FAZLUR; MELANKOLIA; HIKAYAT AUBADE

FAZLUR

.

dikutuknya ia

jadi bagian

dari keping kenangan

yang telaten

menyusun sendiri kalimat

dalam kitab birunya.

.

ia gemar menyusup

dalam denting gitar

bernada minor

karena ia percaya

bahwa rindu

adalah empedu

dari masa lalu.

.

batu ia ketuk

sunyi-sepi ia telusuk

tapi tak satu pun kuntum

bunga dijumpainya

hanya seekor camar

yang paruhnya

ditinggalkan hiruk pikuk

peradaban.

.

: sebenarnya ia mitos

yang terlahir

dari puisi tak jadi

ditulis penyair

yang berpuasa

dari sebotol vodka.

.

Cabeyan, 2021

.

MELANKOLIA

.

i/

aku adalah mereka

yang tersenyum dalam pembakaran

dengan separuh mata terbuka.

.

ii/

pada malam yang gigil

pada cinta yang tergantung

akan pekik bedil,

aku pilu.

sepi-sunyi berpulang padaku

tanpa puisi

tanpa tabung kata-kata.

.

iii/

ada yang terbanting dari masa lalu

sebagai petaka bagi revolusi cintaku.

.

anjay!

.

iv/

mungkin kau tak mendengarku

ketika kelelawar menyusu

pada cahaya bulan berkelindan

:entah telingamu terdapat

setumpuk kerikil ababil

:entah hatimu berpuasa

dari panggil.

.

v/

kini hangus sudah

kuntum mawar di bibir malam

dan bising kenangan menjelma belati

menikam berkali-kali

tubuhku yang puisi.

.

Cabeyan, Juli 2021

.

Khalil Satta Elman lahir di Sumenep, Madura, 17 Mei. Menulis puisi dengan dwibahasa, yakni bahasa Indonesia dan Madura. Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY).

.

HIKAYAT AUBADE

.

Apa yang sebetulnya diucapkan Ophelia di altar itu?

Di garde teleskop tua, sebelum ia mencari sisa-sisa percakapan

Tentang pagi yang terbaring

Atau cerita yang menusuk-nusuk kening

.

Di luar jendela, pendar cahaya mulai berdesakan

Masuk ke arah gelap ruang rumahmu

Dan kau masih bertanya-tanya

Apa yang sebetulnya diucapkan Ophelia di altar itu?

.

Di sebuah komponen aubade, bisikan tentang lagu-lagu Roman Picisan

Mulai nyaris terdengar, menggumuli konsonan hati

.

Dan apakah kau masih bertanya-tanya

Apa yang sebetulnya diucapkan Ophelia di altar itu?

Dan kau pun menjawab “ia merayakan kebahagiaannya, penghormatannya, di pagi hari”

.

Giliyang, 2021

.

Rahem lahir di Sumenep. Ia aktif di Komunitas Anak Sastra Pesantren (Asap) dan menjadi pendamping Sanggar Sareyang Miftahul Ulum. Beberapa puisinya terbit di koran dan antologi bersama.

Arsip Cerpen di Indonesia