Di ujung jalan, persis di tikungan tanpa traffic light, ada rambu dilarang berhenti. Tiang besi itu kira-kira tigapuluh senti lebih tinggi darinya. Dia melanggar peraturan, tepat di titik lambang huruf S dicoret itu dipasang. Dia berhenti setelah berjalan tak lebih dari lima belas langkah meninggalkanku. Aku melihat punggungnya perseginya dari tempatku duduk ini, dari kursi rotan rendah yang menghadap meja bertutup kaca tebal yang cuma dihuni sepasang cangkir, miliknya sudah kosong, punyaku tinggal separuh, isinya sama-sama kopi.
Sebaris status update di timeline, kurang dari 140 karakter, “Puji Tuhan. Tendangan si Adek makin kuat aja. Sabar ya, Dek… sebentar lagi Adek udah boleh keluar, kok.”
Akun istrinya. Mungkin perempuan itu mengira karena ada teori yang mengatakan bahwa mendengarkan musik klasik sejak dalam kandungan dapat membuat bayi terlahir sekian persen lebih cerdas, maka twitter-an pun harus diperkenalkan sejak dini, agar kelak ia tumbuh menjadi anak saleh yang melek teknologi. Mungkin juga ia telah belajar dari pengalaman, Steve Jobs sebelum menjadi tokoh yang mengubah wajah dunia dengan komputer estetis tanpa virusnya dulunya drop out sekolah, ditinggalkan begitu saja, pernah tidak diakui dan pernah tidak mengakui ayah kandungnya, sehingga hanya ketekunan dan doa ibunya yang sanggup merubah takdir. Mungkin saja perempuan itu sedang menghibur diri untuk mengatasi kecemasannya sendiri, atau sebenarnya ia sudah mengerti apa yang dilakukan suaminya di jam sarapan sepagi ini, bersamaku. Maka menyisipkan satu saja nama Tuhan di awal hari dalam salahsatu aplikasi jejaring sosial di smartphone, sudah cukup digdaya baginya untuk memalingkan suaminya dariku. Dan sepertinya, Tuhan juga menguasai teknologi micro blogging.
Aku balik ke kantor dulu.
Pesan singkat masuk. Padahal dia bisa saja memutar tubuh, melambaikan tangan atau sekadar mengucapkan itu. Aku jelas tidak mendengar tapi pasti bisa membaca gerak bibir, mataku cukup awas. Lagipula, jarakku dengannya masih tergolong sangat dekat.
Suami yang berbahagia. Mungkin genggamannya juga baru tergetar oleh kabar, anaknya segera lahir. Dan ia hanya ingin menjaga perasaanku dengan tidak membagi berita bahagia itu. Aku tidak berdoa, hanya buru-buru menelepon operator taxi yang nomornya sudah kuhafal luar kepala. Sebuah sedan kuning keemasan melintas segera, mobil keluaran baru, bersih, wangi dan sopirnya ramah. Melesat sebergegas perintahnya, “Ke Rumah Sakit Bersalin, Pak!”