Tembok Menulis Kisah Santi

MOBIL pick up bopeng yang mengusung beragam perabot lawas keluarga Tarjo berhenti di sebuah rumah kontrakan. Gesit, Tarjo melompat dari bak belakang yang dijejali beragam barang. Marni, istri Tarjo dan anak perempuannya turun dari pintu samping. Sopir dan Tarjo mengangkat barang-barang berat macam lemari ke dalam rumah. Marni dan anak perempuannya membantu dengan membawa alat-alat dapur yang ringan. Usai bak belakang kosong, Sopir melesat pergi dengan ocehan yang ditelan angin. Selanjutnya pasangan suami-istri dan anak perempuannya itu bahu membahu berberes barang. Mengatur perabot-perabot usang agar setidaknya ada cukup ruang di dalam rumah kontrakan. Namun bagaimana pun mereka berusaha, kontrakan tetap semrawut dengan melubernya barang. Terang saja, rumah kontrakan itu lebih sempit dari kontrakan mereka sebelumnya.

“Mak, aku harus pergi ke proyek. Mandor bisa marah nanti kalau aku terlambat.”

“Tapi Pak, ini beres-beresnya belum selesai. Aku juga harus ke rumah Pak John.”

“Suruh saja Santi. Mana Santi?” celigak-celinguk Tarjo mencari anak perempuannya. Ia mendapati anak perempuannya itu tengah meraba-raba tembok. Sesekali mata Santi terpejam. Menghayati.

***

Bagi Santi tembok adalah pengetahuan. Jika orang lain memperoleh pengetahuan dari buku, maka Santi mendapatnya dari tembok. Santi menganggap tembok tak ubahnya buku. Retak-retak yang menjalar serta noda-noda yang mencemari tembok adalah goresan huruf-huruf yang membentuk kalimat. Tidak ada yang tahu tentang keistimewaan yang dimiliki Santi. Gadis jelita itu menyimpannya untuk diri sendiri.

Dari tembok rumah kontrakan yang lama, Santi mengetahui peristiwa yang terjadi pada penghuninya. Pengontrak rumah yang pertama kali adalah perawan yang bekerja di pabrik rokok. Parasnya terlalu jelita untuk ukuran buruh pelinting rokok.

Tak heran, banyak rekan kerja, Supervisor hingga Manajer terpikat padanya. Namun tak ada satu pun yang menarik minat hatinya. Sang Perawan telah menyimpan cinta sucinya pada laki-laki di kampung halamannya.

Manajer tempatnya bekerja—yang sebetulnya sudah beristri lebih dari satu—menyimpan sakit hati yang sangat karena cintanya ditolak. Ia murka hingga mendatangi dukun. Entah salah mantra atau apa. Perawan jelita yang didamba bukannya jatuh hati padanya justru menjadi gila.

Apa yang terjadi dengan perawan itu kini, Santi tak tahu. Tembok di rumah kontrakannya dulu hanya menggores akhir kisah dengan dibawa pulangnya sang Perawan oleh keluarganya ke kampung. Santi mendesah pelan kala mengingat cerita cinta perawan yang berakhir dengan kegilaan. Tragis.

Kini, ketika seorang diri di rumah, Santi berniat membaca kisah dari yang tergores di tembok rumah barunya. Mumpung bapak dan emaknya tak ada. Santi bisa leluasa melakukan kegemarannya.

Santi memejamkan dua belah matanya sebelum telapak tangannya menempel di tembok. Perlahan jari-jarinya meraba. Sebentar dahinya berkerut. Sebentar menggigit bibir.

Tembok di rumah kontrakan barunya menulis tentang seorang pemuda yang mengontrak rumah itu belasan tahun silam. Seorang pemuda berkulit sawo matang yang kalau tersenyum, tampak betapa manis. Kulit wajah coklatnya yang bersih itu akan tampak berkilat-kilat bagai coklat yang lezat.

