Cerpen Diani Anggarawati (Pontianak Post, 22 September 2019)

Aku sedang menuangkan teh ke dalam cangkir, ketika dia memulai ceritanya yang ia anggap pelik pada suatu sore yang sedang hujan. Sesekali ia menerawang ke atas, mungkin sedang mengingat-ingat peristiwa yang menghimpitnya. Sesekali ia mengusap mata dengan punggung tangan, atau sudut kerudungnya. Sedang anak yang ada di pangkuannya, kulihat air liurnya sesekali menetes, dengan sigap perempuan itu mengelap dengan selendang batik yang warnanya telah memudar. Bocah lelaki yang kutaksir berumur dua tahunan itu tubuhnya ringkih. Ketika ia meronta dan ujung bajunya tersibak ke atas, maka kulihat tulang rusuk bocah itu menonjol begitu jelas. Mungkin ini juga termasuk daftar cerita yang membuat temanku dirundung nestapa.
“Kau begitu beruntung. Kau tidak salah memilih suami, Sri,” begitu ucapan pertamanya ketika aku mempersilahkan ia masuk ke rumahku dan matanya kulihat menyapu ke seluruh ruangan.
Soleha memakai baju gamis yang besar sore itu. Tidak seimbang dengan tubuhnya yang sangat kurus. Bajunya terlihat longgar. Dan kerudung persegi berwarna biru tua sempurna menutup dadanya. Mata nya terlihat lebih cekung ke dalam dengan kelopak mata yang menghitam, mungkin ia tidak cukup tidur oleh karena anaknya yang menangis setiap malam. Tulang pipinya terlihat amat menonjol. Soleha jauh berbeda, kali ini tubuhnya teramat kurus. Hanya alis tebal hitam saja yang tidak berubah
“Aku tidak pernah menyangka, jika takdir mengantarkanku menjadi manusia seburuk ini, Sri,” Soleha menatapku lekat. Anaknya terlihat tidak tenang berada di pangkuannya. Kupanggil pembantu rumahku untuk mengambil anak dari pangkuan Soleha, agar bermain bersamanya.
“Seharusnya kau bersyukur kau telah merubah menjadi lebih baik, Sol,”jawabku sekenanya. Walaupun aku tahu yang dimaksud Soleha adalah bahwa tubuhnya telah rusak tidak sesegar ketika dahulu.
“Kau bahkan tidak mampu mengenaliku jika aku tidak membawa foto lama kita. Benar-benar buruk rupaku,” Soleha segera meminum teh begitu aku menuangkan teh ke dalam cangkirnya. Bibirnya yang kering dikulum perlahan. Diletakkannya cangkir teh ke meja. Lalu matanya menerawang ke atas merangkai cerita.
Juah-jauh hari, sebelum soleha menyambangi rumahku, aku telah mengetahui sedikit permasalahan Soleha dari beberapa temanku. Mereka menelponku dan mengatakan jika Soleha tidaklah sebahagia yang kami pikirkan. Ketika teman-temanku menelponku saat itu, aku kurang begitu mempercayai apa yang mereka gosipkan. Namun, sore ini dengan raut wajah yang begitu layu dan tidak sesegar dahulu, barulah aku mempercayai apa yang dikatakan teman-teman.
“Aku tidak seberuntung kau, ketika posisiku bersuamikan orang.” Begitu ucapnya ketika pertama kali membuka cerita.
Aku sudah mengerti apa yang menjadi permasalahan Soleha. Dia bersuamikan seorang anak yang pernah menempuh pendidikan di sebuah pesantren kondang di Malang. Memasuki pesantren sejak ia lulus dari sekolah dasar. Tentunya banyak menyerap ilmu agama dan begitu mengerti dasar-dasar ilmu Fiqih. Kewajiban-kewajiban suami kepada seorang istri. Sayangnya, ilmu-ilmu itu hanya dipelajari secara teori dan sulit bagi suami Soleha untuk mempraktekkannya.
