Titisan Arwah Mbah Kubro

Cerpen Kakanda Redi (Pontianak Post, 01 September 2019)

Titisan Arwah Mbah Kubro ilustrasi Pontianak Post (1)
Titisan Arwah Mbah Kubro ilustrasi Pontianak Post

Tadinya, orang-orang rajin datang ke rumah Mbah Kubro, kakekku, hanya untuk melihat bagaimana Mbah Kubro menggelepar dan meraung-raung. Kata orang, kakekku itu sakaratul maut, tapi tidak bisa mati lantaran masih ada sesuatu yang melekat di badannya. Sesuatu yang membuat Mbah Kubro tak bisa mati, badannya tersiksa, sesekali mendesis, matanya melotot hingga urat-urat di lehernya mencuat.

Rasanya tidak ada warga dusun yang tidak kepingin melihat Mbah Kubro saat sakaratul maut begitu. Tapi itu sudah lewat. Sudah sejak delapan hari yang lalu Mbah Kubro dalam keadaan seperti itu. Belakangan warga dusun sudah tidak peduli lagi. Rumah Mbah Kubro sudah jarang dikunjungi oleh warga dusun. Jika ada pun, tidaklah seramai saat hari pertama tersiar kabar kakekku itu megap-megap seperti hendak dicabut nyawanya oleh malaikat pencabut nyawa.

Kyai Tamam adalah satu dari beberapa orang yang masih sudi berkunjung ke rumah Mbah Kubro. Ada juga Lik Semiran dan Lik Prapto, rekan Mbah Kubro di Paguyuban Jaranan yang ada di dusunku. Keduanya adalah, bisa dikatakan, murid paling awet yang berguru soal kesenian jaranan dan segala macam tetek-bengeknya kepada Mbah Kubro. Lalu ada juga Ramdani, anak ingusan kelas lima SD yang begitu tergila-gila dengan jaranan. Setiap Paguyuban Jaranan kakekku tampil, Ramdani selalu ada di situ. Dia ikut menarikan gerakangerakan jaranan dan ajaibnya, bocah ingusan itu hapal semua gerakan tarian jaranan yang tengah dimainkan. Semuanya! Ketika didengarnya kabar Mbah Kubro tumbang, tanpa tedeng aling-aling, Ramdani berlari seperti orang kesurupan. Rumah kakekku yang dia tuju dan tidak mau pulang kalau tidak dipaksa oleh kedua orang tuanya. Bukan main.

Iya, benar. Kakekku itu tokoh masyarakat di dusun. Bhaktinya kepada kemajuan kebudayaan jaranan atau kuda lumping sudah tidak diragukan lagi. Mbah Kubro yang mendirikan Paguyuban Jaranan, melestarikannya, memperkenalkannya hingga ke kota kabupaten, juga beliau yang mempertahankannya hingga saat ini.

“Ini sudah hari kesembilan. Mbah Kubro tidak boleh dibiarkan seperti ini terus. kasihan beliau,” Kyai Tamam berkata lirih kepada Mbah Putriku yang duduk di sebelah Mbah Kubro yang terbaring di dipan. Aku sendiri duduk di pojokan kamar, tak berani terlalu dekat dengan Mbah Kubro lantaran takut beliau mengamuk lagi seperti kapan hari itu.

Ketika itu, Mbah Kubro hanya disentuh lengannya oleh Kyai Tamam. Bukan main. Mbah Kubro langsung meronta dan berteriak, sama seperti saat beliau kesurupan ketika menari jaranan. Kyai Tamam undur dua langkah. Bibirnya terus melafalkan sesuatu, mungkin ayat-ayat. Mbah Kubro kian menjadi-jadi. Beberapa orang bertubuh kekar datang dan berusaha membaringkan tubuh Mbah Kubro di dipan. Mbah Putri sesenggukan sambil sesekali menjerit manakala dilihatnya Mbah Kubro meronta-ronta sambil berteriak.

