Cerpen Bulan Nurguna (Medan Pos, 13 September 2020)

Matahari belum nampak, penerangan masih berasal dari lampu-lampu jalan dan rumah-rumah. Dingin udara tak meruntuhkan niat yang kupikirkan sejak tadi malam. Ya, pagi ini aku akan berolahraga, lari pagi keliling perumahan. Aku hanya berharap tidak ada sama sekali orang yang kukenal, sehingga bisa fokus, tidak perlu disapa atau menyapa, tersenyum atau berbasa-basi.
Kukenakan satu-satunya sepatu olahragaku, hadiah dari kakakku yang dikirim dari luar kota. Warnanya merah muda, warna kesukaanku. Di depan pintu ruang tamu, aku meregangkan otot-otot agar nanti badanku tidak kaget dan sakit. Aku lebih memilih melakukannya di halaman rumah daripada di luar pagar, sebab malas bertemu orang-orang.
Pertama-tama tentu saja aku tidak langsung berlari, melainkan jalan dengan tempo lambat. Kugerakkan badan yang memang jarang bergerak ini. Ada seekor anjing kampung, mungkin dia sedang mencari-cari makanan atau pasangan. Dia berada di seberang jalan, lari berlawanan arah denganku, atau, anjing itu sama seperti diriku? Hanya ingin lari pagi saja tanpa diganggu dan mengganggu siapapun?
Tapi aku jadi ingat tempat sampah yang kerap berantakan di pagi hari dan bila kebetulan tidur agak larut, sering kulihat anjing-anjing kampung mengoreknya. Mungkinkah anjing ini salah satunya? Ah, pasti dia salah satunya. Memangnya dari mana anjing semacam itu mendapatkan makanan kalau tidak dari tempat sampah? Berbelanja di warung makan? Atau ada orang-orang baik yang melemparkan makanan kepada mereka?
Belum habis kupikirkan anjing itu, aku bertemu sepasang siput sawah berwarna kuning. Satu di antara mereka rusak cangkangnya, mungkin tadi ada pengendara yang melintas lalu melindas tubuhnya. Apakah yang sial itu betina atau jantan? Apakah mereka pasangan yang berbeda kelamin? Apakah keduanya jantan? Keduanya betina? Atau mereka memiliki dua kelamin yang berbeda di satu tubuhnya? Ah, untuk apa juga aku berpikir tentang kelamin binatang yang tak dipedulikan oleh roda kendaraan dan bahkan oleh diri mereka sendiri.
Aku mulai berlari, aku hanya ingin fokus pada tujuanku semula. Memang kalau jarang berolahraga terasa badan begitu berat, tetapi juga alangkah membosankannya bila setiap pagi harus olahraga. Aku ingat tetanggaku, keluarga Pak Ardi, di rumah mereka ada berbagai macam alat olahraga yang sepertinya jarang sekali dipakai. Ada alat untuk berlari di tempat, bersepeda di tempat, sebuah bola besar untuk yoga, dan beberapa barbel. Alat-alat yang diletakkan di ruang tamu itu terlihat berdebu ketika aku disuruh ibuku menagih hutang ke rumahnya. Belum lagi kuperhatikan keluarga mereka gendut semua; yang tergendut adalah Pak Ardi, seakan dia memang ditakdirkan menjadi Kepala Keluarga Kegendutan.
Ah, membeli produk kesehatan ternyata tidak lantas membuat kita sehat. Malah mungkin membuat kita semakin sakit. Bukankah mempunyai barang-barang yang tidak terpakai adalah suatu beban? Kita harus membersihkannya, rumah menjadi sesak, setiap melihatnya kita berpikir tentang harganya. Oh ya, mengenai hutang itu, mengapa mereka memilih membeli barang tak terpakai daripada membebaskan diri dari kesulitan keuangan?
