Kubah

Belum habis asap membubung di dapur, bapak duduk di kursi rumah. Aku dan nenek dibuat terkejut. Kerinduanku membuncah. Aku berlari, melabrak, dan jatuh di pelukannya. Dua kantong plastik hitam di tangan bapak terlepas. Bapak, betapa aku merindukanmu. Aku ingin bapak tak jauh dari langkahku. Aku ingin bapak dan ibu seperti dulu, selalu mengajakku salat bersama. Aku sudah bisa salat dengan benar sebagaimana diajarkan bapak. Aku hafal doa iftitah. Aku lancar mengaji. Aku juga fasih mengatakan nama “Allah” dengan nada “L” tebal. Aku tidak lagi mengeluarkan suara “Aulah” jika menebalkan nama-Nya.

Baca juga: Andeng Karawung – Cerpen Fandrik Ahmad (Suara Merdeka, 02 Februari 2014)

Bapak membawakanku oleh-oleh tiga buah guci ukuran kecil. Guci-guci itu lucu dan imut, kawan. Dua guci berbentuk gajah dan satunya lagi berbentuk panda sedang duduk bersila. Selain itu, bapak membawakanku sebuah pistol yang akan mengaung gagang bila pelatuknya ditarik dan di sepanjang sisinya berpendar cahaya kerlap-kerlip.

“Anakku harus menjadi jagoan.” Bapak mengusap rambutku. Dia mengangkatku tinggi-tinggi. Aku merasa terbang.

Malamnya, aku ingin pipis. Tetapi, aku takut keluar dan mengajak nenek pergi ke selokan. Di luar sana bapak mengata-ngatai nenek dengan nada kasar. Bapak marah setelah tahu bahwa ibu bekerja tanpa sepengetahuannya. Kadang, suara itu diselingi bunyi benda jatuh. Entahlah, apa itu! Aku ngeri. Aku takut. Aku berlari ke atas ranjang dan menutup seluruh tubuhku dengan selimut.

Tanpa disadari, aku terlelap dalam kecekaman. Yang terakhir aku ingat adalah ketika aku membungkus diri dalam selimut. Aku membuka mata. Lelah sekali. Cahaya matahari menembus kamar dan jatuh pada dua kakiku. Astaga! Aku belum salat subuh. Di mana nenek? Kenapa dia tak membangunkanku.

Aku mencari keberadaannya. Ternyata, nenek duduk di emperan. Matanya masih sembap. Tak ada kata terucap. Mematung sendiri. Aku kembali teringat pada suara benda pecah tadi malam.

“Nenek?” Nenek memelukku. Erat.

Aku merasa ada air yang jatuh di punggungku. Ya! Air mata nenek. Mengapa nenek menangis? Mungkinkah karena hal semalam.

“Bapak di mana?” Aku sempat lupa kalau saat ini bapak berada di rumah.

Nenek tak segera menjawab. Aku terjebak dalam kebingungan. Tapi, akhirnya….

“Bapakmu sudah balik ke Jakarta,” katanya sambil me-nahan air yang hampir kembali tumpah.

Arsip Cerpen di Indonesia