Juragan Jeruk

BUNYI rintik hujan menyadarkan Akun. Kembali ia menikmati secangkir kopi dengan gelas kongnya yang sempat tertunda karena lamunannya. Sambil meneguk ia mengawasi karyawannya yang setia mengikutinya selama puluhan tahun. Sekadar mempertahankan hidup, bekerja memilah buah-buah jeruk dari keranjang satu ke keranjang lain. Begitu pikir anak buahnya.

Akun dikenal juragan jeruk di kota Sambas. Dia mengeluti pekerjaan ini sudah hampir 40 tahun. Sedari ia masih muda hingga memiliki dua anak yang berhasil ia kuliahkan dan mendapat pekerjaan yang sangat layak. Anak pertamanya memiliki sebuah toko elektronik yang lumayan besar di kota Sambas dengan beberapa cabang. Demikian anak bungsunya, seorang karyawan bank swasta di Singkawang. Konon anaknya mendapat promosi jabatan yang membanggakan. Rasanya belum rela meninggalkan usaha yang telah ia rintis berpuluh tahun yang lalu. Meskipun ia sudah usia lanjut tetapi semangat berkaryanya tetap hidup.

Usaha jeruk tidak hanya dilakukan oleh Akun tetapi banyak juga juragan yang lain. Namun, sosok Akun cukup dikenal di kota Sambas karena pasokan jeruknya yang berkualitas. Untuk saat ini Jeruk Sambas atau yang lebih dikenal Jeruk Pontianak (Citrus nobilis var microcarpa). Jeruk dengan bibitnya berasal dari negara Republik Rakyat Tiongkok sejak tahun 1936 ini masih menjadi komoditas unggulan. Terlebih dalam situasi pandemi, konsumsi buah sangat diperlukan.

Buah yang dikenal memiliki kandungan vitamin C yang tinggi ini banyak diminati. Bukan hanya cita rasanya yang manis dan segar tetapi dikenal sebagai jenis jeruk paling enak di bumi kebanggaan kita, Indonesia. Buah ini juga dikenal luas oleh masyarakat Kalimantan Barat hingga luar provinsi. Bahkan sampai luar negeri. Dengan harga di pasaran relatif stabil dan cenderung terus meningkat membuat masyarakat Sambas tertarik untuk membudidayakan Jeruk Siam ini.

***

Dalam kesehariannya Akun dikenal sebagai sosok yang ramah. Di mata karyawannya ia adalah orang tua yang memiliki sejuta petuah dengan filosofinya yang bijaksana. Seorang pekerja keras dan pantang menyerah.

Beliau selalu dengan ringan tangan membantu para pekerjanya di saat mereka membutuhkan pertolongan. Bila mana ada keluarganya yang sakit atau butuh biaya pendidikan anak, maka Akun siap membantu dengan cara diberikan cuma-cuma atau dipinjamkan dengan cicilan yang kecil. Hal inilah yang membuat betah para karyawannya.

“Bos aku nak ngomong,” ujar Bang Karim. Saat jam hampir menunjukan pukul empat. Waktunya siap-siap untuk pulang.

“Auk, ngomonglah,” jawab Akun. Dengan gaya khas bicaranya.

“Iye, Bos, mak martueku be masok rumah sakit, jadi aku nak…”

Belum selesai Bang Karim melanjutkan bicaranya. Akun spontan menjawab, “Kau perlu berape?” Segera Bang Karim menyebutkan angkanya. Sebetulnya ia malu pada Bos karena pinjaman beberapa waktu yang lalu juga belum ia lunasi. Namun, apa boleh buat pikirnya. Hanya kepada Bosnya ia bisa berkeluh kesah dan meminta bantuan.

***

“Secepatnye penohkan duak puloh kranjang tok i, kali itok oto Sambas-Pontianak nang angkutnye sebelom jam sembilan,” perintah Akun kepada anak buahnya.

“Jeruk A ke B yang dimintak, Bos?” tanya Ahin.

“Masing-masing be sepuloh kranjang,” jawab Akun.