Pemuda itu datang ke kota setahun setelah meraih gelar sarjana. Bukan pekerjaan yang menjadi tujuannya. Sebenarnya ayahnya yang seorang Kepala Desa berat melepas pemuda itu ke kota. Si Anak Tunggal telah digadang-gadang menjadi penerusnya.

Akan tetapi tekad pemuda itu telah bulat. Ia ingin mengobati lukanya dengan jarak yang memisah. Jika terus tinggal di kampung, ia akan tersiksa karena gadis impiannya telah berubah. Pemuda lajang tentu tak butuh banyak ruang. Tepat jika kemudian ia memilih kontrakan mungil ini.

Santi membuang napas kesal. Cerita yang tergores di tembok lagi-lagi menggantung. Pasti ini dikarenakan pemuda itu pindah. Atau bisa juga pemuda itu pulang ke kampung menjadi penerus ayahnya.

Santi bersandar ke tembok. Rasa kesal masih menggumpal. Ia belum puas membaca. Ia masih haus rasa ingin tahu. Tembok di rumahnya terlampau sempit untuk memenuhi keingintahuannya.

Andai ia bisa leluasa jalan-jalan. Mendapati tiap tembok dan membaca kisah yang tertuang di dalamnya. Santi tak tahu sejak kapan ia mulai menggemari membaca tembok. Mungkin sejak tidak bisa melanjutkan SMP karena tak ada biaya. Santi terkucil dari pergaulan. Ia dipaksa berdiam di rumah. Mengerjakan pekerjaan rumah seperti memasak, menyapu dan mencuci. Bapak dan emaknya tak punya pilihan. Mereka harus tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Santi tak mungkin diajak ke tempat kerja.

Bapak bekerja di proyek bangunan sebagai buruh kasar. Ia tak punya keterampilan tukang. Sehingga kerjanya hanya angkat-angkat dan disuruh-suruh. Layak saja gajinya amat minim. Sedang Emaknya bekerja sebagai buruh cuci, sesekali mengasuh anak orang dengan bayaran ala kadarnya.

***

Petang merayap menuju malam. Bakda maghrib, Bapak dan emak baru pulang. Keduanya tampak letih dan kusut. Santi buru-buru meninggalkan aktivitas kegemarannya. Gegas ia menyambut kedatangan kedua orangtuanya. Menyiapkan makan malam.

“Makanmu banyak banget, Mak?” celetuk bapak kala mereka makan malam bersama. Bapak menelusur tubuh emak. Santi pun tergiring mengikuti. Matanya berselancar dari pipi gembul emak higga terperosok di perut buncitnya.

“Aku lapar. Seharian tadi hanya sempat makan sekali di rumah Pak John. Aku tak bisa makan di rumah Bu Ratna, bayinya terus-menerus rewel.”

Ah, apa iya begitu?” tanya bapak, meragukan jawaban emak.

“Kenapa Bapak menatapku seperti itu?” Emak tampak tak suka. Mungkin ia tersinggung.

“Kamu tidak sedang hamil kan, Mak? Hmm, dua bulan ini aku tak melihatmu membeli pembalut,” timpal Bapak dengan nada meruncing.

Emak tiba-tiba tersedak. Ia batuk-batuk. Buru-buru Santi menuangkan air ke gelas emak. Kasihan juga ia pada Emaknya. Kalau benar Emak hamil, tentu Santi bersuka. Ia akan punya adik. Ia akan punya teman. Sudah lama sekali ia tak punya teman.

“Aku masih ingat Mak ketika dukun di kampung bilang aku ini mandul. Jadi … jujur saja kamu hamil dengan siapa?” Bapak, murka. Tangan gempalnya menggebrak meja.

Emak terdiam. Batuk-batuknya seketika usai. Giliran Santi yang tersedak. Terbatuk-batuk. Pikir Santi, kalau Bapaknya mandul, lantas ia anak siapa? Otak Santi keruh.

