Cerpen Teguh Pratomo (Radar Banyumas, 30 Agustus 2020)

KAU perempuan dalam sajak dan aku bukan lelaki pembelah laut. Dari sajak keseribu yang ditulis penyair gemerlap bermahkota runcing, kau serupa burung api yang melesat dari abu pembakarannya sendiri. Bagai terbang dari kematian, kau meloncat ke gua sesepi makam yang diberkati malam. Dalam tudung kegelapan, masih tampak seri wajah putri boyongan yang dipulangkan ketika merasuk ke tubuh ksatria yang menjadi perisai sang pemanah handal karena terlahir perempuan. Entah karena rindu yang merundung, entah karena dendam yang membusung.
Aku mengetuk malammu lantaran rambutmu semenyala bulu-bulu raja burung itu. Kepadamu yang bangkit dari sepotong sajak, pertanyanku berhela-helai kabut. “Namun, jika talakmu jatuh pada pertanyaan ketiga, aku urung turut sejak mula,” kataku meminta syarat.
“Aku bahkan bukan lelaki, apalagi yang mesti kau jumpai pada pertemuan dua laut,” jawabmu.
Angin segar tumbuh. Helai-helai kabut yang singkap melubuk di angan. Bening menggenangi tasik khayalan dengan segala ikan-ikan.
“Bersamamu yang hendak kemana, aku akan serta. Untuk malammu, kucagarkan waktu,” ikrarku.
“Di mana luas tualang untuk perempuan yang dilahirkan dari ratapan doa dan api pemujaan sejak rambutnya dibiarkan tergerai hingga tiba di tahun ketiga belas itu? Untuk perempuan yang akhirnya membatu pada candi keseribu, malam hanya menunggu sungkawa lantaran kutuk akan dijatuhkan ketika pagi dipercepat dengan antan yang bertalutalu mendahului waktu.” Kata-katamu senandung mendung.
Di luar, lelaki penyairmu bergentayangan semenyeringai hantu-hantu rekaan para ibu untuk anak-anak yang menderaikan tangis dengan tersedu-sedu. Dengan picing nyalangnya, ia ringkus segenap gelap. Namun, pekat di gua yang diberkati malam bagai selembar kain di tubuh perempuan yang tak lagi bertuan dalam geger adu dadu di balai agung Hastinapura. Di kegelapan ini, kau sekerasan putri dengan kecantikan paling menggentarkan ketika menjadi perias bercadar di tanah pengasingan dan mengaku bersuamikan lima gandarwa.
“Aku tak akan bermukim di sini karena ini bukan lagi negeri suaka selepas malam,” kilahmu yang lantas berdalih, “Pagi akan seculas ciuman maut di Taman Getsemani setelah ditebus dengan tiga puluh keping perak. Lalu, aku akan tersalib di dalam sajak.”
“Sehantu itu sajak keseribu?”
“Sajakku Taman Argasoka untuk kembang hutan Dandaka. Namun, tak ada burung sakti terluka yang menunjukkan jejak, tak akan datang pula duta seorang putra angin yang sita sumarak.”
Berbilang-bilang perempuan dalam sajak sejauh kenang. Aku membilang yang pingitan, tak satu pun terbilang. Semuanya lekang dari kekang. Setelah ruh ditiupkan penyair bersama gurat kata-kata dan masa penciptaan purna, perempuan-perempuan dalam sajak diperjalankan tanpa garda menuju belantara tafsir dimana para peziarah mengayunkan pisau-pisau bedah yang mengupas gulita. Mereka mekar oleh mata pedang, tak layu oleh nyalang elang.
“Sajakku prasasti keramat di hutan larangan. Jika para pemadat yang kepayang menenggak ayat-ayat menghukuminya sebagai berhala sembari datang mengacungkan kapak, lelaki penyairku akan mengutus sepasang Dwarapala untuk mengusir mereka yang bertingkah seakan penerima nubuat. Sajakku hanya mengenal wangi dupa dan kidung puja mantra,” dalihmu lagi dengan sayup-sayup gelegak darah yang mendidih dan gemeretak arang yang patah.
Helai-helai kabutku singkap disibak kilahmu yang berdalih-dalih. Jawabanmu tengah hari yang silih bersuluh bermendung. Kabut sehelai datang sehelai hilang. Kabut tak surut terkembang.
“Kau perempuan paling sentosa dengan sajak segelar perang cakrawyuha. Lalu, bagaimana gelabah frasa berurat kata?” tanyaku memburu yang berlalu angan.
“Di dalam sajak, aku domba berpadang-padang berkeluan. Aku perun untuk nyala unggun lantaran lelaki penyairku perindu api pemujaan. Kelak, aku menggenang sebagai perigi tepi-tepi jalan.”
Ah, kesah galah di deras bengawan karena bayang-bayang menjala mara bertimpa-timpa. Hanya kau dan prasangka mala yang bersabung muka. Sesungguhnya, kau yang menyala dan lelaki penyairmu yang gemerlap bagai tanduk bersendi gading, elok rupa sepemandangan, elok bunyi sependengaran. Namun, sendang telah sampai ke seberang, dinding telah sampai ke langit. Kau bersekutu dengan pelarian.
“Pelarian mesti menuju kota, pelayaran mesti menentang nusa,” gugatku.
