CERITA pendek atau cerpen adalah kisahan pendek kurang dari 10.000 kata yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi. Karena relatif pendek itulah, biasanya dalam membaca sebuah cerpen hanya memerlukan waktu beberapa menit. Cerpen yang baik dan sukses tentu memiliki pesan moral dan impresif.
Antologi cerpen ‘Daff, Ron, dan Seekor Capung yang Menyimpan Dialog Rindu Kita’ karya Dody Widianto ini salah satu contohnya. Tak hanya lihai memakai analogi di setiap judul, penulis mampu mengurai kisah paket komplet, sehingga tidak ada rasa bosan saat membacanya.
Terdapat 17 cerpen di dalam antologi ini. Cerpen ‘Bangbayang (Tak) Ingin Jadi Menteri’ misalnya, menceritakan tentang keresahan seekor anjing. Berbagai pertanyaan ia ajukan pada sang ayah. Tentang siswa yang mati saat belajar dikarenakan atap sekolah yang roboh. Sang ayah menjawab itu sudah sering terjadi dan dijadikan alasan penyebab kecelakaan. Jika ia jadi menteri, gajinya akan digunakan untuk memperbaiki sekolah-sekolah itu.
Namun, ia kecewa setelah tahu semuanya. Mereka (para menteri) bisa menjelma makhluk tak bernama yang tak punya rasa belas kasih. Bagi mereka, Tuhan hanyalah wujud pelampiasan kesepian. Bukan kewajiban dari ketakutan dan ketaatan. Maka, ia tetap ingin menjadi anjing saja. (hal 23)
Judul Buku : Daff, Ron, dan Seekor Capung yang Menyimpan Dialog Rindu Kita
Penulis : Dody Widianto
Penerbit : Airiz Publishing
Cetakan : Pertama, Juli 2021
Tebal : 142 halaman
ISBN : 978-623-7657-81-1
Atau cerpen ‘Daff, Ron, dan Sungai yang Bertengkar’. Penulis mengangkat kisah yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari dengan capung sebagai tokohnya. Dua ekor capung yang kebingungan mencari tempat tinggal, sedangkan di atas bukit dibangun pabrik semen yang mana justru menghasilkan limbah dan mencemari air sungai yang awalnya jernih. Di pinggiran sungai itulah mereka tinggal, termasuk ibu dan telur-telur (benih) adiknya. (hal 68)
Selain kedua cerpen di atas, cerpen ‘Di Kolong Takdir, El Mengeja Nasib’ juga tidak kalah menggugah selera para pembaca. Menceritakan seorang dermawan bernama Dan yang membuat taman baca di bawah kolong flyover. Walau awalnya dianggap tidak sesuai dan melanggar aturan kawasan taman hijau kota, pengajuan proposalnya disetujui pemerintah kota setempat. ‘Jangan pernah mengatakan hidup ini tak adil. Kita yang akan membuatnya adil.’(hal 119)
Secara keseluruhan, antologi cerpen ini bermanfaat dan memberi pesan moral juga sangat impresif. Walau terdapat beberapa tanda baca yang seharusnya disematkan dan kesalahan ketik, namun hal itu tidak mengurangi selera saat membaca. ***