Harapan dari mertua Soleha adalah, anaknya menjadi seorang ustadz terkenal. Begitu keinginan mutlak orang tuanya. Tidak salah memang, memiliki keinginan yang begitu terpuji dan banyak orang tua menginginkan hal yang terbaik bagi anak-anaknya. Namun, jika memulai dari dirinya sendiri saja tidak bisa, apakah ibunya tidak malu anaknya menyandang nama ustadz di depan namanya? Apakah orang-orang tidak berpikir dua kali untuk mengundangnya mengisi tausyiah?
Soleha bercerita jika suaminya enggan mencari pekerjaan. Suaminya menunggu orang-orang memanggil untuk berceramah, dan sejauh ini belum pernah satu pun orang mengundangnya untuk mengisi tusyiah. Tidak ada. Dan hal yang terbanyak ia lakukan untuk kesehariannya adalah memanjakan diri di atas kasur. Merangkai mimpi.
Soleha suatu ketika menyuruh suaminya untuk berusaha mencari pekerjaan, namun oleh ibu mertuanya, Soleha mendapat teguran. Jika anak bungsunya tidaklah pantas untuk melakukan perkerjaan, apalagi perkejaan kasar. Mertuanya yakin jika anaknya pasti akan menjadi seorang ustazd ternama.
“Menjadi seorang ustadz itu dimulai dari kita sendiri, begitu bukan Sri?”
Aku mengangguk. Memanglah begitu. Bagaimanalah mungkin jika ingin menjadi seorang ustadz, namun ia meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Menyombongkan diri dengan ilmu-ilmu yang ia serap dan enggan untuk bersentuhan dengan pekerjaan kasar yang menurutnya tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Wajar saja, jika orang-orng enggan mengundangnya untuk mengisi tausyiah.
Soleha menoleh anaknya, yang sedang berada di kamar calon anakku bersama pembantuku. Ia menatapnya lama-lama, entah apa yang dipikirkannya.
“Itu kamar anakmu saja sebagus itu. Lengkap dengan mainan-mainannya. Beruntungnya hidupmu, Sri,” Soleha menolehkan pandangnya ke mataku. Mata kami saling bertemu. Aku tersenyum kecut.
“Kemanakah anakmu, Sri?” tanyanya kemudian.
Aku menarik nafas berat, “Sedari tadi kau memujiku, Sol. Mungkin kali ini tidak.”
“Maksudmu? Bukankah begitu adanya pujianku. Suamimu baik, kau bahkan memilih pria Amsterdam itu ketimbang ak….” Soleha tidak meneruskan ucapannya. Tapi mata kami saling bertemu. Aku sedikit gelisah. Ada sedikit jeda di sana.
“Setiap manusia memiliki suatu permasalahan, Sol. Kau memiliki masalah dengan suamimu dan aku memiliki masalah soal keturunan. Aku nyaris putus asa ketika pernikahanku selama delapan tahun tidak dikaruniai seorang anak.” Aku menjawab untuk mengisi kekosongan diantara kami.
Soleha mendekatiku. Digenggamnya tanganku. Kulihat kedua matanya mulai mengembun.
“Aku selalu ada untukmu, Sri. Percayalah, aku selalu sama memandangmu. Kau terluka, hatiku sakit.”
“Sol!” aku sedikit membentak. Karena rasa maluku yang kusadari, karena pembantuku mematung melihat keanehan Sol. “Kau telah berubah. Berpegang teguhlah pada pendirianmu, Sol.” Jawabku kemudian.
Aku mengenal Soleha ketika kami sama-sama di Hong Kong. Untuk pertama kalinya, aku mengenalnya di sebuah Shelter (1).. Ketika itu aku sedang menuntut hak-hakku kepada majikanku. Dan Soleha saat itu sedang menjenguk temannya yang memiliki permasalahan yang tidak jauh berbeda denganku.
Pertama kalinya aku bertemu Soleha, aku tidak percaya jika ia adalah seorang perempuan. Dia sangat tampan untuk disebut seorang perempuan. Badannya tinggi tegap, bahunya kokoh, bentuk wajahnya persegi, berhidung mancung, dan memiliki sepasang alis tebal dan hitam dengan potongan rambut cepak. Aku tidak begitu paham itu model rambut apa. Saat itu, Soleha mengenakan celana cargo, berkaos tanpa lengan dan sepatu kets biru tua. Dan selalunya begitu penampilannya setiap kali kami saling bertemu. Dia benar-benar nyaris seorang lelaki. Bahkan, untuk pertama kalinya, ketika berkenalan denganku, ia menyebutkan namanya dengan sebutan Joe.
