Cinta Anak Pertama

ANAK pertama. Dia yang katanya keras, tegas, ego tinggi. Anak pertama, dia yang dipundaknya ada tanggung jawab, menjadi contoh buat adik-adik dan menjadi harapan orangtua. Anak pertama, dia yang sibuk membangun mimpi-mimpi keluarganya, sungguh tak punya waktu untuk cinta-cintaan yang tidak jelas.

***

“Nih susu cokelat favoritmu.”

Rey meletakkan minuman tersebut dihadapan sahabatnya itu.

Arin kebingungan, sebelah alisnya naik.

“Tumben baik. Dalam rangka apa nih?” tanya Airin penasaran.

“Tidak ada. Siapa tahu cokelat bisa menghilangkan rasa sedihmu!”

Airin tak bergeming. Ia terkejut bagaimana Rey bisa tahu.

“Tahu darimana Kamu?” tanya Airin.

“Ya tahulah. Kita ini sudah lama bersahabat Rin. Sifat anak pertama. Kamu itu juga kelihatan sekali.”

“Maksudnya?”

“Iya sifat anak pertama yang sok kuat, tegar, gengsi menangis. Padahal dalam hatinya rapuh dan ingin menjerit kan?”

Airin mengerutkan bibirnya. Ia ingin membantah namun sayangnya semua itu benar.

“Tahu darimana kamu? Kamu kan bukan anak pertama?” tanya gadis berkulit sawo matang itu.

“Aku kan punya kakak, Rin. Aku bisa melihat sifat anak pertama kebanyakan begitu. Kalau sedih, sedih sajalah. Ngapain di pendam-pendam, nanti jadi penyakit loh!” Rey menakut-nakuti.

Airin menghela nafas panjang.

“Bukan tidak bisa menangis atau tidak mau cerita, Rey. Aku hanya tidak mau bercerita ke sembarang orang. Takutnya masalah kian melebar.”

“Masa sama aku, kamu tidak mau cerita? Pasti tentang hubunganmu dengan Awi?” tebak Rey.

Airin mengangguk mantap.

“Kau tahu kan kami dijodohkan oleh kedua ibu kami yang berteman. Awalnya aku malas dan ingin sekali menolak perjodohan ini. Namun Aku tak tega melihat harapan orangtuaku yang ingin sekali aku segera menikah. Maklumlah anak pertama. Apalagi aku tidak punya pacar.”

“Lalu masalahnya?”

“Dengan berat hati aku berusaha membuka diri dengan Bang Awi. Kami bahkan sudah bertemu. Tapi aku tidak melihat kecocokan di antara kami. Kau tahu kan aku orangnya acuh terhadap penampilan, sebaliknya ia sangat rapi dan perfeksionis. Intinya kami berdua sangat bertolak belakang.”

“Bukankah perbedaan ada untuk saling melengkapi Rin?” tambah Rey.

“Kamu benar. Tapi ini berbeda Rey. Pelan-pelan Awi menjauhiku. Aku pun mulai gerah dan menanyakan kejelasan hubungan kami. Akhirnya tadi malam kami sepakat untuk tidak melanjutkan perjodohan ini.”

Rey menepuk keras dahinya.

“Astaga Rin. Kamu tidak sabaran sekali ya. Kenapa kamu tidak memberi Awi waktu lebih untuk berpikir. Siapa tahu ia menunggu perubahan dari kamu!” Rey memberikan pendapat dari sisi lelaki.

“Apakah satu bulan tidak cukup? Kau tahu persisi aku tak suka membuang-buang waktu. Aku tak suka dengan sesuatu yang tidak jelas dan bertele-tele. Kami sudah berkenalan lima bulan dan kuberi waktu ia berpikir satu bulan. Aku rasa itu sudah sangat cukup.”

Rey tak mampu menjawab bantahan Airin. Semua yang dikatakan Airin benar. Gadis ini kian realistis saja. Sisi tegas dan kedewasaannya kian matang apalagi semenjak sering mengalami kegagalan dalam percintaan.

“Sudahlah jangan bahas dia lagi. Terimakasih ya cokelatnya!”

Airin bangkit dari kursi dan melangkah pergi.

***

Pagi hari dikantor.

Airin tengah asyik di depan komputer kerjanya saat derap langkah Rey menghancurkan konsentrasi gadis penikmat cokelat itu bekerja.

“Rin…Rin…tolong aku Rin.”

Rey mengguncang-guncang lengan sahabat wanitanya itu.

“Duh sakit. Ada apaan sih Rey?” gumam Airin.

“Di luar sana ada perempuan kurang sehat yang ngejar-ngejar aku.”

Airin memasang wajah tidak faham. Sedangkan Rey menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Ceritanya panjang. Maaf aku baru cerita sekarang. Intinya kasus kita sama. Aku juga dijodohin sama orangtuaku dengan seorang gadis!”

“Apa?” teriak Airin terkejut. Ia kecewa Rey merahasiakan ini.

“Dengar dulu jangan marah. Aku tidak suka dengan perempuan ini. Dia memperbudakku dan mengaturku sesukanya.” Kesal Rey.

Airin menepuk dahinya.

“Dasar anak bungsu. Manja, gampang diarahkan dan kurang tegas.”

Airin melipat tangannya.

“Hey tidak semua anak bungsu begitu!” protes Rey.

“Ya sudah apa yang bisa kubantu?”

Tak berapa lama perempuan yang dijodohkan dengan Rey pun muncul.

“Rey…! OMG! Aku lelah mencarimu keseluruh gedung ini, ternyata kamu di sini. Kenapa sih nomor kamu tidak bisa dihubungi? Pesan juga tidak dibalas. Aku cemas tahu. Perempuan ini siapa?” ujar perempuan bertubuh seksi tersebut.

Refleks Rey memegang jemari Airin. Jantung Airin pun jadi berdebar.

“Ini pacarku. Maaf aku tidak bisa melanjutkan perjodohan kita ini!” ujar Rey mantap.

“Apa? Rey… apa yang kamu lakukan ini… Jahhatt….”

Perempuan itu pergi meninggalkan Rey dan Airin yang geli dengan respon lebay sang gadis.

Airin melepas genggaman jemari Rey.

“Harusnya Kamu tidak perlu berbohong seperti itu.”

Airin kembali duduk dan fokus ke depan komputernya.

“Aku tidak berbohong!”

Airin menghentikan aktivitasnya dan melirik Rey.

“Maksud kamu?” tanya Airin.

“Rin mari kita menjadi pacaran!” Rey menelan air liurnya dengan gugup.

Airin tertawa terbahak-bahak.

“Kamu salah minum obat ya? Bagaimana mungkin kita yang bersahabat akan bisa menjadi pasangan?”

“Kenapa tidak mungkin? Kita sudah lama saling mengenal hingga ke keluarga. Daripada mencari jauh-jauh, lebih baik yang ada di sekitarmu.”

Airin diam. Otaknya berpikir sangat keras berusaha mencerna perkataan Rey dengan logika dan hati.

“Aku tidak mau berpacaran! Habis waktuku untuk hal yang tidak jelas begitu.”

Rey tertawa kecil.

“Dasar anak sulung! Oke bulan depan aku bawa orangtuaku ke rumahmu!”

Airin membalikkan badannya. Hatinya bahagia namun badannya gengsi untuk mengakui.

“Bagus! Aku tunggu.” ujar Airin diikuti senyum tipis.

Rey mengacak-acak rambut Airin dengan manja.

“Dasar sulung!”

“Ihh… apaan sih. Dasar bungsu!” ***

Arsip Cerpen di Indonesia