KELAHIRAN PANGERAN SEGARA

Puisi-puisi Royyan Julian (Koran Tempo, 31 Oktober 2021)

RADEN AYU SA’INI

.

“Masuklah ke kegelapan jantung-Ku, Denayu,”

bisik Payudan dari arah Taman Sari.

.

Di ovarium batu

seorang jaka telah menyiapkan

seonggok dian, misteri inisiasi,

dan bokor Dewi Sri:

.

“Aku yang kan merancang

persalinanmu, Kekasih Ilahiku.”

.

“Hamba tak pernah disentuh lelaki.”

.

Magrib itu seekor lembu jantan

menyemburkan nur badar

dari zakar bulan ke dalam mimpi

perawan sunti.

.

Tetapi ia tak pernah mengeram janin.

.

Dari rahim gua

perempuan itu melahirkan

diri-Nya sendiri.

.

2021

.

.

.

KELAHIRAN PANGERAN SEGARA

.

Para saudagar yang berlayar di kabut laila

melihatnya sebagai bayi teja

yang bersinar di tepi Hutan Nipah.

.

“Mungkin ia titisan candra kirana.”

.

Bukan.

.

Ia lahir di atas rakit lima lumba-lumba.

.

Partenogenesis tak pernah ditetapkan

iman raja yang mencadarkan aib

di punggung maut.

.

Tetapi kematian tak sanggup

menetakkan takdir terlalu dini.

.

Maka dilarungkannya fetus sang nasib

ke selat yang memisahkan utara dan selatan

untuk menggenapi nubuat faylasuf dari Miletus:

.

Yang terpenting adalah air.

.

Ketuban laut pecah dan membiakkan

kasta kesatria yang akan menaklukkan

badai di rahim ibunya.

.

2021

.

.

.

Royyan Julian adalah penulis buku puisi Biografi Tubuh Nabi (2017). Lahir di Pamekasan, 3 Juli 1989, ia bekerja sebagai dosen Program Studi Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Madura.

.

.KELAHIRAN PANGERAN SEGARA.

Arsip Cerpen di Indonesia