Cerita yang tak Dibaca

Cerpen Maya Sandita (Singgalang, 19 Juli 2020)

Cerita yang tak Dibaca ilustrasi Istimewa (1)
Cerita yang tak Dibaca ilustrasi Istimewa 

ENTAH mengurung diri atau dikurung dari cahaya matahari, entah menyembunyikan diri atau sengaja disembunyikan sebab dibayar merancang strategi. “Satu butuh uang dan lainnya butuh kuasa.” Demikian ia mulai merentang kata-kata. Seseorang dalam ruang yang entah berbentuk apa. Kotak, balok persegi panjang, atau segitiga.

Jelas ia melahirkan teka-teki. Sebuah jawaban terang tersembunyi. Seseorang perlu menelaah dan mendeteksi. Apa sebenarnya yang terjadi? Siapapun bisa lakukan, seorang terpelajar atau kuli bangunan, seorang presiden atau seorang tahanan. Asal otaknya jalan. Ada hadiah? Jelas. Sama seperti yang pernah kaubaca dalam sejarah. Tentang seseorang yang sengaja dibuat hilang, sebuah nyawa di pesawat terbang yang melayang, lidah yang ditarik paksa dengan tang, dan lainnya yang kini masih dalam pantauan mata seram yang sebentar lagi akan menyerang. Itu hadiah bagi penentang. Mereka yang tak mau pasrah menerima keadaan sebagai sesuatu yang lumrah.

Sesuatu masuk lewat celah ruang yang berlubang. Menempel di sebuah bola dunia usang, yang bentuknya masih saja bulat dengan dominasi warna biru terang. Ia terbangkan dirinya dari sebuah penjara.

Katakanlah ia debu. Orang itu tak peduli dengan sosoknya yang kadang juga menempel di bahu dan sepatu, kulit kepala dan ujung kuku. Tapi ia tak tahu, debu ini punya mata dan sepasang telinga dalam bentuk kasat mata itu. Mulutnya ada dan tak bisu. Ia hanya tak bicara sebab suaranya jelas asing dan mengganggu, banyak hal yang sedang ia tunggu.

Siasat perang, misalnya.

Seseorang yang sendiri, dengan segala kebutuhan yang lengkap sekali. Peralatan laboratorium ada semua, kertas dan tinta tak terkira banyaknya, komputer canggih ada banyak di sana, dan ribuan mata dipersembahkan untuk jadi matanya. Dari seluruh pelosok dunia.

Ia memutar bola dunia yang tadi, menerbangkan debu ke lengan baju yang dilipat empat kali. “Ah, luas sekali. Negara aktif dengan jumlah penduduk tak terhitung lagi. Ini sulit. Ratusan tahun melihat globe ini membuat perutku selalu saja melilit. Sialan!” katanya sembari benda itu ia tinggalkan. Beranjaklah ia menyerahkan setoran.

Dalam bilik lain yang hening, kepalanya tetap saja pening.

Tika kembali ke ruangannya yang penuh tempelan sana-sini, penuh garis penghubung yang rumit dipahami, ia duduk di depan sebuah komputer tercanggih yang bentuknya agak mini. Dilihatnya milyaran manusia beraktivitas seperti biasa. Berangkat sekolah dan kerja, pergi belanja, dan bercinta.

Ia haus. Ketika hendak diraihnya teh manis dalam cangkir porselen yang halus, didapatinya semut berkerubung di sana. Ia menggoyangkan cangkirnya. Beberapa semut kalang kabut. Beranjak dari sesuatu enak yang mengenyangkan perut. Orang itu berpikir semut-semut akan pergi. Tapi selang hitungan detik di jari, semut-semut tadi kembali. Menikmati teh manis dingin yang tadi.

Cangkir terletak di antara matanya dan objek dari matamata, dari layar komputer yang jernih warnanya.

Orang itu mengambil sebatang kapur dari lemari yang dibeli tempo hari. Di bagian belakang kemasan tertulis fungsi.

Lalu digoresnya cangkir dengan kapur. Beberapa semut dengan cepat—kabur. Yang lain terapung di tehnya, tak bisa berenang, dan mampus dengan teman-temannya.

Tak hanya sampai di sana, ia masih mengincar semut yang lari menyebar. Ia bentuk garis melingkar. Jadi semut-semut tak bisa keluar. Sampai gambar lingkaran itu di dekat bola dunia biru. Matanya berpindah ke negara-negara yang terpampang di situ.

Ia menyeringai.

Tubuh orang itu besar dan tinggi. Tidak makan sekian lama tak kunjung membuatnya mati. Ia tak ubah seperti monster—tanpa hati.

Di tembok, siasat perang yang lama disilang dengan cat hitam atau merah yang mencolok. Mengganggu kestabilan uang, tak begitu memuaskannya. Mengguncang ketenangan beragama, juga tak berhasil membuatnya bahagia. Bahkan puluhan tahun lalu, pernah ia mengusik kesehatan, tapi ia merasa belum tercapai keinginannya.

Ia menyeduh teh yang baru. Melingkari daerah sekitar cangkir dengan kapur yang tadi. Tehnya tak terganggu. Hanya tehnya yang boleh mendapat keistimewaan itu.

Debu yang tadi menempel di lengan baju, menutup telinganya. Tawa monster itu sangat bahagia. Menggelegar dan menyebar di udara.

Tak lama, seseorang membuka pintu utama. Udara masuk dan angin menerbangkan debu berpindah ke bajunya.

“Ah, sial! Padahal siasat terbaru sebentar lagi akan dibuatnya!” gerutu debu.

