PERJALANAN hidup memang tak bisa kita diketahui. Hal yang tak masuk di akal kini bisa terulang kembali. Doni, sebut saja, teman sekaligus sahabat yang sama-sama berjuang di bangku kuliah. Awalnya, Heru hanya kenalan biasa dengan Doni.
Heru tak menyangka bakal mengetahui kalau Doni bakal menjadi sahabat untuk selamanya. “Maaf, Anda berasal dari mana?” tanya Heru kepada Doni. Awalnya, Doni terkesan tertutup dan tak mau ambil peduli dengan kesehariannya. “Oh, saya namanya Doni, dari Pekanbaru,” cetusnya sambil berlalu.
Pertemuan pun terus berlanjut. Ternyata, Doni yang cuek membutuhkan Heru sebagai sahabat dalam beberapa mata kuliah. Maklum Heru juga memiliki kepandaian yang tak dimilikinya. Seperti memahami beberapa mata kuliah yang sulit, namun dapat diterjermahan.
Nah, ternyata Doni mulai mendekati Heru. “Kamu asalnya dari mana?” Jawab Doni yang mulai mempertanyakan keberadaan Heru. “Aah, saya dari sini juga,” jawab Heru yang pura-pura tak peduli dengan Doni. Rasa penasaran pun membuat Doni makin ingin mengenal Heru.
“Kapan saya bisa bertemu Anda,” tutur Doni kembali. Dengan santai Heru menjawab “Kapan aja bisa, asal tidak mengganggu jadwal kesibukan saya,” kata Heru. Mereka pun mulai akrab dan saling keterbukaan.
Setiap ada kesempatan mereka selalu belajar bersama dan tukar pikiran. Alhasil, prestasi yang mereka dapat pun cukup membanggakan orang tua. “Alhamdulillah, berkat ilmu yang kamu salurkan saya bisa mendapatkan hasil yang membanggakan orang tua,” kata Doni kepada Heru.
Pertemanan pun makin akbar. Baik Heru maupun Doni sudah memperkenalkan orang tua dan saudara mereka. Sayangnya, pertemanan itu harus berakhir ketika, Heru melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi.
“Maaf, saya harus meninggalkan Doni. Saya melanjutkan pendidikan ke Australia,” kata Heru.
Sementara Doni, meski tetap berada di Tanah Air, namun ia tetap mencari pendidikan yang bergengsi. Doni masuk Universitas Gajah Mada, Jogjakarta.
“Semoga pertemanan kita terus berlanjut ya,” kata Heru. Doni pun menimpali kalau dirinya akan tetap menjadikan Heru sebagai saudara meski kini mereka terpisah. “Kita tetap komunikasi ya. Tak ada kata putus dalam persahabatan kita,” tuturnya.
Selama setahun di Australia, keduanya masih saling kontak. Namun dua tahun berlalu. Komunikasi pun mulai renggang karena disibukkan aktifitas pendidikan. Heru yang mengeyam pendidikan di luar negeri kini mulai mengenal lawan jenis. Begitupun sebaliknya, Doni juga mulai jatuh cinta dengan seorang gadis desa.
Menjelang akhir pendidikan, keduanya kembali bertemu. Baik Heru maupun Doni sudah memperkenalkan calon istri mereka kedepan. “Ini namanya Sohibah,” kata[1]Doni memperkenalkan pacarnya. Begitupun Heru memperkenalkan gadis asal Australia, Alyne yang menjadi pujaan hatinya. Merekapun menceritakan persahabatan mereka yang sudah lama sejak masih duduk di bangku kuliah.
Sayangnya takdir berbicara lain. Doni tak mampu menyelesaikan pendidikan pascasarjanannya karena dipanggil Sang Khalik. Dia terkena serangan jantung saat akan kembali ke Australia. Kepergiaannya tentu membuat Heru terpukul. Apalagi, Doni merupakan sahabat yang diharapkan menjadi aspiasi ke depan.
“Semoga Tuhan menepatkan dirinya ke surga. Meski persahabatan ini singkat, namun kenangan kebersamaannya akan menjadikan semangat untuk terus meraih prestasi yang terbaik,” doa Heru kepada Doni. ***