DI suatu pagi yang zuhud, sesudah puas beristirahat panjang.
Mat-zin turun dari dahan pohon untuk mencari makan ke rimba dalam. Ia berkeliling mencari makan dengan pangkal tangan yang taat menghitung jumlah uban yang bersembunyi di semesta janggut.
Tiba-tiba Mat-zin dikejutkan oleh babi lewat yang sudah pandai mengaji. Ia termenung selayang, sebab sejak meninggalkan gelar pujangga dan lebih khusyuk mendalami kehidupan sebagai resi, tak pernah dilihatnya yang begini.
Bahkan sekali pun tak pernah.
Karena penglihatannya itu, seluruh pengetahuan yang selama ini ia tuntut sampai harus bertapa ke puncak gunung paling tua di bumi Minangkabau seakan telah dihina. Lantaran kesal, marah, penasaran dan ingin tahu kehidupan serupa apa yang telah dilalui babi ini sehingga ia dapat menguasai kepandaian manusia, maka ia putuskan untuk mengikuti diam-diam jejak si babi tanpa menghiraukan bunyi cacing dalam perutnya yang sejak tadi telah berdemonstrasi.
Ia ikuti terus pelan-pelan dengan jarak kira-kira seratus depa. Jarak yang memungkinkan Mat-zin tetap bisa mendengar kaji si babi.
Tak disangka sama sekali, rupanya babi itu mengarah ke sebuah lapangan raksasa yang sudah penuh sesak oleh kerumunan manusia. Si babi kemudian naik ke atas podium dengan lenggok kaki bijaksana, disambut tepuk tangan bergemuruh hebat bagai guntur yang bersahutan mengiringi setiap pijakan kakinya.
Bahkan, hanya dengan mengangkat tangan—entah kaki atau tangan—ke atas seperti menantang matahari garang, sejibun manusia menjerit bahagia seperti sendawa kekenyangan walau sebulan belum makan.
Seakan-akan, seluruh penghormatan itu dirayakan karena telah lahir nabi baru yang akan menuntun manusia memperbaiki zaman yang kacau balau dalam diri si babi.
Mat-zin yang telah berhasil mengikuti langkah si babi dan duduk di sebuah gundukan di ujung timur lapangan raksasa itu merasa aneh dengan apa yang dilihatnya. Ia usap matanya kuat-kuat, ia tampar pipinya beberapa kali, takut tengah diperdaya. Tapi tak juga ia sadarkan diri.
Malah di atas podium, si babi memulai sabdanya, “Wahai saudaraku, hidup di dunia adalah kefanaan yang sama sekali tak patut dirayakan. Sebab kematianlah hidup yang sesungguhnya. Karena di sana ada ribuan perawan untuk kita semua. Perawan yang lebih suci dari Mariam,” ujarnya membuka kata.
“Oleh sebab itu, setiap kita mesti bekerja untuk mati. Jangan takut saudaraku. Setelah mati kita semua akan disambut oleh jutaan bidadari yang menawan dan menggugah hati.”
Diam sebentar. Suasana sungguh amat hening.
Orang-orang menatap si babi dalam-dalam. Begitu pula dengan si babi. Ia memutar seluruh matanya, seperti menatap satu-satu mata setiap muridnya.
“Semua itu bisa kita dapatkan, hanya jika kita semua mau mengorbankan diri untuk membela ajaran yang kubawa dengan darah!” lanjutnya dengan nada penuh semangat.
Setelah kata itu diucapkan, tepuk tangan kembali bergemuruh. Orang-orang berteriak laksana kerasukan setan. Ada yang membuka baju hingga menjambak rambut sendiri, sebagai pertanda bahwa mereka siap kapan saja untuk mati.
Manusia edan serupa apa mereka ini? Sampai-sampai babi mesti turun tangan jadi nabi, pikir Mat-zin sambil mengarahkan pandang ke setiap sudut massa yang sedang bergerombol di lapangan raksasa.
“Dasar kumpulan orang goblok!!” Maki Mat-zin, tapi dengan nada amat pelan—yang mungkin hanya didengar olehnya sendiri.
