Cerpen Teni Ganjar Badruzzaman (Kedaulatan Rakyat, 05 November 2021)
MALAM itu, Sum baru saja merebah di pembaringan ketika tiba-tiba terdengar pintu rumahnya digedor bekali-kali.
“Cepat buka pintunya!” teriak seorang pria.
“Sebentar!” sahut Sum. Ia berjalan tergopoh-gopoh sambil menggelung rambut yang sebelumnya dibiarkan tergerai.
Engsel berderit. Daun pintu terbuka. Sum tersenyum melihat sosok sang suami yang sedari tadi tengah ditunggunya.
“Lama sekali!” bentak Darsa seraya melangkah masuk tanpa membalas senyum istrinya. Wajahnya tampak kusut. Bau keringat bercampur bau pakan ternak segera menyeruak di penciuman Sum.
Darsa menghempaskan tubuhnya di atas kursi. Sementara Sum pergi ke dapur, menyeduh kopi kesukaan suaminya. Sum mengerti, lelaki yang baru dua tahun menjadi pendamping hidupnya itu sedang amat penat. Berhari-hari Darsa uring-uringan. Sering marah-marah tak karuan. Penyebabnya, tak lain dan tak bukan adalah karena anjloknya harga jual telur ayam di pasaran.
Sebagai peternak ayam petelur, sebulan belakangan ini Darsa dirundung kerugian bertubi-tubi. Bagaimana tidak? Sekarang ini, harga telur per kilo hanya lima belas ribu. Padahal untuk mengejar biaya pokok produksi, setidaknya harga telur harus sembilan belas ribu per kilo. Maka, mau tak mau Darsa harus merogoh kocek pribadi untuk menombok semua itu.
Namun, sampai kapan? Jika terus merugi begitu, tak bisa dihindari, risiko gulung tikar amatlah besar.
“Minum dulu, Mas.” Sum meletakkan gelas kopi di hadapan suaminya. Darsa menegakkan badan, meraih kopi yang masih mengepul, menghidu aromanya dalam-dalam dengan mata terpejam. Bagi Darsa, hanya aroma kopi bikinan Sum yang mampu membuatnya sejenak melupakan beban yang bergulung di kepalanya.
Sum hanya tersenyum tipis. Ia belum berani bersuara. Meski sebenarnya banyak pertanyaan yang menggelembung di benak Sum tentang kabar peternakan milik suaminya itu.
Setelah puas menyesap aroma kopi, Darsa kemudian meniup-niupnya beberapa kali sebelum menyeruput kopi itu perlahan.
“Kalau sampai bulan depan harga telur masih anjlok begini,” kata Darsa memulai obrolan. Kedua tangannya mengepal gelas kopi. “Sepertinya, kita harus mulai mempertimbangkan penawaran yang tempo hari disampaikan orang tuamu.”
Mendengar ucapan suaminya, seketika Sum menahan napas. Beberapa saat ia terdiam. Mencoba meyakinkan diri bahwa kata-kata itu benar-benar keluar dari mulut suaminya.
Padahal waktu itu, saat orang tua Sum meminta Darsa untuk mengurus salah satu usaha grosir kelontong milik mereka, ia langsung menolaknya dengan tegas. Ia memilih meneruskan usaha ternak ayam petelur yang telah dirintisnya sejak masih bujang. Meski, jelas-jelas penghasilannya sangat jauh jika dibandingkan dengan keuntungan grosir kelontong itu.
Bagi Darsa, harga diri sebagai seorang suami lebih penting dari segalanya. Dan Sum amat mengerti itu. Maka, ia pun rela meski harus meninggalkan segala kemewahan sebagai anak orang terkaya di kecamatan itu, dan memilih hidup sederhana bersama suaminya.
“Kamu jangan pesimis gitu, Mas.” Sum menyandarkan kepala di bahu Darsa. “Aku yakin, keadaan akan lekas membaik.”
Darsa menggeleng seraya tersenyum getir. “Kau tahu, Sum? Peternak sekelas Juragan Mardi saja, sekarang mulai ngap-ngapan. Apalagi peternak kecil-kecilan macam suamimu ini.”
Hening.
Dua insan itu bergeming, larut dalam pikirannya masing-masing.
“Sampai kapan kau akan bertahan hidup susah seperti ini bersamaku?” tanya Darsa setelah beberapa saat.
Tak ada jawaban. Sum hanya mengeratkan rangkulannya di pinggang Darsa.
Darsa kembali menyeruput kopi yang mulai dingin itu hingga tandas dan hanya menyisakan ampas. Diletakkannya gelas kosong itu di meja. Tangannya mulai mengelus-elus perut Sum yang semakin hari semakin membesar. Kata bidan, jika sesuai perkiraan, Sum akan melahirkan bulan depan.
“Anak ini pasti bangga punya Bapak yang penyayang juga pekerja keras sepertimu, Mas,” kata Sum dengan suara bergetar.
“Meskipun, bapaknya ini hanyalah seorang laki-laki cacat?”
“Sebab itulah, kau akan menjadi seorang bapak yang istimewa.”
“Benarkah?”
“Ya!”
“Lantas kenapa matamu malah berkaca-kaca?” Darsa menatap wajah istrinya lekat-lekat.
“Sebab aku bahagia.”
Bibir Darsa merekah sempurna. Dikecupnya kening Sum penuh kasih sayang.
Sum bernapas lega melihat sang suami akhirnya bisa tersenyum juga, setelah belakangan ini hanya terlihat bermuram durja. ***
.
.