“Baik. Aku akan jujur. Ini anak Pak John. Aku tidur dengannya kala Bapak dirawat inap di rumah sakit waktu terkena demam berdarah. Aku terpaksa menyanggupi karena Pak John menawari akan membayar semua biaya rumah sakit,” tukas emak tenang. Sesekali ia mengelus perutnya. Tersirat di wajahnya rasa saying, tetapi tergores pula kegetiran.

Bapak menghela napas panjang. Marahnya tampak lebih surut. Ruang berikutnya diisi hening. Tak ada suara Bapak, tak ada suara Emak. Santi pun tak berani membuka mulutnya. Semua diam dengan pikiran di kepalanya masing-masing. Sesekali hanya terdengar helaan napas berat dari ketiganya secara bergantian.

***

Emak ternyata benar hamil. Perutnya dari hari ke hari membuncit. Bapak dan emak sama sekali tidak menyinggung soal Pak John. Berjalannya waktu dan bertambahnya usia kandungan emak, bapak tampak lebih perhatian. Santi ikut lega.

“Santi, kau mau bekerja menggantikan emak di rumah Pak John?” tanya emak. Santi mengangguk. Yang ada di pikirannya saat itu hanya ia bisa membaca banyak buku lain. Rumah Pak John sangat megah dan luas. Emak pernah bercerita tentang hal itu.

“Jangan! Aku tidak setuju. Pak John itu buaya darat. Aku takut terjadi sesuatu pada Santi!” tolak Bapak tegas.

“Mulanya aku juga berpikir seperti itu, Pak. Tapi kukira Pak John masih punya hati nurani. Santi masih di bawah umur. Dia baru tiga belas tahun. Rasa-rasanya Pak John tak akan mungkin tega berbuat jahat pada Santi.”

Emak menghela napas, lalu tambahnya, “Aku memikirkan kebutuhan kita, Pak. Sejak aku berhenti bekerja, bapak tampak kewalahan. Aku kasihan pada bapak kalau terus-menerus lembur. Badan bapak bisa remuk.” Emak menatap iba pada bapak. Meski berat, akhirnya bapak menyetujui rencana emak.

***

Tangan Santi menggores tembok sepanjang pintu masuk, ruang tamu, dapur. Benar-benar rumah yang luas. Santi bersemangat menyelesaikan tiap pekerjaannya. Mencuci baju, mengepel, menyeterika. Ia ingin cepat punya waktu luang untuk membaca. Dan setelah setengah harian bekerja, Santi akhirnya mendapat kesempatan itu.

Mata Santi terpejam. Telapak tangannya menyentuh tembok. Jari-jarinya perlahan merayap mengikuti retak dan noda. Sekian menit kemudian, Santi tampak tercekat. Ia terkaget-kaget. Berbagai kemungkinan bermain-main di kepalanya. Dalam kepenasaran, ia melanjutkan membaca kisah yang masih berlanjut.

Santi berlari. Lari sekencangnya usai ia tuntas membaca kisah di tembok rumah Pak John. Ia tak menghiraukan panggilan Pak John. Teriakan Pak John justru membuatnya makin ketakutan. Ia kini tahu bahwa lewat keanehannya bisa membaca retak-retak di tembok, Tuhan bermaksud memberitahu tentang jati dirinya.

Perawan yang gila usai diperkosa Manajernya. Pemuda yang bersembunyi ke kota lantaran patah hati karena gadis yang dicintainya gila dan melahirkan seorang bayi perempuan. Oleh keluarga, bayi tersebut diserahkan kepada Manajer laknat itu untuk pertanggungjawaban. Namun kejamnya, bayi itu justru dibuang. Hingga sepasang suami istri yang sekian tahun belum dikaruniai buah hati menemukannya. Teka-teki itu terpecahkan di rumah Pak John lewat retak dan noda pada temboknya. []

Arsip Cerpen di Indonesia