***

Hari kedua belas. Tubuh Mbah Kubro kian kurus. Selama dua belas hari, tak ada makanan apaapa yang masuk ke tubuh Mbah Kubro. Namun sungguh ajaib. Tenaganya seolah tidak berkurang sedikitpun. Ketika datang kumatnya, tetap saja orang-orang kewalahan memegangi tubuh Mbah Kubro saat meronta-ronta.

“Sebenarnya ada sesuatu yang seperti apa yang masih mendekam di tubuh Mbah Kubro itu, Pak Kyai?”

Lik Semiran memberanikan diri bertanya ke Kyai Tamam. Lik Prapto mengangguk, “Saya juga hendak menanyakan itu, tapi tidak berani.”

Kyai Tamam menghembuskan napas berat, “Mbah Kubro punya susuk. Entahlah. Saya tidak terlalu mengerti dengan ritual penanaman susuk ke dalam tubuh manusia, juga ritual bagaimana cara mengeluarkannya. Yang pasti, selagi susuk itu masih tertanam di dalam tubuh Mbah Kubro, kematiannya tidak akan diterima. Selamanya Mbah Kubro akan seperti itu. Tak akan bisa mati, sedang hidup pun akan tak ada gunanya.”

Baik Lik Prapto maupun Lik Semiran sama-sama hanya menganggukanggukan kepala saja. Selama keterlibatannya di paguyuban, baik Lik Prapto maupun Lik Semiran pernah bercerita kepadaku beberapa hal mistis yang membuatku takut.

Dikatakannya kakekku tidak bisa terluka saat mengunyah beling meskipun tidak sedang dalam keadaan kesurupan. Pernah juga dikatakan oleh Lik Semiran, kakekku pernah menelan keris yang panjangnya sekitar dua kilan.

Lik Semiran dan Lik Prapto percaya kalau kakekku orang sakti.

“Kelak, kesaktian kakekmu itu pasti akan menitis ke kamu, Jo. Saya yakin. Soalnya kamu adalah garis keturunan kakekmu yang sangat mungkin menerima kesaktian itu. Bapakmu kan ndak suka jaranan, Jo.” Begitu kata Lik Prapto dulu, aku sudah lupa kapan tepatnya.

Tadinya, diberi tahu seperti itu, aku sangat senang. Aku sudah membayangkan bagaimana hebatnya aku yang baru berusia tiga belas tahun ini menjadi orang sakti, yang tidak terluka sewaktu mengunyah beling, atau yang bisa menelan keris sepanjang dua kilan. Aku akan menjadi penerus kakekku.

Namun, usai mendengar penjelasan Kyai Tamam barusan tadi, seketika lenyap minatku mewarisi kesaktian kakek. Aku ngeri. Aku tidak mau hidupku terkatung-katung seperti Mbah Kubro. Tidak. Aku tidak mau.

Tengah aku kalut dalam pikiran ketakutanku sendiri, tiba-tiba kami dikejutkan dengan suara meja bambu yang digebrak oleh Mbah Kubro. Meja itu hancur dan roboh seketika. Mbah Kubro bangkit dari dipan. Ditatapnya semua orang yang ada di ruangan tempat selama ini dia berbaring. Begitu tatapannya sampai kepadaku, Mbah Kubro mengangkat tangannya, dia melambaikan telapak tangannya perlahan, memintaku untuk mendekat.

Demi Tuhan, aku takut. Aku ingin keluar dari kamar dan berlari ke mana saja, asal aku  jangan disuruh mendekat ke Mbah Kubro. Aku takut diapa-apakan oleh kakekku sendiri.

“Mendekatlah. Kakekmu hendak mengatakan sesuatu kepadamu,” Kyai Tamam menuntunku untuk mendekat ke Mbah Kubro. Aku melangkah dengan kaki gemetar. Jika tanganku tak menggenggam pergelangan tangan Kyai Tamam, barangkali aku sudah menangis atau lari terbirit-birit. Inilah untuk kali pertama seumur hidupku, aku merasa takut dengan kakekku sendiri.