Di tengah pembicaraan kembali mereka dikejutkan oleh bunyi sirene ambulans yang melintas. Spontan beberapa karyawan berlari kecil menuju ke arah jalan untuk menyaksikan hal tersebut.

“Dalam satu minggu itok be udah empat kali oto bawak korban covid,” Akun berujar lirih. Ada rasa ketakutan yang meyelimuti hati Akun meskipun tidak begitu tampak di wajahnya. Karena ia mampu menyembunyikan rasa kekhawatirannya di hadapan karyawannya. Namun, hati kecilnya merintih.

Bagaimana tidak selama ini informasi yang ia dapatkan adalah bahwa usia lanjut yang memiliki penyakit bawaan lebih rentan terhadap paparan covid. Hal inilah yang membuat hati Akun tambah kecut. Beberapa pekan terakhir memang membuat beliau tidak bisa tenang. Setiap kali ada sirene ambulans ia akan tercengang dan diam sesaat. Barangkali Akun mulai merenung. Memikirkan nasib dirinya yang sudah tua dan memiliki riwayat penyakit.

***

Usaha Akun berjalan seperti biasanya tanpa kendala yang berarti. Dia tetap menerapkan protokol kesehatan pada karyawannya. Ia juga selalu mengingatkan karyawannya untuk mengkonsumsi vitamin dan istirahat yang cukup. Akun khawatir jika ada karyawan yang terpapar covid, maka akan berdampak pula pada usaha dan karyawan lainnya. Sebab cenderung jika ada salah satu pekerja yang terpapar, maka image masyarakat akan tempat tersebut menjadi tempat yang dihindari. Pada akhirnya akan memengaruhi kesehatan dan penghasilan usaha yang melibatkan pada semua pihak.

Beberapa hari terakhir ini matahari kurang bersahabat, membuat siapa saja gerah dan malas untuk keluar rumah. Para karyawan memutuskan tetap di tempat meski jam istirahat. Demikian juga Akun, ia jarang sekali pulang ke rumah untuk istirahat. Ia lebih memilih istirahat di tempat usahanya. Sambil memenjamkan mata, Akun berbaring.

Tiba-tiba Akun sesak napas, keringatnya berlebih, dan ia nampak lemas. Secepat kilat anak buahnya menghampirinya. “Bos…ngape Bos, buka mate Bos,” teriak salah satu karyawannya. Mereka berusaha memberikan pertolongan pertama. Tubuh Akun ditopang. Namun, Akun terkulai dan tak sadarkan diri.

***

Suasana terasa lain saat si Bos tidak ada di tempat meskipun usaha tetap berjalan karena diserahkan kepada Jung Fat, karyawan kepercayaan Akun. Namun, terasa ada yang beda. Karyawan tetap bekerja meski kurang semangat. Jeruk yang akan dipasok ke Pontianak sudah disiapkan dalam beberapa keranjang. Tinggal menunggu bus langganan mereka.

“Udah nak duak minggu Bos kite di rumah sakit, yak,” celetuk salah satu karyawan.

“Sayang lalu kite daan boleh jenguknye,” ujar Akong.

“Kasian Bos i, semoge Bos bise sembuh juak,” pinta Bang Karim.

Tiba-tiba bunyi khas sirene ambulans meraung-raung. Sontak kembali para pekerja dikejutkan dengan sebuah ambulans yang melintas.

“Itok pasti covid makan korban agek,” ujar Akong.

Selang lima menit, telepon berdering. “Bos dah ninggalkan kite yak, ternyate ambulans tadek mbawak jasad Bos,” suara Jung Fat terbata-bata. Ia tak mampu menahan tangis.

Semua karyawan merasa terpukul dan sangat sedih. Bos yang mereka kenal baik hati telah mendahului mereka. Kepergian Bos menyisakan luka yang sangat perih. Memang covid tidak pernah pandang bulu. Apakah ia orang baik, tua, maupun muda. Kini juragan jeruk sudah tiada, tetapi keteladanan dan kebaikan hatinya selalu hidup di hati karyawannya. ***

Arsip Cerpen di Indonesia