Cerpen Sule Subaweh (Suara Merdeka, 13 Agustus 2023)
RUANG itu berubah sangat tergesa-gesa. Ini kesekian kali Narsih mencoba menata ruang-ruang itu seperti ingatannya, tapi kehilangan tak pernah kembali di kamar yang banyak mengaliri kisah dan basah di matanya. Di gawang pintu kamar, dia menatap sudut-sudut hampa dan meja tanpa obrolan. Lampu seolah redup seperti wajahnya setiap kali mengingat Samida, suaminya. Dia tahu, tidak akan ada yang pulang, kecuali rindu.
Di meja itu tidak hanya menghidangkan makanan, tapi juga menghidangkan pertengkaran-pertengkaran, kadang keras, kadang lirih. Tapi yang sering menyulut pertengkaran mereka adalah perihal rindu yang buntu. Di dada Narsih, rindu itu selalu menjelma debur ombak musim angin yang sesekali membelai pipinya yang merah, perlahan memar hingga merah di matanya.
“Apa rindu bisa menyakiti?” Narsih sudah lama memendam kalimat itu. Suaranya lirih dan terdengar perih saat mengatakan itu pada Samida yang selalu pulang malam.
“Mana mungkin.”
“Kenapa aku merasa sakit saat merindukanmu.”
“Itu prasangka, bukan rindu. Bedanya memang tipis.”
“Apakah ada rindu di hatimu?” Samida melirik sebelum akhirnya memeluk tangan Narsih yang dingin, waktu itu.
Narsih tahu Samida tidak mudah mengatakan rindu, itu terlalu picisan. Begitupun dia, bahkan ketika benar-benar merindukannya.
Ingatan tentang Samida selalu berbunga di hati Narsih. Terutama saat berada di tempat yang selalu disinggahi. Belum lagi media sosial yang dikontrol algoritma itu akan selalu menyuguhkan kenangan-kenangan dengannya. Ya, begitulah Narsih terkurung dalam ingatannya.
Ketika Narsih berada di tengah kerumunan sambil memeluk gagang payung hitam, segala tentang Samida berputar kembali seperti kaset pita, berulang-ulang. Hari itu menandai awal segalanya berubah di kepalanya. Kini dia takkan mampu menemukan kengeyelan suaminya lagi. Orang-orang telah bersiap menggotong keranda. Jangankan mengatakan rindu, berucap saja Samida tidak bisa. Dia berbaring di dalamnya, dan diusung bak raja. Penghormatan yang tak pernah dialami sebelumnya.
Para pemikul bergantian sambil diiringi doa seperti pertunjukan seriosa, doa yang menggetarkan dada Narsih. Di ujung pintu rumahnya, tangis perempuan yang baru dikenalnya beberapa waktu lalu tak kalah memilukan baginya. Tangisan yang kurang lebih sama dengan kesedihannya. Seperti yang Samida katakan beberapa tahun silam, kesedihan hanya akan melahirkan kesedihan. Perihnya bisa menular pada siapa saja. Mungkin karena itu perempuan yang akhirnya memakai kacamata hitam itu menangis sejadi-jadinya. Mungkin saja ada hal lain yang tidak mampu Narsih terka kenapa perempuan itu sangat kehilangan.
Perempuan itu membuang tisu basah penuh air mata di tangannya dan berusaha mencari jalan menuju Narsih berdiri. Barangkali dia ingin memeluknya seperti orang-orang yang datang menenangkan kesedihannya. Perempuan itu tidak pernah sampai. Narsih tidak tahu namanya dan tidak begitu akrab. Tapi Narsih ingat, dialah perempuan yang pernah membuatnya resah.
“Perempuan itu hanya mitra dan sudah aku anggap saudara!” Samida berusaha meyakinkan Narsih di malam yang resah itu.
“Semesra ini kelakuan mitra!” Narsih mendelik. Dia menunjukkan beberapa foto Samida di hp saat berpelukan dengan perempuan itu.
“Kami merayakan hasil kerja keras. Lagi pula, foto itu di atas panggung.”
“Kalau ketahuan baru bilang begitu. Kalau tidak!”
“Percayalah!”
“Aku harus percaya pada siapa!”
Narsih tidak menegur Samida berminggu-minggu sebelum akhirnya perempuan bersuara serak itu datang ke rumahnya sambil membawa amplop hasil kerja keras suaminya dengan perempuan itu.
Sejak saat itu Narsih menyadari betapa berat godaan suaminya di luar sana. Dia sesegukan mengingat itu, tapi sebelum mengungkapkan rasa bersalah, laki-laki yang dicintainya sudah pergi dan menjadi lagu bagi rindunya. Ya seperti lagu yang dilantunkan sahabat karibnya saat menggotong Samida diikuti Narsih dan orang-orang yang tak dikenal di belakangnya. Mereka seperti kumpulan semut, berbaris sesaki jalan sempit. Ada yang masih duduk dan berdiri di lorong-lorong rumah tetangga. Mereka saling sapa dan bercerita panjang lebar tentang jasa suaminya. Narsih mulai sadar bahwa tidak hanya dia yang mencintai suaminya. Barangkali cintalah yang menjaga nasib mereka dari riuh di luar sana untuk mengendalikan gaduh.
Narsih tidak banyak mengenal orang-orang yang berdiri di rumah-rumah tetangga itu. Suaminya jarang berbicara tentang mereka atau bicara kegiatannya di luar sana. Sesekali saja dia menyebut beberapa nama. Katanya, itu tidak begitu penting dibicarakan di rumah kita. Di rumah aku adalah suami bukan pekerja seni seperti anggapan orang-orang di luar sana.