Beberapa minggu setelah debu ke sana ke mari, naik metromini atau ikut terbang dengan pesawat sesekali. Muncul berita yang menghebohkan dunia. Sebuah negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, tiba-tiba turun angka populasinya. Drastis! Wuhan nama itu kota, ia ada di negara Cina. Lalu mengapa monster itu memilih Cina? “Apa mungkin demi uji coba di sebuah kota yang sangat padat penduduknya? Hasil apa yang diharapkan?” gumam debu ketika mendengar berita itu.

Permainan rupanya telah dimulai. Pengomsumsian kelelawar dijadikan jalan penyebaran sebuah virus bernama Corona. Informasi dunia dikendalikan dengan uang dan kuasa si monster besar yang terlahir pintar. Padanya diberikan tuhan kepintaran yang dilebihkan.

Debu duduk di pundak seorang tua yang baru pulang dari musala. “Dikasih hukuman sama Allah karena diskriminasi umat muslim. Sudah kapok?” katanya begitu saja.

Waktu terus berlalu sampai angka tahun bertambah satu. Januari hingga Februari jadi begitu ngeri. Warga negara Cina mati sebab virus yang menyebar cepat sekali. Seketika, semua manusia di sana diisolasi. Tidak keluar rumah sama sekali. Salah-satu kota di sana mendadak sepi. Beberapa di antara mereka jadi semut di cangkir teh tadi. Ia sempat pergi, lari, dan masuk ke lain negeri.

Beberapa di Itali, beberapa di negeri asal si debu tadi.

Dengan cepat semut-semut mencari tempat. Tanpa ia peduli bahwa sentuhan tangan atau udara dari bersin yang ia semprotkan, bisa jadi racun mematikan. “Aku tak ingin mati sendirian,” katanya sembari sepasang mata melihat seperti orang kesetanan.

Debu menempel di televisi seorang pengusaha. Pengusaha kaya yang sedang duduk di ruang keluarga dengan istrinya yang saat ini menemani anak semata wayang mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan guru sekolah—banyaknya bukan kepalang.

“Kita tak boleh kemana-mana, barang-barang pesanan pabrik tak kunjung tiba. Karyawan masih harus terus kerja. Kalau produksi tidak jalan sebagaimana mestinya, aku gaji mereka pakai apa?” katanya kesal sambil memukul kepala.

Gelisahnya tertangkap mata si monster dalam ruangan tadi. Pengusaha yang kalut bukan cuma dia sendiri. Ia menyeruput tehnya dengan cangkir porselen baru.  “Kalau tak mampu gaji karyawanmu, biar kubantu. Kupinjamkan sejumlah dana, tapi tentu berbunga,” pecah kemudian gelaknya.

Televisi milik si pengusaha terjual. Semua perabotan rumah terjual. Ia bak ditimpa sial. Jantungnya kumat, ia kemudian gampang diserang virus bernama covid-19 yang menyebar sangat cepat. Seminggu berlalu dan ia wafat.

Seorang ibu tua membelinya. Uangnya dikembalikan jasa pemberangkatan umrah dan haji semuanya. Sebab awalnya ia menyangka pihak tur itu menipunya, maka ia memilih untuk pindah ke jasa pemberangkatan haji di dekat rumahnya. Ternyata sama saja! Calon jemaat haji dan umrah dari belahan dunia mana saja diblok penerbangannya. Maka uang tadi, ia belikan saja sebuah televisi.

Di sana ia melihat mata kamera menangkap berbagai peristiwa dari belahan dunia. Berita virus tak ada hentihentinya. Ia bergidik ketika melihat tayangan seorang pasien kejang di depan matanya. Ibu tua mengambil ponsel dan menelepon sang anak yang tempo lalu mengirimkan uang untuk keberangkatan hajinya. Tapi telepon tidak menyambung. Sementara di negara tetangga sana, teman-teman anaknya tengah berduka dari balik kaca. Seseorang terbaring sepi di ruang isolasi.

“Dunia tak lagi sama. Ia tak berirama. Entah untuk berapa lama sepi jadi raja,” ujar seorang ang lelaki pada diri sendiri—di balkon apartemen lantai lima. Saksofon di tangannya. Ia meniup dan melahirkan nadanada.

Satu persatu warga Itali membuka pintu dan jendela, menikmati musik yang lebih dua pekan ini tak singgah di telinga. Hanya genderang cacing yang sesekali terdengar tipis sebab persediaan makanan mesti dihemat dan semakin menipis.

Di sini, ini Jumat masjid mulai sepi, beberapa di antaranya dikunci. Lusa ahad kabarnya gereja membatalkan kegiatan ibadahnya.

Nyanyian-nyanyian tak akan terdengar dari sana. Begitupun dupa di vihara yang tak tercium asapnya.

Bandara sepi, stasiun lengang sekali, terminal tak berfungsi.

Debu? Ia masih saja ke sana kemari. Terbang mencari jalan masuk ke dalam ruangan monster itu lagi. Ingin ia meludahi sepasang matanya yang tak bahagia melihat dunia damai adanya. Kemudian masuk ke telinga dan berteriak di sana. Hanya untuk mengumpat—tentu saja.

Tapi ia malah masuk ke mulut yang terbuka. Membuat tersedak, batuk, dan sebuah mimpi buyar meledak. Setumpuk makalah teori konspirasi jadi bantal semalaman tadi. Alas kepala seorang pemuda yang muda dalam arti harfiahnya.*

 

Batam, 21 Maret 2020 Direvisi;

Batam, 21 Mei 2020

Arsip Cerpen di Indonesia