Category: Ni Komang Ariani

Pohon Kelapa di Kebun Bibi

 redaksicerpen  Sunday, 15 January 2017  0 Comments on Pohon Kelapa di Kebun Bibi

Cerpen Ni Komang Ariani (Media Indonesia, 15 Januari 2016) TUMPUKAN cucian piring sudah menunggu. Aku bisa menciumnya dari jarak beberapa…

Pohon Kelapa di Kebun Bibi

 redaksicerpen  Sunday, 15 January 2017  0 Comments on Pohon Kelapa di Kebun Bibi

Cerpen Ni Komang Ariani (Media Indonesia, 15 Januari 2017)  TUMPUKAN cucian piring sudah menunggu. Aku bisa menciumnya dari jarak beberapa…

Telapak Kaki yang Menyimpan Surga

 redaksicerpen  Sunday, 18 September 2016  0 Comments on Telapak Kaki yang Menyimpan Surga

Cerpen Ni Komang Ariani (Jawa Pos, 18 September 2016) SATU harian ini aku mengelus-elus telapak kakiku. Sesekali mencoba menghadapkannya ke…

Surat Menteri dan Mimpi Pengarang Tua

 redaksicerpen  Sunday, 26 June 2016  0 Comments on Surat Menteri dan Mimpi Pengarang Tua

Cerpen Agus Noor dkk. (Kompas, 26 Juni 2016) TOHARI, pengarang tua itu, gemetar memandangi surat yang baru saja diterimanya. Dari…

Lidah Ketut Rapti

 redaksicerpen  Sunday, 08 November 2015  0 Comments on Lidah Ketut Rapti

Apa yang dapat terjadi dalam sepuluh tahun hidup seseorang? Bisa jadi bukan apa-apa. Setiap pulang kampung ke Karangasem, aku melihat…

Laki-laki tanpa Cela

 redaksicerpen  Sunday, 14 September 2014  4 Comments on Laki-laki tanpa Cela

Cerpen Ni Komang Ariani (Media Indonesia, 14 September 2014) DIA hanya memberikan saya waktu sepekan untuk berpikir. Kata-katanya selama sepekan…

Kantor

 redaksicerpen  Monday, 17 February 2014  0 Comments on Kantor

Cerpen Ni Komang Ariani (Tabloid Nova 1356/XXVI 17-23 Februari 2014) APAKAH sebuah pekerjaan bisa membunuhmu?

Perempuan yang Tergila-gila pada Idenya

 redaksicerpen  Sunday, 22 May 2011  0 Comments on Perempuan yang Tergila-gila pada Idenya

Cerpen Ni Komang Ariani (Kompas, 22 Mei 2011) INILAH saatnya aku menyesal telah menikahi perempuan yang tergila-gila pada idenya. Tidak…

Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara

 redaksicerpen  Sunday, 30 May 2010  1 Comment on Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara

DEWA Made Dinaya sudah menduga di mana ia akan berakhir. Di tempat ini dengan posisi seperti ini.