Darah dan Cinta di Kroesen Park

Cerpen Edy Firmansyah (Koran Tempo, 24 Oktober 2021)

KALAU kau melintas di depan sebuah kastel di sekitar Kroesen Park dan mendengar teriakan memilukan seperti suara orang disiksa, kenanglah kisah ini. Sebuah kisah cinta yang penuh darah dan air mata.

Kastel di sekitar Kroesen Park itu dulu dihuni sepasang suami-istri. Mereka adalah Mariana dan Tuan Mayor Peter van Hooten. Mayor Peter merupakan komandan kavaleri Hindia Belanda yang merangkap sebagai pengawas syahbandar Kalimas. Hobinya berburu macan lantas mengawetkannya. Sebenarnya, gaji sebagai komandan tidaklah terlalu besar. Tapi ceperan sebagai pengawas syahbandar membuat pasangan itu bisa menjadi salah satu keluarga kaya. Rumah mereka besar dan memiliki rubanah. Di rubanah itulah Mayor Peter menyimpan macan hasil buruannya yang diawetkan.

Mariana sendiri seorang istri yang aktif menanam dan menjual bunga. Baik bunga segar maupun bunga kering. Sebagai istri seorang mayor sekaligus pengawas syahbandar, Mariana memiliki jaringan yang luas dan hal itu membuat dagangannya laris. Terutama di kalangan elite pemerintah kolonial. Pasangan itu kerap menjadi contoh pasangan yang ideal. Mayor Peter begitu tampan dan Mariana secantik Fientje de Feniks. Bahkan jauh lebih cantik. Sungguh pasangan yang sempurna. Meski usia mereka sudah kepala empat, kemesraan mereka seolah-olah tak pernah mampat.

Tapi setiap kesempurnaan adalah ketidaksempurnaan dalam bentuknya yang lain. Sebab, tak ada yang sempurna di bawah matahari. Termasuk pasangan Mayor Peter dan Mariana. Hampir setiap menjelang pagi Mariana selalu berperilaku aneh. Setiap menjelang pagi, ia selalu berlari dari rumah menuju dermaga Kalimas. Kadang ia berlari hanya mengenakan pakaian dalam. Dan kerap berteriak, “Cinta! Cinta!” hingga membuat para tetangganya terbangun.

Sampai di dermaga Kalimas, ia selalu hendak melompat ke dalam kali hingga para nelayan dan buruh angkut memeganginya. Tapi Mariana meronta seperti kuda binal. Ia baru tenang jika suaminya datang dan memeluknya. Lantas keduanya berjalan berpelukan kembali ke rumah. Nyaris tak ada yang tahu mengapa Mariana berbuat seperti itu. Para tetangganya menganggap Mariana mengalami gangguan tidur berjalan (sleepwalking). Sebenarnya sudah berbagai cara dilakukan Mayor Peter untuk menyembuhkan penyakit istrinya itu. Tapi tak ada satu pun yang berhasil. Perilaku aneh Mariana masih terus terjadi. Dan para tetangga makin menganggapnya lumrah belaka. Mungkin bawaan orok.

Sebenarnya ada satu orang yang menganggap Mariana gila. Tepatnya gila karena cinta. Ia adalah seorang gelandangan yang kerap duduk di bawah menara syahbandar sambil minum tuak. Pernah suatu kali ia mencoba datang ke Mayor Peter untuk membantu mengobati kegilaan yang menimpa Mariana. Tapi Mayor Peter justru mengganjarnya dengan sebuah pukulan yang membuat hidungnya patah. Setelah kejadian itu, tak lagi tampak batang hidungnya yang patah.

Tapi, sebelum ia menghilang entah ke mana, setiap malam, di warung tuak, ia selalu bercerita tentang kisah cinta Mariana sebelum menikah dengan Mayor Peter. Tapi orang-orang menganggap ceritanya sekadar karangan. Cerita orang mabuk.

“Tapi, karena ceritamu ini, kamu kena bogem Mayor itu, bukan?” kata salah seorang pengunjung warung.

