya tante tidak senang, ya?”

“Senang juga. Tapi bakal lebih senang kalau kita mendoakannya.”

Gadis kecil itu terus melontarkan tanya dengan lugu. Sampai akhirnya ia terdiam karena tak ada lagi yang membuatnya penasaran.

Malam keduaku telah tiba. Sekumpulan orang datang lagi, duduk membentuk pola melingkar di ruang utama, lalu kembali membaca ayat suci. Kau demikian. Kekhusyukanmu tak juga surut, malah tampak lebih hikmat dan meresapinya.

Malam-malam selanjutnya berjalan demikian sama. Aku masih menyaksikan segalanya. Meski sebenarnya heran, mengapa masih bisa berada di rumah ini. Padahal kukira aku akan lenyap di malam pertama atau kedua.

Tuhan memang Mahabaik, memberiku kesempatan untuk menemanimu, setidaknya hingga malam ketujuh. Sehabis itu, aku berencana pergi menyusul jasadku yang telah menyatu dengan bumi.

Pagi-pagi sekali kau sudah duduk di kursi emperan. Sarung yang kau kenakan masih melekat sedari subuh tadi. Rona wajahmu tampak sedikit berbeda. Semacam ada kegelisahan. Berkali-kali kau tengok ponselmu, seakan menunggu sesuatu.

Tiga puluh menit kemudian kulihat seorang perempuan mengendarai motor tiba di rumah ini. Seketika kau berdiri menyambutnya. Begitu helm dan maskernya ditanggalkan, baru kutahu perempuan itu adalah Asri. Tanpa banyak bicara, kau mempersilakannya masuk.

“Aku turut berduka atas meninggalnya Halimah, Mas.” Kau menerima ucapan duka itu, lalu membalas dengan terima kasih. “Maaf aku tidak datang. Waktu itu aku di luar kota mengantar pesanan.” ucapnya kemudian.

“Tidak mengapa. Oya, bagaimana? Coba jelaskan isi pesanmu kemarin.”

Aku baru tahu jika Asri mengirim pesan kepadamu.

“Dua minggu lalu, Halimah bercerita kebahagiaannya menjadi pengantin baru. Ia senang bisa memilikimu seutuhnya.”

“Apa Halimah sering curhat?”

“Ya, kami saling bertukar keluh dan kebahagiaan.”

“Apa Halimah berpesan kepadamu?”

“Saat itu perasaannya sangat bahagia. Tak ada sedikit pun pesan darinya.”

“Katamu kemarin ada hal yang penting?” Kau bertanya dengan wajah penasaran.

Tiba-tiba Asri terdiam. Kemudian ia meraih sebuah kotak terbungkus plastik dari tasnya. Ia menyodorkan benda itu kepadamu. Kau sempat menanyakan isinya apa, namun Asri justru menyuruhmu membukanya sendiri. Gegas kau urai dengan hati-hati sampai pada lapisan pembungkus terakhir.

“Halimah memesan barang itu. Tapi aku belum sempat mengirimnya.”

Kau mendapati bahwa barang itu adalah kaligrafi berbingkai emas. Sebuah seni yang sangat kau sukai. Namaku dan namamu dengan tulisan Arab bersanding dan saling terhubung dengan indahnya. Aku melihat dan ikut terpana. Aku puas dengan garapan Asri itu, kau pasti setuju denganku. Tak lama, kaupeluk bingkai itu erat. Tangismu pecah cukup hebat.

***

Tibalah di hari ketujuhku, artinya, malam ini adalah malam terakhirku. Seperti janjiku kemarin, aku akan pergi ketika malam ketujuh tiba. Tetapi sebelum itu benar-benar kulakukan, hari ini aku ingin melihatmu lebih sungguh-sungguh daripada enam hari sebelumnya. Gerak dan ucapanmu akan kuperhatikan lebih serius, sebagai bekal kepergianku dari rumah ini. Setidaknya dengan begitu aku punya banyak memori yang dapat meringankan rinduku nanti.

Sore ini aku menemanimu melihat hamparan senja di cakrawala dari pelataran rumah. Aku berpikir ini adalah anugerah Tuhan terhadap dunia. Tapi kau, entah berpikir tentang apa. Aku melihat wajahmu yang tengah menengadah itu sama sekali tak mengartikan raut syukur. Justru sebaliknya, kau seakan menahan tangis yang menyebabkan wajahmu memerah.

Tiba-tiba kau mengakhirinya, lalu berjalan masuk menuju kamar. Aku menyusulmu. Kau rapatkan pintu dengan dua kali memutar kunci. Lantas kau kembali memeluki bingkai kaligrafi. Oh, Suamiku. Mengapa kau tak menggantungnya di dinding berdampingan dengan foto kita?

Kau memeluk bingkai diiringi tangis sesenggukkan. Berarti benar dugaanku, kau tadi sedang menahan tangis. Kemudian kau melepas bingkai kaligrafi dari pelukan, namun tetap memegangnya dengan posisi tepat di hadapanmu. Matamu tajam memandangnya. Sungguh aku memperhatikanmu dengan jeli.

“Aku tak bisa hidup tanpamu, Halimah. Aku ingin bertemu. Bertemu! Secepatnya!” Tangismu berubah tawa yang mengherankan. Aku malah bingung melihat sikapmu itu.

“Kita akan bertemu di surga, kan? Ya, di surga!” Tawamu bertambah keras. “Tunggu aku, Halimah! Sebentar lagi aku menyusulmu!”

Pyarrr… Aku terkejut. Bingkai terbanting dari tanganmu. Pecahan kacanya terserak di lantai. Cepat-cepat kau ambil satu bilah, dan melakukan hal yang sama sekali tak pernah kuduga. Kau melukai tanganmu di bagian urat nadi. Sontak aku berteriak sekuat tenaga. Tapi darah segar sudah bercucuran. Kau meringis menahan perih. Tak lama, tubuhmu roboh. Warna emas kaligrafi berubah merah. Oh, aku sangat takut dan tak tahu harus bagaimana. Karenanya, tak perlu menunggu malam tiba, rencana untuk pergi kupercepat saat itu juga.

***

Aku berada di suatu tempat di mana orang-orang sepertiku tinggal. Sudah lebih dari tujuh hari aku mendiami tempat ini sejak peristiwa menakutkan itu terjadi. Akan tetapi, aku tak melihatmu sama sekali. Apa kau tersesat? Harusnya tidak. Oh, apa kau tak jadi menyusul? Jika demikian, memang itu yang kuharapkan. (*)

INDARKA PP. Lahir di Wonogiri (Jawa Tengah). Alumni Fakultas Syariah, IAIN Surakarta. Saat ini bermukim di telatah Kartasura dan bergiat di Komunitas Kamar Kata.

Arsip Cerpen di Indonesia