Pertempuran 3 Jam di Betulu

Cerpen IGB Sudharma (Radar Banyuwangi, 06 November 2021)

(Untuk Negeriku Indonesia: “Selamat Hari Pahlawan”)

“NUNG, aku mau gerak badan di samping rumah, yuk ikut,” ajakku pada Nung, istriku. Gadis dari Desa Benculuk, Kecamatan Cluring yang memikat hatiku sejak sebelum aku dinas di kesatuan polisi. Raut wajah yang cantik dan perilaku serta ibadahnya yang baik, sekaligus sabarnya yang menuntunku selalu bisa menata hati dalam berbagai macam situasi hidup yang kami hadapi.

“Aku sedang tidak enak badan, malu dilihat tetangga.” Jawab Nung yang memang beberapa hari terlihat lebih banyak tiduran daripada beraktivitas. Dengan sedikit memaksa, kurayu ia agar mau menemaniku olahraga di samping rumah. Nung pun menuruti permintaanku, meski hanya sekadar duduk dan berjemur.

Sekitar satu jam kami beraktivitas di samping rumah yang kebetulan bersebelahan dengan rumah putra-putri kami. Cucuku yang kebetulan berada di teras rumah, ikut menemani kami. Senyum Nung tampak ceria, membuat hatiku senantiasa dilanda cinta tiap hari. Saat ini, dia sedang rindu pada salah satu putra kami. Memikirkan hal itu, membuat Nung sedikit gelisah dan jatuh sakit.

Setelah aku merasa lelah berolahraga, kuajak Nung untuk masuk ke dalam rumah. Ia pun mengajak kami sarapan. Pagi itu, untuk kesekian harinya, kami sarapan di kamar. Sebab Nungku yang manja sedang tidak berdaya dan aku menyuapinya agar kami bisa makan bersama. Tidak begitu banyak dia makan, karena perutnya terus saja mual. Alhamdulillah, sarapan Nung pagi ini sedikit lebih banyak dibanding tadi malam. Usai sarapan, kami melanjutkan perbincangan ringan.

“Mas, ceritakan tentang saat kau sedang bertempur di Betulu,” ucap Nung. Ia memang paling suka aku bercerita tentang masa laluku saat berdinas di berbagai wilayah nusantara di Indonesia. Untuk membela Tanah Air dan mempertahankan kemerdekaan, memang aku sering berganti-ganti wilayah bertugas.

Saat ini aku sudah purnatugas, putra-putri kami sudah berkeluarga semua. Sehingga kami tinggal berdua saja. Meski berbagai cerita tentang pertempuranku di berbagai wilayah sering kuceritakan, Nung tidak pernah bosan mendengarkannya. Justru dia sering memintaku untuk terus bercerita sesuai dengan keinginannya.

“Iya, Nung,” jawabku sambil mengusap wajahnya, keriputnya tidak pernah memudarkan kecantikan wajahnya.

Saat itu, tampak dari Desa Betulu mentari mulai masuk ke paraduannya meninggalkan bias merah semburat kuning kemilau di balik Gunung Aidire. Kami satu peleton satuan tugas tempur KIE 34 BS yang bertugas di Timur Kupang NTT saat itu ditugaskan menjaga pintu masuk Kabupaten Belu, tepatnya di Atambua.

Kami tidak sendiri, 3 kilometer di sebelah kiri kami ditempati satu peleton pasukan Yon 743 yang diperkuat dengan dua regu hansip bersenjata dan terlatih. Sedang 4 kilometer di sebelah kanan kami ditempati Batalyon Brimob Pelopor. Wilayah pengamanan kami dari Desa Gapala, Weluri, Kewar, sampai dengan Lakmaniu. Kesatuan pengamanan saat itu dipimpin oleh Peltu Y. Malela sebagai Komandan Pos (Danpos) pertahanan di Lembah Gunung Aidire.

Nama “Atambua” sendiri berasal dari kata Ata yang artinya hamba dan Buan yang artinya suanggi. Suanggi merupakan roh para penyihir atau orang berilmu dan suka mengganggu masyarakat. Atambua dapat diartikan sebagai tempatnya hamba-hamba suanggi pengganggu masyarakat yang dibuang oleh para raja. Kemudian dalam perkembangannya, kata Atabuan mengalami penyisipan fonem “m” dan fonem “b”  oleh masyarakat sekitar sehingga Atabua dalam kelancaran ucapan menjadi Atambua.

