Kambing-Kambing Turun dari Langit

Cerpen Edy Firmansyah (Media Indonesia, 24 Oktober 2021)

KAMBING-KAMBING itu turun dari langit. Mereka turun seperti hujan. Tidak berdebum seperti rudal. Mereka turun seolah pasukan terjun payung. Dan, kampung itu mulai dipenuhi kambing. Orang-orang takut.

Kambing-kambing itu turun saat menjelang Maulid Kanjeng Nabi. Tapi tidak ada orang yang mau menyembelih kambing-kambing yang turun dari langit. Mereka semua, orang-orang itu, masuk ke rumah, seolah menghindari wabah. Mereka menutup pintu rapat-rapat dan berdoa, berharap kambing-kambing menghilang. Tapi kambing itu tidak menghilang. Sebab doa bukan topi sulap.

Sudah dua tahun ini Kampung Pandan dihujani kambing tiap menjelang Maulid Nabi. Telah berbagai cara dilakukan agar kambing-kambing itu tidak turun dari langit. Doa, ritual, persembahan. Orang sakti didatangkan dari berbagai pelosok, tapi tak ada satu pun yang berhasil. Kambing-kambing itu tetap turun seperti hujan. Menguasai kampung. Memakan semua tanaman sehingga kampung itu menjadi gersang.

Hanya satu orang yang begitu riang menyambut kambing-kambing itu datang. Mak Ipi. Ia keluar rumah. Menari-nari. Tubuhya telah magrib. Tapi ia terus meliukkan tubuhnya seperti ekor layangan tersapu angin. Orang-orang kampung hanya mengelus dada sambil berucap; astaghfirullah.

Kalau kau pernah melewati Kampung Pandan menjelang Maulid Nabi, kau akan menyaksikan fenomena ajaib itu. Kau boleh membawa kambing itu pulang untuk disembelih esok harinya. Seekor atau sepuluh ekor. Sebanyak yang kau suka. Tapi aku sarankan jangan. Kambing itu kutukan. Kau bisa mengembik selama hidupmu, tubuhmu akan tumbuh bulu, dan hidungmu akan semancung bekantan.

Konon, peristiwa itu akan berhenti jika Mak Ipi mati. Tapi Mak Ipi belum mati. Mencoba membunuhnya adalah tindakan yang sama sekali tak berarti. Mak Ipi tidak bisa dibunuh. Berkali-kali percobaan dilakukan, tapi hasilnya nihil. Mak Ipi masih menari-nari setiap hujan kambing terjadi. Sambil menyebut nama Allah dan berselawat.

Kau mungkin penasaran mengapa peristiwa itu terjadi, bukan? Akan kuceritakan pada kalian asal mula hujan kambing itu terjadi. Semua bermula dari peristiwa sederhana belaka. Yang mestinya bisa diselesaikan jika orang-orang saling peduli dan tidak mementingkan dirinya sendiri.

***

Hanya satu yang diinginkan Mak Ipi setiap menjelang Maulid Nabi, yakni merayakannya. Mengundang orang berselawat di rumahnya. Bertahun-tahun sejak usianya masih muda, ia berdoa di setiap salat-salat malamnya agar bisa mewujudkan niatnya itu. Ia menabung sedikit demi sedikit. Berharap ketika Maulid tiba ia bisa mengundang orang dan menyuguhkan sate dan gulai kambing.

Ketika suatu waktu Maulid sudah di depan mata, Mak Ipi memecah celengannya. Sebagai pemulung yang penghasilannya hanya sepuluh ribu hingga dua puluh ribu per hari, dengan biaya kebutuhan hidup yang setiap tahun selalu melambung, menabung adalah satu-satunya cara agar bisa menyembelih merayakan Maulid. Setelah ia menghitung hasil tabungannya, ternyata uang yang terkumpul hanya lima ratus ribu saja.

“Cukup, Bune?” tanya suaminya dari dapur sambil menghitung bekas botol air mineral yang berhasil mereka kumpulkan hari ini. Mak Ipi menggeleng lesu.

“Mungkin tidak tahun ini, Bune. Bersabarlah. Allah tahu kebutuhan hamba-Nya,” kata sang suami.

“Betapa menyenangkan seandainya ada yang mau membelikan kita kambing agar kita mengundang orang untuk berselawat, ya, Kang,” kata Mak Ipi. Suaranya datar. Nyaris melemah.