Setelah aku memenangkan hak-hakku dan bekerja pada majikan baru, aku selalu mengisi hari-hari liburku untuk bertemu Joe dan juga kawan-kawan. Atau bahkan, kami saling menghabiskan waktu libur berdua. Menyusuri jalanan Victoria Park atau memakan masakan Indonesia di bawah jembatan Victoria yang notabene penjualnya mbak-mbak dari Indonesia. Terkadang, Joe mengantarku untuk meminjam buku di perpustakaan milik BMI(2) yang ditata di dalam koper dan diletakkan di atas selembar plastik duduk. Perpustakaan lesehan tanpa dinding ataupun jendela. Perpustakaan yang berdiri dari kesadaran dan kebaikan kawan BMI untuk mengisi hari liburnya agar lebih bermanfaat.
Aku memang banyak mengagumi Joe, dia begitu tampan. Bahkan, teman-temanku mengira jika Joe adalah kekasihku. Saat itu aku merasa bangga. Entah mengapa? Apakah aku menyukai Joe? Aku sendiri tidak begitu tahu akan hatiku. Namun aku berharap itu tidak akan terjadi. Joe adalah sahabatku.
Suatu ketika, di malam hari di depan patung victoria, Joe mengatakan akan membicarakan sesuatu yang penting kepadaku. Ketika para BMI lainnya tergesa-gesa akan kembali ke rumah majikan, maka Joe kulihat sedang menata hati untuk mengungkapkan sesuatu. ‘Aku menyukaimu, Sri. Aku mencintaimu’ katanya malam itu. Tangannya meraih bibirku, kemudian dengan sangat tergesa bibirnya melumat bibirku. Rasa yang sangat berbeda. Aku tidak merasakan satu kenikmatan. Rasa jijik menguasai hatiku. Dan teringatllah aku akan pemuda Amsterdam yang kujumpai di Central ketika aku membeli seloyang Pizza. Aku lepaskan tubuh Joe dengan paksa. Ada tanya di kedua matanya. Dan kulihat begitu sendu.
“Aku telah memiliki seorang pria. Kau dan aku adalah sebatas sahabat. Kita diciptakan sejenis. Kita diciptakan bukan untuk menyatu.” Sengaja kuucapakan kata-kata yang menusuk hatinya. Dia terluka. Kemudian meninggalkanku begitu saja. Malam itu, adalah malam terakhir ia menjumpaiku.
***
Minggu pagi, kakiku kembali menjejak di negeri beton. Britt Devries suamiku, sengaja mengajakku liburan ke negara di mana kami saling dipertemukan. Aku memang sangat merindukan negeri ini. Terutama Soleha. Aku juga sengaja mengajak Sakti anaknya, yang ia titipkan setahun yang lalu kepadaku. Di saat sore yang sedang hujan dengan secangkir teh, Soleha memulai ceritanya. Lalu Sakti ditinggalkannya kepadaku. Soleha kembali ke Hong Kong.
Minggu pagi ini suamiku sengaja membiarkanku mengelilingi Hong Kong sendirian bersama Sakti. ‘Ik hoop dat je Soleha ontmoet’ (semoga kau bertemu Soleha) ucapnya ketika aku akan menutup pintu apartemen. Tentu saja hal itu satu penawaran istimewa bagiku. Aku selalu berharap langkahku kali ini mampu mempertemukan Sakti dengan ibunya.
Bersama Sakti setelah lelah berjalan, aku menuju ke gedung Hongkong Central Library. Ketika aku sedang menunggu lift di lantai dasar, mataku menemukan sosok yang begitu aku kenal. Soleha dengan seorang wanita duduk di sebuah kursi sofa. Soleha telah menanggalkan gamis dan kerudungnya. Dia merengkuh dunianya kembali.
Keterangan:
(1) shelter: rumah kedua bagi seorang asisten rumah tangga di Hong Kong yang memiliki masalah hukum dengan majikannya.
(2) BMI: Buruh Migran Indonesia. Sebutan halus bagi seorang asisten rumah tangga.