RUMIN mulai bigung harus bersikap bagaimana menghadapi mertuanya, semua yang dilakukannya selalu salah. Dari awal mengenal Rumin, mertuanya tidak suka dengan dirinya. Rumin memiliki sedikit cacat pada bibirnya, biasa dibilang sumbing. Mertuanya malu dengannya, tetapi anaknya sudah terpikat dengan kebaikan Rumin.
Saat ini Rumin sudah menjadi seorang ibu, dia memiliki putri yang masih berumur lima bulan. Rumin berasal dari anak orang kaya, ayahnya terkenal memiliki lahan perkebunan kelapa sawit yang lebar. Walapun begitu dia tidak menyombongkan kekayaannya dan tetap patuh mengikuti perintah suaminya.
Bila di rumah ayahnya, sangat jarang sekali Rumin memegang alat dapur. Tapi keadaan memaksa Rumin harus siap menjadi istri yang pintar memasak. Tambah lagi sikap mertuanya selalu menuntut Rumin menjadi istri yang sempurna.
Suami Rumin bernama Jaka, dia tidak menganggap kecacatan bibirnya menjadi masalah. Mereka berkenalan karena tinggal di kampung yang sama. Banyak yang mengatakan Jaka menikahi Rumin hanya karena harta. Namun Jaka membuktikan, tidak ada campur orang tua Rumin dalam merintis kehidupan keluarga kecil mereka.
Lain dengan Ibu Jaka, harta yang membuatnya menerima Rumin sebagai menantu. Terang-terangan dikatakan mertuanya bahwa Rumin tidak akan sempurna tanpa ada embel-embel warisan ayahnya. Itulah sebabnya mertuanya tetap menerimanya menjadi menantu asal kelak meraka bisa bersama tinggal menikmati kekayaan yang diwariskan pada Rumin.
Jaka bekerja sebagai guru, penghasilannya tidaklah seberapa bila dibandingkan dengan hasil kebun ayah Rumin. Jaka juga memiliki tiga kakak laki-laki dan ketiganya juga sudah menikah. Ibu Jaka sering membanding-bandingkan menantunya dan yang paling sering dipojokkan adalah Rumin. Kakak kedua Jaka sangat dekat dengan ibunya, namun menjadi benalu baginya, karena sikapnya sering seperti musuh.
Kakaknya sering membujuk ibunya untuk megusir Jaka dari rumah mereka. Selalu ada perdebatan di antara mereka untuk mendapatkan warisan rumah orang tuanya, namun kakak Jaka tidak berkutik karena wasiat dari ayah mereka untuk memberikan rumah untuk Jaka. Jaka tetap terima diusir oleh ibu dan kakaknya, namun hak kepemilikan rumah sudah menjadi miliknya.
Jaka dan Rumin terpaksa pindah daripada terus bertahan dalam satu rumah yang tidak ada keakuran. Mereka tinggal di rumah kosong yang disediakan untuk guru-guru SD. Rumah itu sudah lama kosong, karena tidak ada guru yang tinggal di sana, mereka memilih tinggal rumah pribadi.
Rumin ikut sedih dengan kondisi yang menimpa mereka dan mengajak Jaka ke rumah ayahnya saja. Jaka tidak mengizinkan karena itu bisa membuatnya malu pada ayah Rumin. Jaka bersikeras tetap berusaha tanpa meminta bantuan ayah Rumin.
Jaka mulai heran dengan sikap Rumin yang kian hari berubah. Perlakuannya mulai tidak wajar, Rumin sering berbincang sendirian tanpa lawan bicara. Sepulang kerja Jaka melihat sudah banyak tumpukan tanah berjejer berbentuk bulat sebesar bola sepak ditambah tertancap bunga setiap gumpalan tanah.
“Apa ini, Dek?” tanya Jaka.
“Bunga, Bang, cantik kan, Bang?” Sambil tersenyum.
Jaka mulai kewalahan dengan sikap Rumin, selalu ada sikap yang tidak wajar dilakukannya. Anehnya Rumin bisa membaca ayat kursi, padahal dia tidak paham huruf hijaiyah. Banyak yang mengatakan kalau Rumin sudah gila. Parahnya lagi Rumin membagi-bagikan uang tabungan Jaka. Jaka keliling desa menanyai siapa saja yang menerima uang dari Rumin, namun tidak ada yang mengaku.
Pulang mengajar Jaka selalu langsung pulang, ada rasa khawatir karena sebelumnya Rumin pernah menimpahi anaknya dengan bantal. Di perjalanan Jaka gelisah dan mempercepat langkahnya. Dari luar rumah Jaka semakin risau mendengar anaknya menangis, dengan sigap dia berlari, ternyata anaknya sudah dicekik di ketiak Rumin.
“Mau kamu apain anak kita?”
“Digendong, Bang.”
Rumin tidak sadar atas perbuatannya, yang diketahuinya dia sedang menggendong anaknya. Jaka mulai bingung dengan keadaan Rumin, saat ditinggal kerja dia sadar sebagaimana sewajarnya. Namun, saat sepulang kerja dia sudah berubah menjadi orang aneh. Tubuh Rumin semakin kurus, dia tidak mau makan dan suka berkeliling desa. Rumin sangat suka bersih-bersih, hampir setiap sudut rumah tidak ada tersisa rumput.
Tidak ada yang tahu apa penyebab penyakit Rumin, kejiwaannya tidak stabil. Ibu Rumin menyarankan kepada Jaka untuk membawa kembali istrinya pulang ke rumah orang tuanya saja. Jaka sempat menolak saran itu, tapi ada baiknya juga untuk anaknya. Kasihan anaknya yang masih bayi tidak terawat dengan keadaan Rumin.
Banyak juga yang kasihan dengan Rumin, Jaka meminta kepada keluarganya agar tidak berdebat lagi tentang warisan rumah. Jaka menuntun Rumin kerumah ibunya, sesampainya tiba-tiba Rumin pingsan di teras rumah. Wajah Rumin sangat pucat, perutnya mengisut, dan matanya juga sudah cekung ke dalam. Setelah sadar dari pingsannya Rumin langsung meminta minum pada Jaka.
“Ada apa ini, Bang?”
“Kok rame kali, Bang?”
Banyak keluarga yang menuntun Rumin, tetapi semuanya merasa heran, karena dia sudah terlihat normal. Rumin terus bertanya, seperti lupa tentang semua kejadian. Hampir satu pekan Rumin beristirahat untuk memulihkan tubuhnya kembali sehat. Setiap ada yang bertanya tentang sikap aneh-aneh Rumin, dia menjawab tidak tahu dan tidak mengingat semuanya.
Perlahan Jaka menceritakan sikap aneh Rumin, seketika air matanya mengalir ketika dia hampir membunuh anaknya. Dilihatnya wajah mungil bayinya, betapa rasa bersalahnya dirinya pernah mencekik anaknya. Jaka menenangkan istrinya agar tidak usah mengingat kejadian itu dan dia berjanji pada Rumin tidak akan keluar dari rumah wasiat ayahnya. ***