“Halah….ndak usah mengada-ada,” kata suaminya.

“Ya, siapa tahu seekor kambing turun dari langit,” sahut Mak Ipi. Suami Mak Ipi tertawa terbahak-bahak mendengarnya.

Suami Mak Ipi yang bernama Ladrak itu bahkan tertawa sambil terbatuk-batuk seperti oplet tua bermesin buruk.

“Jangan banyak berkhayal, Bune, nanti gila,” kata suaminya.

“Ih, amit-amit,” Mak Ipi mendelik.

“Tapi, ngomong-ngomong, bersabarlah. Masih ada Maulid tahun depan,” kata suaminya.

“Iya, kalau ndak keburu mampus,” timpal Mak Ipi. Memang di usianya yang sudah dibilang tua tanpa dikaruniai anak dan cucu, mati bukan hal yang menakutkan bagi Mak Ipi. Tapi Mak Ipi ingin mati seusai merayakan Maulid Nabi.

Dua hari kemudian Mak Ipi terlihat berlari tergopoh-gopoh menuju pasar hewan yang tak begitu jauh dari rumahnya. Keringat tampak membasahi bajunya.

Mak Ipi langsung mendatangi seorang penjual hewan ternak. Kepada pedagang itu, perempuan berusia sekitar 70 tahun ini bermaksud membeli seekor kambing jantan untuk dijadikan hewan kurban. Setelah mencari-cari hewan yang tepat, ia pun menanyakan harga hewan tersebut.

“Maaf, Bang, berapa ya harga kambing warna hitam ini,” katanya sambil menunjuk seekor kambing yang tampak begitu kuat dan gagah.

“Oh, yang itu. Harganya Rp1,5 juta, Bu,” jawab si pedagang.

“Bisa kurang nggak, Bang? Uangku adanya hanya Rp1,2 juta saja. Untuk merayakan Maulid, Bang,” tawarnya.

“Ya, sudahlah. Buat Ibu, saya relakan,” ujar si pedagang.

Mak Ipi langsung menyerahkan uang yang ia simpan dalam tas plastik hitam itu kepada si pedagang kambing. Si pedagang menghitung uang. Setelah pas, si pedagang pun menyerahkan kambingnya kepada Mak Ipi.

Sambil mengelus-elus kambing berwarna hitam itu, Mak Ipi bergegas memegang tali kambing itu dengan perasaan haru. Tampak matanya berkaca-kaca. Akhirnya niatnya untuk melaksanakan Maulid Nabi kesampaian. Allah benar-benar maha pengasih dan penyayang kepada hamba-Nya. Doanya terjawab tahun ini.

Mak Ipi menuntun kambingnya dengan riang. Dengan hati berbunga-bunga. Ketika sampai di depan rumah, Mak Ipi disambut suaminya dengan semringah.

“Akhirnya jadi juga kita merayakan Maulid, Bune,” kata suaminya sambil mengelus kambing hitam yang gemuk itu. Kambing itu mengembek keras sekali.

“Atas pertolongan Allah, Kang,” jawab Mak Ipi.

Dari mana kau dapat sisa uangnya itu? Bukankah harga kambing sekarang lebih dari satu juta?” tanya suaminya.

“Saat aku memulung di sebuah tong sampah, aku menemukan sebuah dompet. Aku tak tahu dompet siapa. Tak ada tanda pengenalnya. Dompet itu juga lusuh dan koyak. Seperti sudah lama tertimbun di sana. Setelah aku periksa, di dalam dompet itu ternyata ada uangnya, tujuh ratus ribu.”

“Benar-benar keajaiban, Bune,” kata suaminya. “Tapi, sebaiknya kita tidak meninggalkan kambing ini di luar. Kita taruh di dapur saja. Banyak pencuri kambing berkeliaran,” kata suaminya.

Malam begitu dingin dan penuh nyamuk. Mak Ipi belum benar-benar terlelap ketika mendengar ketukan pintu.

“Siapa?” teriak Mak Ipi dari kamarnya. Suaranya gemetar. Tangannya terus mengguncang-guncang tubuh suaminya yang tengah pulas.

“Buka pintu. Kami mau kambing itu,” kata suara di luar. Suara seorang lelaki. Nadanya berat dan dingin.

