Cerpen Hilmi Faiq (Media Indonesia, 07 November 2021)
TAGATA mendapati seraut wajah itu di antara kerumunan pasar. Wajah yang belum pernah dia temui di alam nyata, tetapi tak asing lagi. Wajah dengan rahang kukuh, bibir tipis tanpa kumis, dan tulang pipi sedikit menonjol itu selalu dia ingat. Apalagi sorot matanya. Iya, sorot mata yang mengingatkan dia pada sebuah perjanjian. Meskipun lehernya berbalut syal dan hampir seluruh rambutnya tertutup topi pandora, Tagata yakin tak salah mengenalinya.
Pria pemilik wajah itu melempar senyum dari radius sepelepasan anak panah dan Tagata makin yakin dia orang yang sama. Buru-buru Tagata membereskan meja, mengemasi uang receh di balik kain penutup meja, lalu berbisik kepada pembantunya, Amang, untuk segera turut berkemas. Namun, rupanya pria pemilik wajah sudah terlampau dekat untuk dia hindari dan bahkan kini berdiri tepat di depan meja dagangan Tagata.
“Hari masih terlampau siang untuk beberes. Adakah yang mendesakmu untuk segera pergi dari pasar ini?” sapa pria itu sembari menghias wajahnya dengan seulas senyum.
Ah, Tagata mengenali suara khas ini. Suara sedikit bariton dengan aksen sangau yang selalu mengingatkannya kepada tokoh-tokoh penuh dendam dalam film laga. Tagata terpaku karena bingung harus merespons seperti apa atas pertanyaan pria yang begitu dikenalnya, tetapi tak ia ketahui namanya itu.
Tagata masih mematung dengan tatapan seperti pria lajang yang sedang menggaruk selangkangan dan kepergok gadis idamannya.
“Halah, santai saja. Kau ingat aku, ya?”
“Iya, iya,” jawab Tagata gugup.
“Apa kabarmu hari ini?”
“Aku baik-baik saja.” Tagata mulai bisa menguasai diri.
“Syukurlah.”
“Kenapa kamu datang sekarang? Apakah sudah waktunya? Setahuku masih lama. Bahkan lama sekali.”
“Sudah aku bilang, santai saja. Perjanjian kita aman.”
“Kamu sering menemuiku, tetapi aku tak pernah tahu namamu.”
“Ha… ha… ha… Berapa banyak wajah yang kau simpan dalam ingatan, kau ingat dengan baik, tapi kau lupa namanya? Banyak sekali. Untuk apa aku memberi nama diriku untukmu jika kelak kau akan melupakannya.”
“Kalau begitu, aku memanggilmu apa?”
“Biasanya, orang yang memanggilku hanyalah mereka yang putus asa dengan segala kekalutan di dunia. Apakah kau sehancur itu kelak?”
“Aku tak pernah tahu masa depanku. Tapi, aku perlu tahu namamu untuk memudahkan menuliskan cerita hidupku.”
“Aku, sih, yakin kau masih punya cukup waktu untuk menulis banyak cerita. Tapi aku tak yakin kau akan mengingat namaku meskipun berulang aku sebutkan.”
“Kamu terlalu berbelit untuk urusan sesepele menyebutkan nama.”
“Ha… ha… ha… Aku senang kau makin berani berdiskusi, tak seperti pada pertemuan-pertemuan kita sebelumnya: kau selalu gemetaran. Aku Ingerul Mortii. Panggil saja aku Inger.”
Pria itu membalikkan badan, mengangkat telapak tangan kanan sejajar kepala sebagai tanda perpisahan. Tatapannya berserobok dengan Amang yang sibuk hilir mudik mengemasi dagangan Tagata.
***
Amang masih belum paham betul alasan majikannya meminta dia berkemas dan membawa seluruh tabungannya. Dia hanya tahu hendak pergi jauh, sejauh mungkin dari tempatnya tinggal sekarang.
“Kita akan menyeberangi lautan jauh ke selatan.”
“Ke mana, persisnya, Tuan?”
“Ke Nauru.”
“Di mana itu?”
“Negara kecil yang indah dan damai, di dekat Australia. Kamu tidak akan menyesal meskipun seandainya harus mati di sana.”
“Mengapa Tuan menyebut-nyebut kematian? Bukankah kita hendak bersenang-senang?”
“Benar. Kamu benar. Maafkan aku. Kita akan bersenang-senang.”
Sepanjang perjalanan menuju Nauru, Tagata berkisah tentang mimpi-mimpinya. Hampir sepekan sekali dia bermimpi bertemu Inger. Mimpinya bisa berubah tempat dan waktu. Kadang Tagata bermimpi tengah berada di tengah gurun pasir didera kehausan yang amat sangat, lalu Inger datang entah dari mana dengan membawa setangkup air. Seketika Tagata merasa hidup kembali.