Ah, udara begitu sejuk. Di kiri kini berjajar pohon ketapang, sedangkan di kanan berjajar rumah-rumah, seolah mereka bersaing dalam hal kerapian. Telah ada beberapa orang yang juga berjalan kaki atau berlari sepertiku. Wajah-wajah mereka tidak ada yang kukenal, jadi aku tidak harus tersenyum pada mereka.
Ada seorang nenek yang berjalan tanpa alas kaki, mungkin ia adalah pensiunan yang dahulu ketika bekerja terpaksa memakai sepatu berhak tinggi nan runcing, sehingga yang dilakukannya sekarang tidak serta-merta bertujuan untuk kesehatan, melainkan karena balas dendam, sebab hal yang dulu dilakukannya sungguh menyakitkan. Ada juga sebuah keluarga kecil yang terdiri dari ayah muda, ibu muda, dan seorang bayi, mungkin itu anak pertama mereka. Bila dilihat dari senyuman mereka, sungguh mencerminkan sebuah keluarga bahagia. Bagaimana rasanya ya, menjadi anak bayi, nanar melihat kehidupan yang ketika dewasa nanti toh dilupakannya.
Di tikungan, ada dua orang yang menyalipku; keduanya lelaki, tubuh dan sikap tubuhnya seperti atlet, benar-benar seperti pelari profesional. Badan mereka agak kekar dan berotot, lari mereka konstan dan tidak terengah-engah. Kaos ketat dan short serta sepatu yang sepertinya begitu ringan, mempertegas tampilan mereka. Sungguh mengesankan.
Setelah beberapa menit berlari, aku ngos-ngosan juga, hingga aku kembali berjalan. Sudah ada beberapa kendaraan yang sepertinya menuju ke luar perumahan. Rata-rata mereka berpenampilan mirip denganku, terutama karena mereka memakai sepatu. Mungkin mereka akan pergi ke Car Free Day. Pernah sekali aku ke sana. Tempatnya begitu ramai. Mulai dari tempat parkir kendaraan sampai lokasi olahraga begitu padat, bukan hanya oleh orang yang berolahraga, tetapi juga oleh para pedagang; snack, makanan berat, minuman artifisial, minuman jadul, bonsai, perhiasan, pakaian bekas, pakaian baru, pakaian impor, pakaian sisa ekspor, pakaian kualitas ekspor, ikan hias, kelinci, ember, tas, kartu perdana, pulsa, hape, dan masih banyak lagi.
Ya Tuhan, jumlah pedagangnya lebih banyak daripada jumlah orang yang berolahraga. Pergi ke sana bukannya menjadi langsing, malah berpotensi obesitas, bukan hanya badan, tetapi isi rumah. Mall pun kalah oleh Car Free Day, karena barang jualan para pedagang berjajar berkilo-kilo meter.
“Kuliah di mana?” tiba-tiba sebuah suara dari belakang mengagetkanku. Rupanya Pak Wayan beserta istrinya. Aku bengong seketika, aku seperti tidak berada di mana-mana, kecuali di sebuah dunia yang hanya berisi aku dan dia, bahkan istrinya seperti berkilo-kilo meter jaraknya dari dia, “Kuliah di mana?”
“Saya, Pak?” akhirnya aku tersadar.
“Bukan, kakak kamu.”
“Oh, di Yogya, Pak.”
“Di Yogya di mana?”
“Di…”
“UGM, UGM ya?”
“Bukan, Pak. Di UPN.”
“Kamu?”
“Saya di sini, Pak.”
“Unram? Unram? Unram ya?”
“Bukan, Pak. Universitas Bumi Gora.”
“Oh,” dia berlalu meninggalkanku yang melongo.
Kali ini aku lebih awas, jangan sampai ada orang yang aku kenal menyapaku. Tetapi rupanya aku terlambat memasang kuda-kuda. Belum satu menit dari kepergian sepasang suami istri itu, ada sepasang suami istri lain yang datang dari arah berlawanan.
“Halo, Om, Tante.”
“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,” kata mereka serempak.
