Cah Bagus

Cerpen AM Lilik Agung (Suara Merdeka, 24 Oktober 2021)

Februari 1997

ASPAL jalanan. Aku pada barisan paling depan memimpin ratusan mahasiswa menuju Gedung DPRD di kawasan Malioboro Jogja. Tiba di perempatan Jalan Sudirman, aparat mengadang. Tiada kesepakatan. Dorong-mendorong, kacau tercipta. Lalu pentungan menghantam.

Kawan-kawan kocar-kacir. Aku terhuyung-huyung kena hantaman pentungan. Sebelum sepatu lars mendarat ke perutku, aku membalikkan tubuh. Berlari kencang, berkejaran dengan aparat. Tersua jalan kampung. Aku berlari ke arah kiri. Sembilan puluh meter berlari, ada pintu halaman terbuka. Aku menghambur. Belum sempat aku ketok pintu, sudah dibukakan. Perempuan setengah baya.

“Masuk,” katanya. Aku menerobos masuk rumah.

“Copot bajumu!” dia menyuruhku.

“Apa?!” aku tak paham dengan perkataannya.

“Cepat, jangan banyak pertanyaan!” dia menghardik.

Aku copot baju. Dia segera memeluk diriku.

“Bedebah kau!” pintu dibuka. Senapan mengarah ke dalam rumah.

“Oh,” dia yang sedang memeluk diriku, membalikkan wajah. Menatap aparat.

“Maaf maaf.” suara aparat berubah lembut. Menutup pintu pelan. “Bukan dia!” Suara sepatu lars meninggalkan halaman rumah.

Dia melepas pelukannya. “Kau, Dimas ya?”

“Ya,” kupakai bajuku. Kuatur napasku.

“Aku sering melihat kamu berorasi pada demo-demo di kampus. Kau, pemberani, Dimas.” Dia membuka lemari es, mengambil sebotol cola dan memberikan padaku.

Kemudian aku ketahui, dia dosen Fakultas Hukum kampus swasta. Bernama Anggun Darmastuti. Aku panggil “Bu Anggun”, karena umur terpaut jauh. Aku dua puluh satu tahun, dia tiga puluh delapan tahun.

Jumat sore, empat hari setelah peristiwa itu, aku ke rumah Bu Anggun.

“Dimas!” dia terkejut mendapati aku ada di depan pintu rumahnya.

“Pulang kuliah, ingin mampir ke sini, Bu Anggun,” kataku.

Berhadapan di ruang tamu. Secangkir kopi panas. Sore yang guyub dengan aneka cerita. Kulihat jari manisnya, kosong tiada cincin. Bu Anggun selaras dengan wajahnya, terlampau anggun untuk tetap hidup melajang sampai usia tiga puluh delapan tahun. Mengapa?

Bertamu perdana ini ternyata berbuntut panjang. Ada dorongan dalam emosiku untuk berkunjung kembali ke rumah Bu Anggun. Segendang sepenarian, Bu Anggun membuka diri. Bahkan aku diberi kemewahan memakai ruang kerjanya. Aneka pamflet menentang penguasa, aku bikin dari ruang kerja Bu Anggun.

Selasa malam, keenam kali aku berkunjung ke rumah Bu Anggun. Pamflet selesai aku cetak. Jam menunjuk sembilan malam. Tiba-tiba hujan deras mengguyur.

“Menginap saja di sini, Dimas. Sofa itu cukup untuk merebahkan tubuhmu,” Bu Anggun menawarkan. Aku setujui. Setelah seharian memimpin diskusi bawah tanah, tubuh memang perlu beristirahat. Tidurlah aku di sofa depan.

Lewat tengah malam. Setengah sadar, aku merasakan tubuhku ada yang memeluk. Kutatap wajah anggun berada tepat di depan wajahku. Bu Anggun! Ah! Yang terjadi biarlah terjadi.

“Cah Bagus,” katanya kepadaku ketika pagi hari aku pamit. Lalu, kosa kata berubah sejak itu. Bu Anggun memanggilku “Cah Bagus”. Aku panggil dia, Mbak Anggun.

Garis edarku yang sebelumnya ruang kuliah dan tempat demonstrasi, bertambah satu, rumah Mbak Anggun. Kami berpelukan, terus berpelukan. Ada sensasi. Tercipta fantasi.

Kamis sore. Selesai memimpin diskusi bawah tanah, aku meluncur ke rumah Mbak Anggun. Aku ketuk pintu. Bukan Mbak Anggun di hadapanku, namun wanita tua enam-puluhan tahun.

“Mas Dimas?” tanyanya.

Aku mengangguk.

“Bibi dititipi pesan. Bu Anggun ke Eropa. Melanjutkan kuliah.”

“Kuliah? Ke Eropa?!” aku nyaris tak percaya.

Tiada selentingan, tanpa pamit. Tiba-tiba Mbak Anggun pergi nun jauh ke Eropa. Bibi tidak tahu Eropa sebelah mana. Aku telusuri ke fakultas hukum tempat dia mengajar. Sama, tiada kejelasan kabar. Hanya sepenggal berita, Mbak Anggun mengambil program doktor hukum di Eropa. Hubunganku dengan Mbak Anggun, kelar. Selesai, tiada lebih dari tiga bulan.

Juni 2010

Pengalaman sebagai aktivis mahasiswa, perusahaan pertambangan multinasional, merekrutku sebagai external relations manager. Tugasku bernegosiasi dengan penduduk lokal untuk membuka pertambangan baru. Kali ini konsesi wilayah pertambangan harus diselesaikan di meja pengadilan.