Di lain mimpi, Tagata berada di tengah laut terombang-ambing gelombang samudra berselimut kabut yang seolah siap menelannya. Tagata yang hanya berpedoman pada sebatang pohon pisang merasa hidupnya tak lama lagi. Lalu, dari balik kabut samudra yang misterius itu muncul sampan dengan seorang pria yang sekuat tenaga mendayungnya. Dialah Inger. Inger kemudian menarik tangan Tagata dan membawanya ke tepi pantai bermandi sinar matahari dan berderet beragam pohon berbuah tak jauh dari sana.
“Setiap bermimpi bertemu Inger, bisa dibilang selalu berakhir indah.”
“Lalu kenapa kita harus menghindarinya?” tanya Amang heran.
“Dalam setiap mimpi itu, Inger selalu berpesan bahwa tugas dia adalah mengawal dan mencabut nyawaku. Tapi, dia tidak pernah memberi tahu kapan dan di mana tugas itu akan dia tunaikan.”
Amang bergidik.
“Dia juga pernah berpesan bahwa jika suatu hari aku melihatnya di dunia ini, berarti akan ada nyawa yang hilang,” lanjut Tagata.
Amang menelan ludah dan wajahnya seketika masygul. Dia membetulkan tempat duduk lalu pandangannya menerawang membayangkan banyak hal ngeri.
***
Di Nauru, Tagata dan Amang mudah sekali menemukan tempat dan hidup layak. Dengan modal hasil bekerja di negerinya dulu, sangat cukup untuk membuka usaha baru di Nauru. Kelihaian mereka berdagang menjadi keterampilan langka di sana karena warga Nauru terbiasa hidup enak dengan penghasilan memadai dari tambang. Tagata dan Amang bahagia bisa ikut menikmati kehidupan yang nyaman dan aman itu. Mereka bahkan berhasil membeli kedai kecil di pusat perbelanjaan.
Apalagi alam Nauru sungguh elok. Jauh lebih elok dari negerinya yang gersang dan kerap terjadi bentrok. Tagata dan Amang merasa lari dari neraka dan menemukan surga. Berbulan-bulan mereka menikmati hidup tenang dan mapan. Namun, hidup tak pernah selamanya baik-baik saja, selalu ada hal-hal yang membuat khawatir dan akhirnya merusak ketenangan.
Pagi baru datang membawa angin semilir dan sinar lembut dari timur. Amang baru saja membuka kedai ketika desir angin membelai wajahnya. Matanya memicing disapa sinar matahari. Beberapa menit kemudian Tagata datang membawa dua bungkus roti untuk sarapan. Sembari menunggu pelanggan, mereka menikmati pagi dengan roti dan secangkir kopi.
Menjelang suapan terakhir, Tagata mematung. Sisa roti yang dia pegang membeku di depan mulut. Matanya memandang lurus ke arah matahari terbit. Di kejauhan sana, terlihat siluet seorang pria berjalan mendekat. Tagata tahu, itu Inger.
“Ada urusan apa kamu ke sini?” todong Tagata begitu Inger masuk kedainya.
“Urusanku banyak. Salah satunya memastikan kau baik-baik saja,” balas Inger sembari menarik kursi dan duduk tanpa menunggu dipersilakan.
“Apa ini berarti waktuku sudah dekat?”
“Bukan hakku untuk memberi tahu.”
“Paling tidak, tolong kasih tahu aku jika memang ini belum waktuku.”
“Maaf, kawan. Bukan begitu cara kerjanya.”
***
Meskipun nada bicara Inger amat santun dan lembut, tetap saja itu mengguncang ketenangan Tagata. Kehadiran Inger selalu merujuk kepada ingatan tentang kematian. Itulah yang mendorong dia mengajak Amang pindah jauh ke timur meninggalkan Nauru. Amang sempat menolak lantaran sudah terlalu nyaman di Nauru.
“Tuan, kenapa kita harus lari lagi? Lagi pula, apakah kita memang bisa lari dari kematian?”
“Selama kita menjauh dari Inger, selama itu pula kita selamat,” jawab Tagata sekenanya karena tak menduga mendapat pertanyaan itu dari Amang.
“Jangan-jangan dia juga akan mengikuti kita di tempat baru nanti.”
“Aku sudah mencari tahu dan menemukan tempat yang ramai. Semoga Inger kesulitan menemukan kita.”
“Baiklah, saya ikut saja. Saya malah senang bisa keliling tempat-tempat indah.”
