Kota Mati

Cerpen Menthol Hartoyo (Kedaulatan Rakyat, 19 Juni 2020)

Kota Mati ilustrasi Joko Santoso (Jos) - Kedaulatan Rakyat (1)
Kota Mati ilustrasi Joko Santoso (Jos)/Kedaulatan Rakyat

REMBULAN berkabut. Handoko terus memacu motornya harus sampai ke Rumah Sakit kota. Handoko yakin betul Safitri ada di Rumah Sakit itu. Sambil membuka masker yang mengganggu pernafasannya. Handoko melirik ke arloji merk Alba, jarum jam menunnjukkan pukul 21.00.

Handoko ingat betul bagaimana Safitri memberikan jam yang melingkar di tangannya.

“Dipakai ya Mas Han arloji ini, Jagan sampai mati. Biar tiap detik, tiap jam, tiap waktu kamu ingat aku terus,” ucap Safitri manja.

“Iya pasti tak pakai, biar tidak telat kalau suruh jemput kamu,” Jawab Handoko, dengan senyum-senyum.

Bayangan Safitri muncul kembali masuk di kepalanya. Bahkan Safitri seperti merintih dan terdengar jelas ketelinganya.

“Mas ga boleh berhenti di sini. Tidak boleh orang luar masuk di wilayah kami,” ucap seseorang yang dengan makai masker yang sudah ada di sampingnya.

“Saya istirahat sebentar mas, mau ke Rumah Sakit Kota. Pacar saya opname di rumah sakit itu,” jawab Handoko, sambil menunjuk arah Rumah Sakit.

“Sampeyan ga bisa mendekat ke Rumah Sakit itu, semua jalan dari gang sempit sampai jalan raya menuju rumah sakit di tutup,” jelas seseorang itu, sambil membenahi maskernya yang kendor.

“Oh begitu ya mas,” ucap Handoko, sambil memaki masker.

“Sudah pulang saja mas, sudah malam nunggu kabar saja di rumah,” saran seseorang itu.

“Tidak ada jalan lain atau gang lain menuju rumah sakit ya mas,” tanya Handoko penuh harap.

“Ga ada mas, semua warga jaga setiap Gang Masuk. Mereka bersiaga seperti mau perang. Melarang orang lain yang bukan warga masuk atau hanya melnitasi wilayah mereka. Daripada sampeyan kenapa-kenapa, lebih baik pulang,” ucap seseorang itu, sambil membenahi clurit yang ada di pinggangnya.

Handoko keder juga, melihat clurit di pinggang seseorang tersebut. Ia kuatir salah paham jika memaksa orang itu, untuk menunjukkan jalan.

“Oke mas, siap. Matur nuwun ya mas,” Handoko menstater motornya dan hilang di belokan.

Handoko terus melaju mencari jalan. Belok kiri, belok kanan menerobos kegelapan malam. Bener apa yang dikatakan orang tadi, semua jalan dan Gang sempit menuju Rumah Sakit dijaga oleh warga. Pandangan matanya penuh curiga dan tidak bersahabat saat motor Handoko berhenti di depan pintu masuk Gang mereka.

Dengan kain yang dibentang bertuliskan LOCKDOWN. Kota ini seperti kota mati. Orang-orang tidak berani keluar rumah.

Handoko benar-banar kalut. Kecemasan akan kondisi Safitri terus menyerang batinnya dari segala penjuru.

“Praakkkkkkk!” Tiba-tiba sebuah mobil berkecepatan tinggi menabrak motor Handoko. Tangan Handoko lepas dari motor dan terpelanting jatuh dipinggir trotoar. Darah mengalir deras dari mulut dan kepala Handoko.

Pengemudi dan penumpang meloncat dari mobil melihat kondisi Handoko. Tapi kedua orang itu, tidak segera menolong justru kembali ke mobil dan tancap gas.

***

MALAM SEMAKIN SUNYI. Ruang IGD Rumah Sakit juga nampak lengang. Hanya beberapa perawat yang tertidur. Sekujur tubuh Handoko penuh darah, matanya terpejam tertutup darah.

“Safitri…. Safitri….” Suara mata batin Handoko.

Handoko merasakan ada jemari yang memegang jemarinya dengan lembut. Antara batas kesadaraannya, Handoko merasakan betul jemari siapa yang memegang tangannya.

“Safitri,” ucap Handoko pelan penuh kebahagiaan.

“Iya, Mas Han, aku di sini.” Bisik Safitri ke telinga Handoko. Sambil mengusap darah yang menutup kedua mata Handoko yang penuh darah.

“Bukalah matamu, Mas Han,” suara Safitri lirih. Penuh harap Handoko berlahan membuka kedua matanya. Pedih tapi ia berusaha membuka kedua matanya. Handoko ingin segera melihat perempuan yang ia cintai.  Kedua mata Handoko, mulai terbuka. Samar-samar kedua matanya melihat Safitri di hadapannya. Betapa bahagianya Handoko, seperti terbangun dari mimpi. Safitri terus memegang kedua tangan Handoko. Mata Handoko terus menatap calon pendamping hidupnya itu. Betapa cantiknya Safitri dengan gaun putih dengan renda melingakari lehernya. Senyumnya merekah membuat Handoko lega.

“Aku ingin terus bersamamu, Fit,” suara hati, Handoko.

“Iya mas Han, kita akan bersama selamanya,” ucap Safitri lembut. Sepertinya tahu apa yang ada dalam hati Handoko

Tangan Safitri menarik tangan Handoko untuk berdiri. Saat bangkit, Handoko terheran betapa ia tidak merasakan sakit. Tubuhnya yang penuh darah juga bersih. Handoko memeluk Safitri erat. Keduanya melangkah berlahan menuju gerbang keabadian. ❑-o

 

Tangerang, 2020

Arsip Cerpen di Indonesia