Naas, ternyata ada yang mendengar makiannya. Yaitu seorang pemuda yang kelihatannya baru beberapa kali hadir di pengajian si babi. “Apa kau bilang? Apa aku tak salah dengar?” Tanyanya pada Mat-zin.
“Ehhhhh,” agak terkejut Mat-zin.
“Jangan berlagak bodoh, Bung. Apa alasanmu mengumpat kami kumpulan orang goblok,” tudingnya.
“Bukan begitu. Aku hanya kesal karena mereka memuji babi hingga sedemikian rupa. Bahkan seakan menjadikannya nabi. Bukankah sudah ada resi dan pujangga yang jadi guru bagi kita.”
“Rasis sekali mulut burukmu itu sialan!! Kau harus belajar tentang toleransi, Bung! Lagi pula orang-orang yang kausebut tadi telah lama mati.”
“Hahhhhh?!” Tambah terkejut Mat-zin mendengarnya, “benarkah?”
“Ya. Setelah itu manusia memasuki abad kekosongan. Abad di mana ilmu pengetahuan mati suri. Puluhan tahun lamanya. Sampai suatu ketika Mahaguru Babi lahir dan menjadi nabi bagi kami semua.”
Lama Mat-zin berpikir. Hingga kulit keningnya berkerut dan membentuk angka sebelas. Sejak kapan generasi pujangga dan resi mati? Apakah telah terjadi perang hebat antara intelektual yang berpihak ke raja, dan intelektual yang berpihak ke rakyat biasa. Sehingga karena peperangan itu resi serta pujangga musnah tak bersisa. Atau resi dan pujangga memilih untuk jadi petani dan memikirkan hidup sendiri. Karena lelah setelah sekian lama mengabdi pada istana dan rakyat biasa. Semua pertanyaan itu berkait dan melayang dalam kepala Mat-zin.
“Lalu apa sebenarnya yang diajarkan babi ini hingga kalian bertekuk lutut di hadapannya?” tanya Mat-zin lagi.
“Ia mengajar sastra, mantra, dan tantra. Bahkan menurut pengakuan salah seorang yang lebih lama menjadi pengikutnya ketimbang aku, filsafatnya di luar kepala,” jawab pemuda itu dengan bangga.
Setelah itu pembicaraan mereka terhenti, karena si babi menyuruh pengikutnya mengucap suatu kalimat yang tak dimengerti Mat-zin. Sesudah gemuruh berakhir, si pemuda tanggung itu lalu memberi peringatan pada Mat-zin agar tak mengulangi lagi kesalahannya. “Kalau kau berani lagi, barang kali itu adalah ucapan terakhir yang keluar dari mulutmu!”
“Iya. Tak akan lagi,” balas Mat-zin dengan senyum yang dibuat-buat. “Tak akan lagi memijakkan kaki ke tempat haram jaddah di mana babi seenaknya mengencingi akal sehat manusia,” imbuhnya dalam hati.
Mat-zin benar-benar kesal setengah mati. Kekesalannya itu terus tumbuh tak terhenti, bahkan sudah sampai pada tahap bermusuhan dengan isi hatinya sendiri. Lagi-lagi karena sepanjang hidupnya mengarungi zaman, baru kali ini ia melihat manusia terkagum-kagum pada babi soal ilmu pengetahuan yang seharusnya dimiliki manusia.
“Hyang Widhi sialan!” Maki Mat-zin dengan suara yang hanya dapat didengar oleh diri sendiri. “Jika tahu di zaman serupa ini aku ia campakkan setelah memutuskan menjadi resi, lebih baik aku tetap menjadi pujangga di istana. Meski tak bahagia, paling tidak aku tak pernah tercampak ke zaman penuh bala ini,” ucapnya kesal.
Sebab tak lagi tahan mendengar sabda panjang si babi, lebih-lebih menyaksikan sehimpun manusia edan bersorak-sorai mendengar setiap bait katanya. Dengan muka merah menahan marah, Mat-zin lantas kembali ke tempat semula ia melihat si babi, untuk melanjutkan usahanya mencari makan yang tadi sempat terhenti.