Mbah Kubro mencium keningku. Hanya mencium. Beliau tidak mengatakan apa-apa. Agak lama beliau mencium keningku. Tibatiba aku teringat cerita Lik Semiran dan Lik Prapto soal kesaktian kakek yang akan dia titiskan. Jangan-jangan… janganjangan ini adalah ritual menurunkan kesaktian dari kakek kepadaku. Aku memejamkan mata. Aku takut. Sangat takut.

“Tejo…”

Kudengar suara serak kakekku menyebut namaku. Suaranya berat. Sama seperti saat kakekku kesurupan ketika menari jaranan. Aku tak berani menjawab. Aku hanya sedikit menganggukkan kepala. mataku masih terpejam rapat. Lantas, kurasakan ada dorongan di pundakku. Kakek mendorongku supaya menjauh. Aku undur pelan-pelan dan kembali ke tempat aku berdiri tadi. Kakiku gemetar bukan main.

Mbah Kubro mengedarkan tatapannya lagi. Setelah Mbah Putri, Kyai Tamam, lalu aku, kini Mbah Kubro beralih ke Lik Prapto, Lik Semiran, Kang Sukir tukang kendang, Kang Puji tukang gong, lalu Ramdani. Begitu tatapan Mbah Kubro tancap ke Ramdani, Mbah Kubro mendadak bangkit dan melompat ke arah Ramdani berdiri. Diangkatnya tubuh bocah ingusan itu tinggi-tinggi lalu tanpa kami duga, kakek membanting tubuh Ramdani ke lantai. Orang-orang kaget dan berusaha melerai Mbah Kubro yang hendak meraih tubuh Ramdani kembali. Ramdani sempoyongan dan demi apa pun, anak kecil itu seperti tidak merasakan sakit akibat dibanting tadi. Ramdani justru menggerakkan anggota tubuhnya. Anak kecil itu menarikan beberapa gerakan tarian jaranan yang biasa dimainkan oleh kakek. Dengan suara yang lantang, ditirukan juga musik pengiring tarian jaranan oleh Ramdani. Jadilah Ramdani menari jaranan di depan Mbah Kubro, seperti seorang bocah yang sedang latihan di depan pelatihnya.

Mbah Kubro, di luar dugaan siapa pun, malah ikut menari. Keduanya menarikan bagian perang antara buto dan barongan. Ramdani begitu fasih memainkan buto, salah satu karakter dalam tari jaranan yang lazim dimainkan oleh orang dewasa. Mbah Kubro dan Ramdani saling serang. Musik dari mulut Ramdani kian lantang dan nyaring. Begitu seterusnya, seolah tak akan habis napas Ramdani mengumandangkan musik pengiring tari jaranan.

Ramdani dibanting lagi. Kali ini ke dinding. Bocah ingusan itu cuma menggeliat sebenatar lalu menari lagi. Mbah Kubro memegangi dadanya. Dicarinya tepi dipan. Mbah Kubro terduduk sembari tersengal-sengal napasnya. Mbah Kubro membaringkan sendiri tubuhnya ke dipan. Dalam lima tarikan napas, Mbah Kubro diam. Tak bergerak. Mbah Kubro berpulang untuk selama-lamanya.

Sadar bahwa lawan menarinya sudah wafat, Ramdani meraung. Dihampirinya jasad Mbah Kubro dan dipeluknya tokoh idolanya itu. Ramdani tidak menangis. Yang terjadi justru Ramdani mendesis dan kedua tangannya mengepal. Urat-urat hijau tua mencuat di lehernya. Ramdani bangkit dan memelototi kami semua. Ramdani melompat lalu memungut gelas kaca di lantai yang terjatuh bersamaan dengan hancurnya meja bambu tadi.

Digigitnya gelas kecil itu hingga pecah, lalu dikunyahnya beling berwarna kristal di mulutnya. Mulut Ramdani mendesis-desis, tak ada darah, tak ada luka. Ramdani kebal terhadap pecahan kaca.

 

Mempawah, Agustus 2019

Arsip Cerpen di Indonesia