BAHTERA NABI NUH

Sajak-Sajak Royyan Julian (Jawa Pos, 06 November 2021)

SAYYID AHMAD BAIDAWI

.

“Gusti, kumakamkan keabadian

yang telah mati di lembah ini.”

.

Syahadat kami kan tumbuh

menjadi biji-biji yang berikrar

kepada pagi:

“Kami bersaksi tiada Tuhan

selain Yang Tak Diketahui.”

.

Gerimis gemetar di bibir kemarau

sementara arwah kekekalan

mencari detak jantung-Mu

di kubur paling kapur.

.

Tandur, tandur, tandur…

.

Dan lembu-lembu kami

meminang delapan juta enam ratus

empat puluh ribu denyut waktu

sebelum benih itu tanak

di dada kami yang kian retak.

.

2021

.

.

.

BAHTERA NABI NUH: JEFFREY MELLEFONT

.

Guruh dan gelombang itu mengapung

di langit-langit museum

dan menghantam lambung bahtera

yang tergantung.

.

“Bayang perahu ini adalah relikui keabadian

yang pernah ditepis Gilgamesh di tepi Tigris.”

.

Di lima ribu kilometer

ke utara dari museum itu

zuriah sang nakhoda

membangkitkan mayat pohon gofir

yang terbaring di perut Ararat.

.

“Mari kita taklukkan dimensi kematian.”

.

Tetapi yang terjaga adalah dingin nan kekal

ketika anak-cucu mereka

bertilam ombak dan berselubung sakal

di laut yang tak bisa dijinakkan

oleh busur perjanjian.

 .

2021

 .

 .

 .

TAREKAT NABI KHIDIR

.

Di hadirat sang mursyid

ia didekap baka yang fana.

.

“Keabadian hanya mungkin

ketika dikau tak lagi

disentuh hayat dan maut.”

.

Suara itu membujur

dari waktu yang bersirip karat

dan ruang yang menjadi amis.

.

Tetapi kekal adalah sepatah kata

yang pejal dan tak berperasaan.

.

“Dan karena itulah

Tuhan terperangkap

dalam kesepian

yang panjang.”

.

2021

.

.

.

ROYYAN JULIAN. Penulis dan pembaca buku.

.

BAHTERA NABI NUH.

Arsip Cerpen di Indonesia