“Aku bandar mencari bahtera dan kau lelaki yang terpinang,” jawabmu.
“Untuk apa?”
“Buatkan aku sajak negeri Wirata dan sebutkan aku di dalamnya hingga tali gendewa yang masyhur itu digetarkan pemanah gemulai sebagai tengara,” pintamu dengan bibir bergetah.
“Untuk sebuah sajak, aku hanya akan memulung kata-kata dengan sembarang pungut. Aku lelaki miskin lema,” elakku bersilat lidah.
“Bergurulah kepada para pujangga!”
“Aku tak akan sepatuh putra Bayu yang sudi menyelam ke jantung samudera untuk mencari pengetahuan paripurna di dalam telinganya sendiri.”
“Ingatlah segala yang pernah kau tambang di garba ilmu!”
“Kau tahu, ksatria beranugerah cakraningrat itu pada akhirnya tersesat di pusat lingkaran yang berlapis-lapis dan tumbang bertahtakan luka-luka karena terlampau pongah hanya dengan setengah pengetahuan yang ia timba di rahim ibu.”
“Bacalah sajak-sajak!”
“Aku bukan laki-laki dengan ibu jari bertuah yang tekun berguru kepada arca,” sanggahku lagi dan aku memungkasi, “Sajakku hanya akan seumpama betung yang ditebang pada mangsa ketiga.”
Rayuan bersanggah membertunaskan sepasang tanduk di kepalamu. Aku mendengar desis tedung. Ketika aku menyambungkan sanggah, “Ikan-ikan mesti pulang ke lubuk. Tak ada aksara yang durhaka kepada suara. Tak sesajak pun untukmu yang gegar asal mula,” darahmu kian gelegak didiang.
Kau menyemburkan murka, “Jika kau tak sudi sebagai gunung tempatan kabut, sebagai teluk timbunan kapal, kau tak akan beraja di mata, tak akan bersultan di hati sejak esok pagi. Aku dan sajak keseribu adalah santung pelalai meski kau laki-laki. Kau hanya berpaut sahasta tali sejak itu, berkelana memperturutkan seribu sajak lelaki penyairku.”
“Ha ha ha ha! Kutukan perempuan berpenutup mata sejak ia dipersunting raja yang buta hanya ber-laku untuk sais kereta bergeli-mang muslihat yang mem-perdaya perang suci hingga tumpah lautan darah dan genap segala sumpah. Aku lelaki kembara bernegerikan betis!”
“Kau pengelana tuna cinta bertubuh amis!”
Serapahmu guruh di ujung malam. Ketika pagi mekar di ufuk, kau seterjatuh batu di lubuk. Namun, aku tahu pinang telah pulang ke tam-puk.
Dalam sajak keseribu, kau berkibar di jalanan yang sesak oleh sorak berdecak-decak. Kau bersinggasana di bait paling smaradahana, di larik bulan yang orang-orang pungguk rindukan. Bersama perempuan-perempuan lain, kau bunga rampai seribu sajak tak tepermanai. Di bawah kerlingmu, orang-orang ditekuklututkan dalam puncak musim sebelum lengkas bertamu.
Lelaki penyairmu melambai-lambaikan seribu sajak bagai panglima pulang gelanggang mengarak tawanan perang, bagai Sri Rama mengiringkan seribu Sinta. Langkahnya segenderang ladam menabuh bebatuan, meningkahi dengung takjub kerumunan. Seribu sajak keramatnya beruntaikan bunga-bunga sesaji yang dikalungkan para pemuja dari tepi jalan.
Seribu sajak memasuki hingar pasar, sekejap menjadi keris Gandring di tangan pesulap mandraguna berjubah gemerincing. Keris tanpa warangka itu, kali ini, tak butuh Lulumbang untuk ditempa hingga tak ada janji yang tak ditepati.
Lelaki penyairmu kembali ke jalanan yang sesak oleh sorak berdecak-decak dengan lenggang merak gemirang. Dengan seribu sajak yang ia kibarkan lagi dalam khotbahkhotbahnya, ia bangun telaga paling anggur bagi para cendekia yang hendak tiba untuk menimba dan diwisuda sebagai perupa kata-kata dalam sekedipan mata. Di jalanan yang kini sesak oleh sajak, ia diagungkan layaknya pertapa cemerlang yang lahir di Taman Lumbini.
Di hingar pasar, keris Gandring yang lelaki penyairmu tinggalkan tak menumpahkan darah. Tak ada berandal kinasih para brahmana yang cukup nyali untuk menikam. Hanya ada seorang pengendap-endap di terang hari yang menebusnya dari pesulap mandraguna berjubah gemerincing dengan tiga puluh keping perak. Ia pinjamkan keris bertulah itu kepada punggawa congkak yang gandrung arak.
Pengendap-endap di terang hari duduk bersabar di hingar pasar. Ia tahu, untuk naik tahta, ia tak perlu menggelar makar bermedan laga. Ia hanya butuh malam yang lengah lalu mempersunting perempuan dengan betis bercahaya ketika dahulu kainnya tersingkap di hutan Baboji. Karenanya, ia hanya butuh keris Gandring yang telah disulap dari seribu sajak.
Namun, mengapa pengendap-endap di terang hari itu begitu gemerlap dan bermahkota runcing? (*)