“Waalaikum Salam,” jawabku tercekat, kemudian menelan ludah, “Warahmatullahi Wabarakaatuh,” kataku menyelesaikan.
“Kok sendirian?”
“Iya, Tante.”
“Ibunya pasti ditinggal sendirian di rumah.”
“Oh, ndak Tante. Ada dua kucing juga di rumah. Hehehe.”
“Lain kali ya diajak bareng jalan-jalan. Kasihan kan ibunya sendirian di rumah.”
Rupa-rupanya itu bukan kali terakhir aku bertemu orang yang kukenal. Aku mulai curiga pada diriku sendiri, jangan-jangan lebih banyak orang di dunia ini yang kukenal daripada yang tidak kukenal. Bahkan ketika aku sudah sampai di depan rumah kembali dan hampir saja membuka gerbang yang terkunci, seseorang menyapa.
“Diandra ya, Diandra, kan?”
“Iya, Om.”
“Tahu tidak apa yang kurang di rumah kamu?”
“Hm…”
“Ayo…Coba pikir.”
“Apa ya Om?”
Ada jeda sepersekian detik di antara kami, seperti bukan untuk menjawab dengan benar, tetapi hanya menebak sebuah benda yang tersembunyi di balik kepalanya. Bisakah aku menebak satu benda dari beribu-ribu benda di dunia ini? Lalu dia menengok ke atas, ke arah tiang-tiang kanopi garasiku, lalu bergantian menengok bagian atas rumah orang-orang dan juga rumahnya.
“Hmmm…bendera ya, Om?”
“Mikir dong pake ini!” katanya sambil menunjuk kepalanya sendiri, “Bapak-bapak yang lain, tiap ketemu saya, bertanya-tanya lho, hanya rumahmu saja yang belum pasang bendera,” kata Om Dewa yang rumahnya tepat di seberang rumahku itu.
Di teras rumah, aku meregangkan badan yang berkeringat. Kucing-kucing datang menghampiriku, entah mengapa aku teringat anjing-anjing yang tak pernah menghampiri orang itu. Anjing-anjing yang efisien, sebab merasa tidak perlu berbasa-basi pada manusia-manusia yang toh tidak memberi mereka apa-apa, tetapi justru sering memperlakukan mereka dengan kasar.
Aku mengambil air putih di dapur. Rupanya Ibu belum bangun. Mungkin ada baiknya membeli alat-alat untuk bersepeda dan lari di tempat, seperti punya keluarga Pak Ardi. Walaupun kita tidak ke mana-mana dengan alat itu, setidaknya kita tidak dilindas manusia seperti siput sawah. Tiba-tiba aku merasa seperti dikuliti. Begitu dingin rasanya, tapi sekaligus panas-perih. Orang-orang tidak tahu bahwa mereka telah menyakiti, hanya karena orang lain tidak menangis di depan mereka. Mereka merasa melakukan hal yang pantas, hanya karena banyak orang juga melakukannya. Mereka terus melakukannya, karena tidak pernah menerima hukuman atas kejahatan-kejahatan kecilnya. Mereka lahir dalam keadaan putih bersih dan mati dengan dosa-dosa yang tak terdeteksi.
Minggu depan sepertinya aku harus pergi ke Car Free Day, membeli semua makanan yang ingin aku makan, bukan hanya yang bisa aku habiskan. Biarlah aku makin jauh tidak sesuai dengan para atlet pelari itu. Setelahnya, sebagai oleh-oleh untuk ibuku yang sendirian (dan juga kesepian?) aku akan membawakannya Ikan Mas Koki yang suka sekali membuka mulut tapi tidak pernah bersuara, seolah sadar bahwa mulut yang berbunyi lebih sering berakhir sebagai polusi. Wow! Ikan Mas Koki adalah Produk Ambasador bagi Car Free Day!
Oh ya, adakah yang menjual Ijazah Perguruan Tinggi Negeri di Car Free Day? ***