Lepas makan malam, kami mendapatkan arahan dari Danpos agar kami meningkatkan kewaspadaan. Melihat situasi yang sejak kemarin pagi tidak ada tanda-tanda penyerangan dari musuh, maka Danpos memutuskan malam ini tidak ada patroli malam. Lega rasanya, bisa sedikit melonggarkan tulang belulang yang sudah seharian berjaga dalam posisi berdiri. Aku pun memasuki bivak atau disebut juga pillbox yang merupakan pertahanan berupa ruang di antara parit. Pejuang seperti kami, tidak banyak mempunyai kesempatan untuk beristirahat di tempat tidur, langitlah atap kami, dan tanah sebagai alas untuk tidur.

Terdapat 3 pillbox yang masing-masing ditempati satu regu. Setiap regu terdiri dari lima orang dengan pengamanan senjata S.M.R. Tim satu dipimpin oleh Bapak J.B. Dias, tim dua dipimpin oleh Bapak Joni Manungga, dan tim tiga dipimpin oleh I Nyoman Wedha. Sedangkan di pos induk langsung di bawah pimpinan Bapak Y. Malela yang ditambah pula satu orang kesiap dan satu orang caraka. Pos Induk diperkuat dengan persenjataan lebih berat yakni L.M.G dan Bren 1 MK3 dengan pasukan total berjumlah 40 orang.

Waktu sudah menunjukkan pukul 00.00 WITA, lolongan anjing di kejauhan membuat suasana malam yang dingin semakin terasa lebih mencekam. Tidak banyak perbincangan di pillbox satu tempatku berjaga. Kami diam dengan pikiran masing-masing. Begitu juga denganku yang mengambil posisi jaga sebelah kanan pojok. Sambil tetap siaga memandang tajam ke depan, anganku melayang dan terlintas senyum ibu dan kakak-kakakku yang senantiasa memberikan doa serta semangat dalam setiap langkah juangku. Teringat jua wajah ayahku yang sudah berada di pusara. Senyum dan kewibawaannya memacu semangatku agar aku menjadi lelaki sejati, pantang menyerah, dan bisa menjadi bagian dari perjuangan tanah air Indonesia. Pesan beliau, menjadi manusia harus trengginas, tak banyak ragu dalam mengambil keputusan. Dan mati dalam bertugas membela negara, sama halnya dengan mati dalam keadaan jihad.

“Sedetik berikutnya terlintas bayangan kekasih, Nung,” ucapku sambil kupencet hidung mbangir-nya. Nung tampak sedikit sewot seolah marah sambil berkata, “Mulai nggombal.” Kami pun tertawa. Melihat Nungku tertawa lepas, hatiku sangat gembira. Aku tahu kami berdua sudah berusia senja, kapan pun maut akan menjemput. Sehingga komitmen yang kami jaga, adalah bagaimana setiap hari selalu bahagia, mencari pahala, berdoa, dan selalu ceria. “Lanjutkan ceritamu, Mas,” pinta Nung sembari mencubit kecil tanganku yang sedari tadi duduk di sampingnya.

Dalam termenung, kala itu aku berdoa, “Ya Allah, lindungilah kami semua, lindungilah tanah air ini, kerja kami belum selesai, tak ingin kami mati muda, tanah air ini masih membutuhkan jiwa-jiwa kesatria yang rela korbankan nyawa untuk kemerdekaan Indonesia.” Tak terasa berlinang air mataku, sampai kemudian terdengar letupan senjata dari berbagai penjuru. Aku dan teman-temanku segera membalas serangan mortir GK. Di tengah pertempuran yang sangat sengit, pasukan Antoni Saburaka datang membantu kami dengan 40 pasukan khasnya bertelanjang dada. Kabut membuat pandangan kami tidak fokus, namun tembakan, teriakan, semangat, sekaligus jatuhnya korban bercampur aduk membuat kami terus bergerak untuk menguasai medan pertempuran.