Mak Ipi kontan berteriak, yang kemudian diikuti suaminya, Ladrak.

“Maling! Maling! Tolong! Polisi, tolong! Para tetangga, tolong! Maling! Maling!”

“Teriaklah yang keras, nenek. Orang-orang telah lelap. Meski ada yang dengar pun, tak ada yang akan datang karena teriakanmu. Atau kami bantu? Baiklah, kami bantu berteriak. Malingggg! Malinggg! Polisi! Polisi! Atau kami panggil tentara? Bukankah tentara lebih hebat dari polisi? Baiklah. Tentara! Tentara, kami mau merampok!” teriak suara-suara di luar. Sepertinya tiga orang. Mereka berteriak sambil menggedor-gedor pintu rumah Mak Ipi.

Malam makin mencekam. Mak Ipi dan suaminya mulai diselimuti ketakutan. Suara orang-orang di luar rumahnya seperti teror. Mengancam.

“Kami orang miskin. Kami tak punya uang. Carilah rumah lain. Tak ada harta apa pun di rumah ini kecuali kesedihan,” kata Ladrak mencoba bernegosiasi.

“Tentu saja kami tahu kalian keluarga miskin. Dan tentara atau polisi tidak membantu orang miskin. Tapi kami mendengar suara kambing. Dan sepertinya kambing itu berguna bagi kami. Salah satu dari kalian bisa membawanya keluar dan tak akan terjadi masalah apa-apa. Jika kalian tidak mau berkompromi, kami akan mendobrak pintu dan mulai menembak,” ancam orang di luar.

Mak Ipi dan suaminya terkejut. Tiarap sambil berteriak memohon ampun. Mak Ipi mulai menangis.

“Kami semua tidak kejam. Kami hanya butuh makan. Betul, kawan-kawan?” kata orang di luar yang sepertinya pemimpin.

Orang yang lain berjawan serempak seperti kor; betulll! Kambing mengembek. Lagi dan lagi.

“Jadi, bagaimana? Kami masuk dengan mendobrak pintu atau kalian membawa kambing itu keluar?”

Mak Ipi masih terus menangis. Suaranya mulai serak. Malam dingin dan pedih. Memukul hati yang sedih.

“Baiklah, baiklah,” kata Ladrak.

Ladrak keluar kamar. Berjalan ke dapur. Melepas ujung tali kambingnya dari sebuah tiang di dapur yang terbuat dari bambu. Ia menuntun kambing hitam itu ke pintu depan. Menyerahkan kepada para perampok.

“Nah, begitu dong,” kata si pemimpin. Mereka semua mengenakan topeng. Mereka semua bersenjata. Hanya sang pemimpin yang memegang pistol. Mereka membalikkan badan. Kambing bersiap pergi.

Ladrak mendadak berlari ke luar rumah sambil berteriak meminta tolong. Beberapa tetangga terbangun. Tapi hanya mengintip tanpa melakukan suatu apa. Pemimpin rampok itu terkejut. Suara pistolnya menyalak. Ladrak rubuh dengan tubuh berlubang.

Tidak lama cahaya matahari pertama menjilati tanah, Mak Ipi berteriak-teriak, membuat para tetangga berkerumun di sekitar rumahnya.

“Lihat! Kambing-kambing itu turun dari langit. Masuk dalam rumahku. Lihat! Lihat! Allah tak pernah tidur! Allah tak pernah tidur!”

Para tetangga tertegun. Saling berpandangan satu sama lain. Kemudian membubarkan diri. Mak Ipi telah kehilangan akal warasnya. Mak Ipi gila. Para tetangga mengabaikannya.

Dan benar. Kambing-kambing turun dari langit. Mereka turun seperti hujan. Tidak berdebum seperti rudal. Mereka turun seperti daun jatuh. Menjelma wabah nan utuh. ***

.

.

Edy Firmansyah, pengarang kelahiran Pamekasan, Madura. Pemimpin Umum Komunitas Gemar Baca (KGB) Manifesco, Pamekasan. Kumpulan cerpennya yang baru saja terbit ialah Yasima Ingin Jadi Juru Masak Nippon (Cantrik Pustaka, Agustus 2021).

.

.

Arsip Cerpen di Indonesia