Warisan Biyai

“RIF! Cepat ke sini.”

Terdengar teriakan biyai dari belakang rumah. Aku yang sedang menonton sambil tidur-tiduran mencoba berpura-pura tidak mendengar.

“Rif! Kamarilah, cepat!”

Sekali lagi teriakan itu terdengar, sangat mengganggu. Mau tidak mau aku harus segera menemui biyai, sebelum teriakannya semakin lantang.

“Ada apa sih, Biyai?” Tanyaku malas.

“Coba kau tengok, Niuzelan sudah melahirkan.”

Tunjuk biyai ke arah kandang sapi.

Aku bergerak malas memasuki setapak parak belakang rumah menuju kandang Niuzelan, seekor sapi belang milik Mak Katik yang dirawat oleh biyai.

Sejak kepindahanku ke kampung setahun lalu, sampai kini aku belum merasa betah. Entah karena selama ini terbiasa tinggal di kota besar atau karena harus hidup mandiri bersama biyai pasca meninggalnya kedua orang tuaku.

Ya, papa dan mama setahun lalu meninggalkanku seorang diri setelah mobil yang dikendarai oleh mereka terserempet kereta api, merubah takdirku menjadi yatim piatu. Masih tiga belas tahun usiaku kala itu.

Atas musyawarah keluarga besar, maka aku harus tinggal bersama biyai di kampung, sebuah desa kecil di kaki gunung Singgalang. Segala mimpiku sebagai remaja musnah, terkikis kenyataan pahit bahwa kini hanya biyailah tumpuan hidupku.

Di sinilah aku sekarang, berdiri di depan sebuah kandang sapi, menyaksikan seekor induk sapi menjilati bayinya yang baru lahir. Entah apa yang menarik dari proses kelahirannya sampai biyai harus berteriak girang.

“Semoga ini pertanda dicukupkan rezekimu dari Allah, untuk kuliah.” Biyai tersenyum.

“Masih lama, lima tahun lagi,” jawabku singkat sambil menepuk nyamuk yang mengelilingi kami.

Rasa kesal membuatku memilih berjalan tergesa, meninggalkan biyai seorang diri yang masih sibuk memperhatikan Niuzelan dengan anaknya.

Sorenya biyai berjalan tergopoh menyambut kedatangan Mak Katik, dengan wajah sumringah diajaknya lelaki paling kaya di kampung kami itu menuju parak belakang rumah.

Alhamdulillah, ini rezeki Biyai dan Arif. Sesuai kesepakatan kita, anak pertama Niuzelan akan jadi milik Biyai, anak kedua nanti akan jadi milikku,” ujar Mak Katik

Alhamdulillah.”

Setelah Niuzelan melahirkan, tugasku bertambah. Tiga kali seminggu aku harus mangubalo sapi untuk merumput di tanah lapang, tidak jauh dari Lubuak Mato Kuciang, sebuah tempat pemandian yang terkenal di kampung kami.

“Kau mau kasih nama siapa untuk anaknya Niuzelan itu?” tanya biyai suatu hari padaku.

“Ah Biyai, kenapa harus aku sih?”

“Rif, anak Niuzelan itu milikmu, nanti biar jadi modal untuk kuliahmu, bisa kita jual,” terang biyai.

Aku hanya mendengkus, jangankan untuk kuliah, untuk bersekolah saja rasanya sudah malas. Tanpa mama dan papa hidupku tidak lagi semenarik dulu, hampa.

“Meskipun mamakmu masih mengirimkan uang, tapi tidak mungkin kita mengharapkan itu saja. Mamakmu juga punya anak istri yang harus dinafkahi,” kata biyai dengan suara bergetar.

Sungguh aku benar-benar belum memahami keadaan ini.

Pernah suatu hari tanpa sengaja aku menghilangkan anak Niuzelan. Ya, sapi kecil itu bermain entah kemana ketika aku membawanya ke tanah lapang. Ketika sedang menungguinya merumput, beberapa orang teman mengajakku berenang ke Lubuak Mato Kuciang.

“Ayolah, Rif. Sebentar saja.” Rayu Hendri.

“Iya, Biyai nggak akan tahu kalau sapinya kau tinggalkan sebentar.”

“Jadi, sapinya biar di sini saja?” aku bertanya.

“Iya, cepat, mumpung kolamnya sepi.”

Meskipun sedikit ragu, akhirnya aku mengalah dan memilih ikut berenang. Tentu saja kami tidak perlu membayar tiket masuk karena penjaganya mengenal anak-anak yang tinggal di sekitar sini.