“Karena dia takut pada kebenaran. Orang yang takut pada kebenaran selalu menggunakan kekerasan,” katanya.

Dan orang-orang di warung tuak itu melemparnya dengan bakpao karena menganggap gelandangan itu sok bijak.

“Tapi kalian harus dengarkan. Setidaknya sebagai pelajaran bahwa cinta juga punya kekuatan untuk menghancurkan,” lanjutnya, yang ditimpali semburan tuak pada wajahnya dari mulut seorang kelasi. Tapi dia terus saja bercerita. Sampai ia lenyap bagai koin jatuh ke dasar kali.

***

Suara riak sungai membising dalam pagi. Pelabuhan menggeliat dalam hiruk pikuk awak kapal, kuli angkut, nelayan, dan teriakan syahbandar. Angin dingin berembus kencang menggoyangkan tiang-tiang sampan yang menuding langit, yang perlahan disapu cerlang fajar. Aroma cengkeh, pala, dan lada menguar dari kapal yang baru datang sehabis mengangkut rempah dari kapal besar yang sandar. Aroma harum rempah bercampur dengan bau amis ikan seolah-olah nyawa pelabuhan untuk terus terjaga dalam arus dagang.

Di antara hiruk pikuk itu, di bawah menara syanbandar yang dingin dan sepi, tampak sepasang kekasih tengah duduk bersisian. Mereka duduk membicarakan perpisahan.

“Apakah setibanya di Banda kau akan melupakan aku, Ladrak?”

Mariana van Wijk. Perempuan Belanda berkulit seterang pualam itu membuka pertanyaan dengan nada gemetar. Separuh hatinya yang telanjur terperangkap dalam hati Ladrak, seorang pribumi yang baru saja diterima sebagai awak kapal, seolah-olah tak sudi pada kenyataan yang sebentar lagi akan membuatnya merasakan rindu yang tak bertepi.

“Tenanglah, Mariana, aku akan pulang dan kembali untukmu. Selalu. Dari sana akan kubawa segenggam pala untukmu.”

Mariana terdiam. Mengapa cinta tak pernah membuat manusia berbahagia? Mengapa setiap perjumpaan selalu mengancam perpisahan? Mariana tahu ia datang ke Surabaya, terombang-ambing di lautan Eropa, kemudian menyusuri Terusan Suez, selama seminggu, ikut orang tuanya untuk melihat salah satu keindahan Kota Hindia Belanda. Tidak untuk menjalin cinta. Tapi cinta selalu datang kepada siapa saja. Dan Mariana adalah salah satu yang dikunjunginya. Sungguh Mariana tak pernah mengerti mengapa ia jatuh cinta kepada lelaki berkulit legam ini. Lelaki berdarah Madura ini. Yang menabraknya ketika ia berkeliling di sepanjang Kalimas. Tapi apa mau dikata? Senyum Ladrak membuat Mariana berdebar. Sebuah cinta terlarang yang mungkin jika ketahuan, akan dikutuk banyak orang Eropa. Sebab, Jan Pieterszoon Coen melarang lelaki Eropa memelihara perempuan pribumi. Bahkan lelaki yang mencintai perempuan pribumi dan menikahinya dilarang pulang ke Nederland. Apalagi seorang perempuan.

Mariana sempat berpikir mengapa manusia harus pergi jauh untuk mencari makan? Bukankah Surabaya bisa memberikan segalanya? Kalimas adalah collecting center dari rangkaian terakhir pengumpulan hasil bumi di ujung timur Pulau Jawa untuk kemudian diekspor ke berbagai daerah di Nusantara, khususnya Eropa. Kalimas juga menjadi lalu lintas komoditas rempah. Melalui sampan-sampan kecil, komoditas itu dibawa masuk ke dalam kota dari Kembang Jepun hingga ke Kayon. Sebagai pelabuhan yang sibuk, tidaklah sulit untuk mencari makan. Mengapa harus ke Banda?