“Di luar sana kami menghabiskan sore hingga larut. Kadang panas, hujan dan dingin tak terhindarkan. Kami menemani anak-anak muda yang penuh gairah. Kami yang sudah tidak muda lagi perlu gairah agar debar tetap terjaga. Apa yang salah dengan itu!” Begitu perkataan Samida yang melekat di benak Narsih. Suaminya bahkan tidak peduli ketika pilek dan masuk angin yang sering menyerang. Dia tetap melangkah menuju komitmennya.
“Pakne kalau sakit seperti orang waras. Kalau tidak sakit malah seperti orang sakit.”
“La wong aku nggak sakit kok.” Samida mendelik malam itu, dengan badan sempoyongan.
“Ngeyel!”
“Sebentar lagi mau keluar kok.”
“Jangan ngeyel!”
“Sudah ada janji. Mau ada pertunjukan. Tidak enak kalau tidak datang. Sudahlah jangan membesar-besarkan hal kecil.”
“Apa kalau pakne sakit, mereka yang ngerokin, mijit dan melayani dengan permintaan-permintaan anehmu?”
Samida hanya diam. Bukan tidak mampu menyanggah, tapi diam baginya cara terbaik untuk membiarkan Narsih menang. Dia tetap berangkat, membiarkan Narsih cemberut. Ini bukan perkara apa-apa. Ini perkara tanggung jawab saja. Kata Samida sebelum membuka pintu. Itu perkataan terakhir sebelum kabar buruk sampai ke telinga Narsih.
***
Sepuluh hari setelah duka itu, lima orang berdiri di depan pintu, mengagetkan Narsih. Dua orang di antaranya sangat dikenalnya dan tiga lainnya baru dilihatnya, “Mau apa lagi mereka,” batinnya. Narsih berusaha tenang di antara laki-laki yang berambut gondrong dan berpakaian ala seniman di depannya.
“Apa suami saya punya utang sama kalian?”
“Kami yang punya utang. Seharusnya kami mendesak Samida, agar tidak memendam persoalan sendiri.”
“Bukannya dia selalu begitu.”
“Seharusnya dia tidak perlu menanggapi serius atas tuduhan-tuduhan itu.”
Narsih diam, dia ingat perkataan suaminya perihal tuduhan-tuduhan itu. Katanya, jangan dengarkan perkataan orang-orang yang tujuannya menjatuhkan. Mendengarkan hal buruk akan membuatmu bertingkah buruk, buruk rupa pula. Katanya tiba-tiba. Samida selalu bicara sesukanya meski Narsih tidak paham apa yang dibicarakan.
Narsih tahu ada beban di pundaknya yang mulai membungkuk saat berjalan dengan langkah gontai. Tapi langkahnya tetap yakin dengan jalan pikiran sendiri.
“Ingat!” Samida menatap mata Narsih. “Aku hanya berteman dengan orang-orang yang korupsi itu, dan tidak pernah ikut mencicipi hasilnya. Kamu tahu sendiri, aku berteman sebelum mereka jadi orang. Mereka bertemu hanya ingin mencairkan jenuh dan bernostalgia. Ada pula yang ingin menyombongkan diri. Sungguh aku tidak pernah menerima apa-apa seperti yang digunjingkan orang di luar sana.”
“Kalaupun aku mendapatkan uang dari mereka, itu murni job dari kesenian. Tidak cuma-cuma dan hanya sesekali saja.” Samida menghardik setelah melepas kekesalan. Dia melihat cemas di dalam tatapannya, cemas yang terus mengikuti seperti bayangan tubuhnya.
“Kenapa dia tidak mau bercerita pada kalian?” suara Narsih lirih. Ingatan itu membuatnya sedih, marah bercampur.
“Barangkali ada rahasia yang tidak ingin diketahui kami.”
“Apa benar dia korupsi?”
Lima orang yang duduk di depan Narsih hanya diam lalu saling tatap.
“Apa kalian percaya dia melakukannya?”
Narsih menatap lima orang di depannya. Laki-laki di depannya menggeleng.
“Kami tahu sifat Samida. Dia orang yang bersuara lantang tentang korupsi.” Lelaki gondrong segera menyela.
“Seharusnya kami sudah kaya jika dia korupsi. Nyatanya, hidup begini-begini saja. Hanya itu yang dia tinggalkan.” Narsih menunjuk ke tumpukan barang-barang peninggalan suaminya.
“Memang tidak ada yang berharga kecuali, buku dan alat-alat musik yang hanya akan bernilai jika dibeli dengan kenangannya.” Katanya kemudian.
“Saya tidak yakin Samida bunuh diri karena isu-isu itu. Dia laki-laki paling tenang setiap ada persoalan. Pasti ada hal besar di balik itu?”
“Dia tidak bunuh diri.” Suara Narsih pelan. Seketika semua diam. Mata mereka tertuju pada Narsih yang menunduk. Ada emosi yang mengembang dari dadanya.
“Dia dibunuh!”
“Dibunuh?” Serentak lima laki-laki di depannya mengulang kata itu.
“Saya melihat ada bekas suntikan di lehernya.”
“Bangsat! Siapa yang melakukan?”
Narsih menggeleng.
“Ayo kita usut, Bu!” Lelaki gondrong itu berdiri.
“Tidak perlu. Saya tidak ingin selalu mengingat Samida dengan mengusut kematiannya.” ***
Jejak imaji 2019
— Sule Subaweh bekerja di UAD dan aktif di Komunitas Sastra Jejak Imaji. Kumpulan cerpennya Bedak dalam Pasir (2017) dan Tidak Ada Resep Memulihkan Kehilangan (2022) diterbitkan Diva Press.
.
Bingkai Kehilangan Bingkai Kehilangan Bingkai Kehilangan Bingkai Kehilangan Bingkai Kehilangan.