Puas berenang dan bermain, kami memutuskan untuk pulang. Langit mulai gelap, embun perlahan turun dari puncak Singgalang menyentuh pucuk-pucuk pohon yang menjulang, terus turun hingga menutupi kampung kami yang berada di kakinya.

Saat kembali ke tanah lapang, aku terkejut mendapati tempat pancang anak sapi tadi sudah kosong, tidak tampak apa-apa di sini.

Perasaanku seketika menjadi tidak enak, terbayang wajah biyai mengamuk marah.

“Sudah Biyai katakan, jaga baik-baik anak sapi itu. Itu harta milikmu yang kelak akan membantumu!”

Biyai menghardikku, tapi justru beliau yang menangis.

“Maaf, Biyai.”

“Kalau sudah begini, terpaksa kita menunggu dua, tiga tahun lagi. Ooo Rosna, sabarkan aku membesarkan anakmu,” kata biyai menyebut nama mama.

Aku terdiam, sungguh tidak menyangka kehilangan anak sapi bisa menjadi serumit ini.

Belum kering air mata biyai tiba-tiba terdengar langkah kaki di halaman rumah kami, disusul suara ketukan pintu.

Assalamualaikum.”

Biyai menghapus air matanya lalu membuka pintu.

Waalaikumsalam.”

“Biyai, ini anak sapi Biyai kan? Tadi si Rahmad dan kawan-kawannya mairik ke rumah, katanya dapat di tanah lapang.”

Terdengar suara Pak RT sedang berbicara dengan biyai.

Masyaallah. Arif, coba tengok apa itu memang anak Niuzelan?” perintah biyai.

Aku segera memastikan sapi kecil yang dibawa oleh Pak RT benar milik kami, dan ternyata benar. Biyai lalu memelukku sambil menangis.

“Rezekimu Rif, alhamdulillah.”

Aku semakin tak mengerti.

Biyai menangkupkan kedua tangannya di pipiku, matanya seolah menyadari bahwa aku sangat kebingungan dengan kejadian seperti ini.

“Suatu saat nanti kau akan mengerti, Nak.”

***

Waktu berjalan tanpa terasa dan tanpa jeda. Selepas kuliah di salah satu kampus pertanian terbaik di kota Bogor, aku kembali ke ranah Minang. Parak belakang rumah biyai tak lagi berisi tanaman sayur dan kolam ikan, namun sebuah kandang sapi dari kayu memanjang di salah satu sisi. Parak itu kini menjadi tempat bermain sapi-sapi peliharaan biyai.

“Biyai sudah tidak sanggup mairik sapi ke tanah lapang, kadang Biyai upah si Bujang untuk mengantar dan menjemput sapi-sapi ini,” ujar biyai pada suatu sore.

“Pak.”

Sebuah panggilan mengalihkan perhatianku dari kenangan terakhir bersama biyai.

“Bapak mau pulang hari ini juga?” tanya asistenku.

“Rencananya begitu, tapi sepertinya diundur sampai besok. Ada yang lebih penting di sini.”

Kembali kuperhatikan dokter Rina yang sedang membantu proses melahirkan seekor sapi simental milikku. Beberapa menit kemudian bayi sapi yang ditunggu-tunggu sudah tergolek di samping ibunya, disambut dengan cara menjilati tubuh mungil itu hingga bersih.

Aku tersenyum.

Seperti terdengar suara biyai berteriak dari parak belakang rumah, memanggilku untuk menemaninya melihat bayi sapi yang baru lahir.

Limabelas tahun sudah terlewati. Niuzelan tidak lagi menjadi sapi asuhan biyai, terakhir kabar kudengar dia sudah dijual oleh Mak Katik.

Di sinilah aku sekarang, di sebuah peternakan sapi seluas empat hektar dengan puluhan sapi yang terus menerus beranak pinak. Mungkin inilah doa kedua orangtuaku, juga doa biyai, yang selama ini telah menyertaiku ketika dunia rasanya tak lagi memberi harapan.

Kini aku menyadari kenapa biyai selalu bersemangat setiap kali melihat kelahiran anak-anak sapi di parak belakang rumah, karena ada sebuah harapan yang juga terlahir di sana. Harapan yang biyai pupuk dan pelihara demi masa depan cucunya, demi aku. ***

Bangkinang, 3 September 2020

Catatan

Biyai: nenek/wanita tua yang disegani

Kamari: ke sini

Parak: semak/kebun kecil

Mangubalo: mengembala

Mamak: pama/saudara laki-laki ibu

Mairik: menarik

Arsip Cerpen di Indonesia