Setelah menempuh sebulan perjalanan dengan kapal laut, sampailah mereka di sebuah kota di lereng gunung di Tiongkok. Kota ini amat ramai baik siang maupun malam. Penduduk kota seolah tak pernah libur. Tagata sengaja memilih kota ini dengan maksud mengecoh Inger agar dia kesulitan menemukannya di tengah jutaan orang.
Tiga bulan, lima bulan, tujuh bulan, sembilan bulan setengah, hidup mereka baik[1]baik saja. Mereka membuka kedai makan dengan menu khas bebek panggang. Di sebelah kedai mereka, berdiri kedai buah. Kali ini musim durian, tapi bukan sembarang durian. Durian langka yang hanya ada di pegunungan situ.
Amang tergoda oleh aroma harumnya. Ia menunjuk durian seukuran kepala bocah. Pemilik kedai membantu membukanya dan segera menguar aroma wangi begitu terlihat buah kuning tembaga.
Amang segera mencolek buah lembek itu dan meletakkannya di ujung lidah. Tanpa sadar matanya terpejam mencecap sensasi rasa yang baru kali ini dia temukan. Seperti tapai, tapi jauh lebih manis, lebih gurih, dan lebih lembut. Amang mencolek lagi dan sekali[1]kali membiarkan buah itu diam beberapa saat di tengah lidahnya yang dia kurung dalam mulut mengatup. Hidungnya menangkap aroma wangi tiada tara. Seketika itu Amang menyimpulkan inilah buah paling nikmat yang pernah dia rasakan.
“Menikmati durian itu paling top dengan mengambil serta bersama bijinya lalu mencomotnya perlahan,” si penjual durian memberi saran.
“Begitukah?”
“Coba saja. Bila memungkinkan, bisa sekalian mengulum bijinya sampai bersih.”
Amang mencoba kedua cara itu. Benar belaka. Durian berlemak itu begitu nikmat memenuhi mulut. Lalu dia mengulum biji durian itu, tapi pemilik kedai rupanya lupa bahwa untuk mengulum biji durian butuh keahlian tertentu. Bila tidak, bisa berakhir celaka seperti Amang saat ini, matanya melotot dan kesulitan bernapas. Tampaknya dia tersedak biji durian.
Pemilik kedai segara bangkit dan memeluk Amang dari belakang lalu menyentakkan dekapannya dengan tujuan menghasilkan dorongan dari rongga perut agar biji itu segera keluar dari kerongkongan. Gagal.
Amang memegangi lehernya dengan wajah memerah, lalu membiru dan mata kian melotot. Tagata yang ikut panik melihat itu segera membantunya dengan segala cara, termasuk cara-cara yang tidak pernah dia ketahui. Dia masukkan jemarinya ke dalam kerongkongan Amang mencoba menarik biji durian yang terlihat sebagian itu. Sial. Biji itu justru melesak masuk.
Pemilik kedai durian tak memperhitungkan jika ukuran biji durian itu terlampau besar untuk rongga kerongkongan Amang. Dia lupa untuk memberi tahu agar Amang mencoba buah yang kecil atau sedang saja. Terlambat sudah.
“Biarkan saja. Sia-sia kalian menolongnya.” Tiba-tiba terdengar suara yang sangat akrab di telinga Tagata.
Entah sejak kapan Inger berdiri sembari menyandarkan bahu kirinya ke pintu kedai dan kaki kanannya menyilang bertumpu pada kaki kiri sambil bersedekap. Senyumnya tengil seperti penjudi yang baru saja menang taruhan.
“Jangan berdiri saja di situ. Bantu dia!” hardik Tagata.
“Tak ada gunanya,” kata Inger sembari melangkah pelan.
Amang meregang nyawa lalu lemas tanpa tanda-tanda kehidupan. Tagata masih kebingungan menyaksikan peristiwa yang singkat itu. Sebaliknya, Inger tetap tersenyum cerah. “Satu tugasku sudah selesai.”
“Apa maksudmu?”
“Sesuai perjanjian, ia memang harus mati di sini, saat menyantap buah paling nikmat di dunia.”
“Jadi, yang selama ini kamu incar bukan aku?”
“Siapa bilang aku mengincar kau?” ***
.
.
Cibubur, 13 Januari 2021
Hilmi Faiq, penulis. Buku kumpulan cerpennya, Pesan dari Tanah, terbit Desember 2020. Adapun buku kumpulan cerpen berikutnya, Pemburu Anak, segera terbit tahun ini.
.
Bayang-Bayang Kematian. Bayang-Bayang Kematian. Bayang-Bayang Kematian. Bayang-Bayang Kematian. Bayang-Bayang Kematian. Bayang-Bayang Kematian.