Riuh rendah penduduk lokal mendatangi kantor pengadilan. Jika dulu saat mahasiswa aku memimpin mereka, hari ini berbalik. Aku lawan mereka. Aneka kajian dari berbagai pakar yang tentu perlu uang untuk menghasilkan kajian itu, ada dalam tasku.

Sidang pengadilan berlangsung panas. Aku dengan berbagai data. Melawan kearifan lokal. Perdebatan yang menguras tenaga, dihentikan untuk rihat minum kopi. Setengah jam kemudian sidang berlanjut. Sidang mendengarkan saksi ahli yang mewakili penduduk lokal.

Aku duduk kembali di ruang sidang. Diundang saksi ahli. Nama saksi ahli disebut. Aku terperanjat. Bangkit dari kursi. Melihat saksi ahli memasuki ruang sidang. Seketika kecerdasanku runtuh. Keberanianku roboh. Dia sang saksi ahli, Anggun Darmastuti.

Sidang yang sebelumnya penuh dinamika tuntas terlalu awal. Aku tiada daya berargumen. Apalagi ketika saksi ahli itu menatapku lekat. Penuh amarah. “Apa yang kamu bela, Cah Bagus?!”

Bu Anggun, tiga belas tahun lalu menyelamatkan aku dari kejaran aparat. Mbak Anggun, memberi sensasi yang tidak bisa aku dapatkan dari siapapun. Menuntaskan sidang dengan paripurna. Kucari dia setelah sidang berakhir. Hanya bayang-bayang kujumpai. Mbak Anggun, seperti dulu, hilang tanpa jejak.

Aku sendiri tak berbilang hari mengundurkan diri dari perusahaan tambang multinasional. Kembali ke Yogya. Menekuni penulisan dan penerbitan.

Oktober 2019

Frankfurt Book Fair memberi panggung padaku untuk membacakan puisi dari buku karyaku. Bersama dengan perangkai puisi dari tujuh negara, kami bergantian membacakan puisi. Pembacaan puisi tuntas. Aku beranjak meninggalkan panggung. Baru beberapa langkah, terdengar suara lirih namun menghantam gendang telingaku, “Cah Bagus.”

Aku membalikkan badan. Dalam keremangan cahaya malam, kulihat sesosok wajah anggun di usia tuanya. Segera aku menghambur ke arahnya. Kupeluk erat tubuhnya.

“Apartemenku hanya sepelemparan batu dari sini. Sudah aku siapkan kopi hangat untukmu,” ajak Mbak Anggun.

Menelusuri Den Haagen Street, kami menuju apartemen Mbak Anggun. Musim gugur di Frankfurt, menyisakan udara dingin. Tubuhku menempel pada tubuh Mbak Anggun. Hangat adanya.

Sepanjang jalan Mbak Anggun bercerita. Setelah menyelesaikan doktor hukum, ia bekerja di kantor yang menyebabkan tinggal di berbagai negara. Antara Juli 2009 sampai Agustus 2010 berkarya di Indonesia. Sejak September 2010, Mbak Anggun tinggal di Jerman.

Dua puluh menit berjalan, kami tiba di Citadines Apartemen, tempat dimana Mbak Anggun tinggal. “Puisimu menarik. Kau sekarang jadi sastrawan, Cah Bagus,” Mbak Anggun menuang kopi.

“Baru belajar jadi sastrawan, Mbak,” aku raih cangkir kopi.

“Maaf, dulu aku merusak masa depanmu,” ucap Mbak Anggun tanpa menatap wajahku. Mengingatkan pada persidangan konsesi pertambangan.

Aku yang kemudian memandang lekat wajahnya. Pada usia enam puluh, Mbak Anggun tetap saja anggun. “Panggilanku memang menulis dan mengelola penerbitan. Bukan di perusahaan.”

Aku bangkit, mendekat ke arahnya. Kami saling bersitatap. Naluri purbaku tiba-tiba muncul kembali. Sensasi dan fantasi yang hanya aku dapat dari Mbak Anggun. Kucium pipinya. Lalu berpindah melumat habis bibirnya. Tidak lebih dari tiga menit. Kulepaskan lumatanku.

“Malam sudah terlalu jauh, Mbak. Besok pagi aku mengisi diskusi sastra di Goethe University. Aku harus mempersiapkan sebaik-baiknya. Terimakasih untuk perjumpaan indah ini,” kutatap wajah Mbak Anggun terakhir kali.

Tiada lagi berucap, aku membuka pintu apartemen. Melangkahkan kaki menuju Grand Tower, tempat aku menginap. Dua ratus meter berjalan, aku kais telepon genggam. Di Frankfurt sudah jauh malam. Di Yogya pagi merekah.

“Dita,” kulihat dari layar telepon anak semata wayangku. “Sarapan apa pagi ini?” “Nasi goreng.” Memakai baju SMP, Dita meraih tas sekolah. Berlari kecil keluar rumah. Menuju mobil dan telepon pintar Dita diberikan kepada seorang wanita ayu.

“Berangkat dulu, agak kesiangan nih. Takut kalau Dita terlambat,” wanita ayu berkata pendek.

“Dah,” tanganku melambai pada wanita ayu. Nama wanita ayu itu, Agni. Artinya, kobaran api penyemangat. Agni, istriku. ***

.

.

AM Lilik Agung, trainer dan konsultan SDM. Menulis belasan buku bisnis dan kepemimpinan. Menulis empat buku fiksi. Kumpulan cerpen terbarunya, Manusia Urban (Elexmedia, 2021).

.

.

Arsip Cerpen di Indonesia