Danpos Malela memerintahkan dengan sigap menyerang dari lambung sebelah kiri, “IGB Sudharma, Riyanto, Madi, Nyoman Raos, Casmas, dan Goris segera pindah posisi!” Kami bertujuh dengan cekatan meloncat dari pillbox dan bergerak dengan panduan Bapak Malela. Hanya kilatan senjata dari arah lawan yang menjadi panduan kami menembak. Di sisi lambung kanan tetap bertahan di pillbox sebagai pertahanan. Terdengar dari pos induk sudah bisa dikuasai oleh pasukan kami. Sedang bagian depan kami terus bergerak cepat menyusuri jalan licin dan berkabut. Tembak-menembak semakin gencar, begitu juga dengan adu mortir.

Menjelang dini hari, sebagian pasukan Antoni yang terus berada di posisi bayang-bayang di belakang kami, merangsek maju bergabung dengan tim kami. Kami terus mendekat ke barisan musuh. Musuh tidak menyadari taktik kami, seolah kami tetap berada di pillbox. Saat jarak kami sudah dekat dengan musuh, kami menyerang dengan taktik gerilya yang fleksibel dan sunyi. Pasukan musuh kocar-kacir seperti melihat hantu. Saat situasi sudah bisa kami kendalikan, kami menyerang dengan serentak. Senjata RPD terus kuberondongkan ke arah mereka tanpa ampun. Mereka semakin kebingungan.

Tanpa kusengaja langkahku terlalu terburu-buru, hingga tiba-tiba desingan peluru lawan mengenai lengan atas tanganku sebelah kanan. Tanganku lunglai, namun segera aku berguling ke tanah, dan RPD kuserahkan kepada temanku. Goris dengan sigap menyobek bagian bawah bajunya dan mengikatkan pada bagian atas lenganku yang terluka. Relawan bagian kesehatan selanjutnya menginjeksi lenganku. Aku terus bergerak dengan ganti senjata G.3, menembak dengan tanpa ragu siapa pun musuh yang terlihat. Kami terus bergerak bahu-membahu, menuntaskan pertempuran yang berakhir pasukan musuh mundur dengan banyak jatuh korban.

Pagi menjelang oleh delik sandi keadaan sudah dinyatakan aman, kemudian kami memeriksa medan tempur. Dari pasukan Antoni, terdapat tiga tropas meninggal dunia, ada juga seorang wanita serta tiga teman di pos induk yang terluka di bagian kaki. Segera perawatan maksimal diberikan pada seluruh pasukan yang terluka, serta mengebumikan yang meninggal dunia. Pun juga aku, dibawa ke pos induk untuk mendapatkan perawatan lanjutan. Dari hasil laporan Bapak Amatukun yang merupakan kepala desa terdekat dari pos induk, terdapat tiga ekor sapi ikut tertembak dan beberapa penduduk yang terkena serpihan mortir.

Sujud syukur kami lakukan, begitu juga denganku. Tuhan mendengarkan doa kami malam ini. Pertempuran dimenangkan oleh kami, mendapatkan pujian dari Dankotis, Dandim, Danres, dan DPRD Belu.

“Mereka memberikan kepada kami…,” Hmmm… rupanya kau sudah tidur, Nung. Kuelus wajahnya dengan lembut, kuselimuti badannya. “Nung, lekas sembuh ya kekasihku. Harapanku besar padamu, untuk tetap bisa mendampingi hari-hariku.

“Assalamualaikum….”

Tiba-tiba saja putra yang dirindukan oleh Nung sudah memelukku dari belakang. Segera kuangkat tanganku memberi tanda pada putraku agar tidak berisik. Kupeluk putra, menantu, serta cucu-cucuku.

“Nung, obat kerinduanmu sudah datang, sembuhlah saat bangun nanti.” ***

.

.

Catatan pertempuran di Atambua bulan November 1975

.

.

IGB Sudharma adalah Dewan Paripurna Markas Cabang LVRI Kabupaten Banyuwangi.

.

Pertempuran 3 Jam di Betulu. Pertempuran 3 Jam di Betulu. Pertempuran 3 Jam di Betulu. Pertempuran 3 Jam di Betulu.

Arsip Cerpen di Indonesia