“Sebab, pala lebih mahal dari emas, Mariana.”

“Tidakkah bisa kau urungkan niatmu, Ladrak?”

“Apa yang kau khawatirkan, Mariana. Hanya 15 hari, tidak lebih.”

“Kapan kau berangkat?”

“Nanti siang.”

Matahari terus meninggi. Tangannya menyentuh bumi. Kukunya menusuk pori. Pelabuhan Kalimas makin ramai. Hiruk pikuk orang mencari makan.

“Sebaiknya kita pergi, atau Opas akan menembakku karena dikira menggerayangi perempuan Eropa,” kata Ladrak. Sepasang kekasih itu bangkit dari duduknya. Berjalan mengendap menghindari mata Opas, kemudian saling melambaikan tangan.

“Kembalilah utuh. Untukku,” bisik Mariana di telinga Ladrak. Sebelum berlalu, Mariana mencium pipi Ladrak.

Kapal yang menelan Ladrak telah bergerak menjauh dari bibir dermaga Kalimas. Angin berembus seolah-olah menaburkan bunga kesedihan ke udara bulan Juli yang gerah. Mariana menatap dari kejauhan, di bawah menara syahbandar, dengan haru terus mengental.

Dermaga Kalimas, bukan sekadar jeda singgah kapal-kapal jalur rempah, melainkan juga rekat cinta yang seolah-olah goyah. Sejak hari itu, Mariana mulai sibuk membunuh rindu. Ia mulai sibuk belajar menjahit, juga merawat bunga di pekarangan rumahnya sambil memandang dari kejauhan dermaga Kalimas yang mulai dikeruk.

Setelah keberangkatan Ladrak ke Banda, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Surat Keputusan No. 20 bertitimangsa 22 Mei 1908 tentang pembangunan kanal di sepanjang Kalimas dengan anggaran f. 1.322.100 yang harus diselesaikan selama dua tahun. Pengerukan menggunakan kapal keruk dilakukan untuk mempermudah kapal-kapal besar pengangkut rempah berlabuh lebih dekat dengan mulut Kalimas.

Mariana makin rajin berdoa demi keselamatan kekasihnya. Makin rajin menulis surat untuk kekasihnya tentang rindunya yang dalam serta hatinya yang kelam, meski surat-surat itu tak pernah ia kirim karena tak tahu hendak dikirim ke mana. Mariana juga mengikuti saran temannya untuk belajar berkuda kepada seorang perwira muda komandan kavaleri bernama Mayor Peter van Hooten. Mayor Peter menyukai Mariana. Segala cara dilakukan untuk menarik perhatian Mariana, tapi Mariana masih juga tidak tertarik.

“Hatiku telah tertambat kepada Ladrak,” kata Mariana mencoba jujur.

“Tidak bisakah cintamu berpaling?” tanya Mayor Peter.

Mariana menggeleng. Sejak itulah Mayor Peter membenci Ladrak dan berupaya agar lelaki itu tak pernah kembali ke Kalimas.

Bagaimana nasib Ladrak? Setibanya di Pelabuhan Banda, Ladrak justru sengsara. Ketika hendak pulang, kapalnya karam diserang bajak laut. Sedangkan upaya kembali pulang dengan kapal lain seolah-olah menghadapi birokrasi yang rumit. Ia memutuskan mencari sampingan dengan bekerja sebagai kuli angkut, membongkar-muat barang pedagang dari Eropa, Cina, hingga Gujarat, yang singgah sehari-dua hari untuk memperdagangkan hasil bumi. Sekali waktu, Ladrak nongkrong di kedai-kedai menikmati tuak. Kadang mabuk sampai pagi. Kadang mabuk sampai tak bisa bangun berhari-hari. Waktu 15 hari yang dijanjikan telah lewat. Laut kadang tak bisa berdamai dengan jadwal perjumpaan. Juga hari depan. Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Tahun berganti tahun. Sedangkan cinta masih lekat di dalam dada. Membiakkan rindu yang bagai benalu mengisap seluruh raga, menghabisi sari pati pohon jiwa.

Setelah sepuluh tahun, akhirnya Ladrak bisa kembali pulang ke Kalimas dan melihat kenyataan yang membuatnya berlinang dan hilang harapan. Setiap fajar tiba, di dermaga Kalimas, ia melihat Mariana berdiri di bibir pelabuhan seolah-olah menatap matahari terbuka, dengan tangan melambai seolah-olah melepas yang perlahan menghilang.

Kala matahari meninggi dan kapal sekunar mulai sibuk datang dan pergi, ia kemudian menuliskan kata-kata di dermaga dengan bongkahan batu bata: “Di Kalimas, mestinya tak perlu ada cemas. Tapi aku cemas, cinta. Aku cemas.” Ia melakukan itu setiap hari. Sebenarnya Ladrak ingin menghampirinya. Tapi, melihat Mariana telah menjadi milik orang lain, ia mengurungkannya.

Meski Mariana telah menikah dengan Mayor Peter, perilaku aneh itu tak juga berhenti. Setiap menjelang pagi, Mariana selalu berlari dari rumah. Kadang ia berlari hanya mengenakan pakaian dalam. Dan kerap berteriak, “Cinta! Cinta!” Jika langkah kakinya tak segera dihentikan tetangga, ia akan berlari hingga ke Kalimas dan besar kemungkinan melompat ke air deras.

Tapi perilaku aneh itu tak menyurutkan cinta Mayor Peter kepada Mariana. Orang-orang memuji Mayor Peter karena ketulusan cintanya. Tampan. Setia. Bukankah lelaki setia idaman semua wanita?

***

Di rubanah, tempat Mayor Peter biasa menghabiskan berbotol-botol bir, di antara macan-macan yang diawetkan dan botol-botol bir, tampak seorang lelaki telanjang sedang digantung mirip babi guling. Di tubuhnya penuh luka cambukan. Kedua pahanya penuh luka sayatan yang bernanah hingga sebagian tulang pahanya tampak menyembul keluar. Penis di selangkangannya juga tidak ada. Laki-laki itu masih hidup. Masih bernyawa. Setiap malam, Mayor Peter akan datang ke rubanah itu. Mencambuk laki-laki itu hingga penuh luka di sekujur badannya, lantas membiarkan luka itu membusuk karena infeksi.

Mayor Peter tampak menikmati hari demi hari ketika lelaki itu mengalami penderitaan yang sangat karena demam infeksi. Sama nikmatnya ketika Mayor Peter memotong penis lelaki itu dan meminta kokinya memasaknya sebagai tengkleng dan dijadikan menu makan malam bersama Mariana. Lelaki itu adalah gelandangan yang kerap duduk di bawah menara syahbandar Kalimas. Lelaki itu adalah Ladrak.

Hingga Mayor Peter dan Mariana meninggal, tak ada satu orang pun yang tahu kejadian di rubanah itu. Semua orang menganggap Mayor Peter adalah representasi lelaki idaman. Setia, penuh cinta, dan mau menerima kekurangan Mariana. Kisah mereka dikenang dengan indah. Kecuali rumah peninggalannya. Kata orang, rumah peninggalan Mayor Peter itu berhantu. Setiap malam, kerap terdengar teriakan orang kesakitan seperti disiksa. ***

.

.

Edy Firmansyah, pengarang kelahiran Pamekasan, Madura. Pemimpin umum Komunitas Gemar Baca (KGB) Manifesco, Pamekasan. Buku kumpulan cerpen terbarunya yang telah terbit adalah Yasima Ingin Jadi Juru Masak Nippon (Cantrik Pustaka, Agustus 2021).

.

Darah dan Cinta di Kroesen Park. Darah dan Cinta di Kroesen Park. Darah dan Cinta di Kroesen Park. Darah dan Cinta di Kroesen Park. Darah dan Cinta di Kroesen Park..

Arsip Cerpen di Indonesia