Hanya dua jam berselang, terselenggara pesta di dunia maya. Foto, video, petunjuk lokasi, kronologi, rekonstruksi, konversasi, terunggah dalam kecepatan cahaya. Tidak perlu jadi bintang film untuk jadi terkenal, tidak perlu membuat kebijakan yang tak populis untuk menjadi kontroversial, tidak perlu berbuat kriminal untuk dipenjarakan atau dikucilkan secara moral. Cukup buatlah kalimat-kalimat sejuk yang menyemangati dan memberi motivasi, memasang foto keluarga dalam pose tak terlalu ditata namun ekspresif, saling berpandangan atau berpelukan—ayah, ibu, anak dengan tawa sumringah memancarkan kebahagiaan lahir batin. Dengan itu saja positioning segera terdefinisi: keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Kemeja yang dikenakannya masih yang tadi. Bayi perempuan dengan mata terpejam meringkuk di bawah ketiak istrinya yang tersenyum lebar meski tampak kelelahan. Kualitas fotonya bagus, mungkin cukup exposure sinar di ruangan rumah sakit mahal itu atau kameranya yang memang canggih, atau susternya kebetulan jago memotret. Kalimat-kalimat turut berbahagia dan doa-doa selamat silih berganti memenuhi halaman dan garis waktu. Aku masih di kedai ujung jalan itu. Memesan lagi secangkir kopi dan setangkup roti isi.
Namanya Linea.
Pesan singkat masuk. Tapi sebenarnya itu pesan panjang, pesan yang menumpang pada nama. Ia hanya tak perlu menjelaskan dan memerinci, sebab waktunya sempit, harus menjawab telepon dari handai taulan dan para kenalan, kerabat dan kolega, dan membalas ucapan selamat yang bertubi-tubi dengan, “Terimakasih atas perhatiannya. Semoga Tuhan membalas kebaikan Anda dan memberi kebaikan yang lebih baik.”
Linea adalah garis dalam bahasa Latin, garis batas dalam bahasa Spanyol, perbatasan dalam bahasa Mexico. Ia yakin, sebagaimana biasa aku akan mengerti maksudnya, “Cukup sampai di sini.” Ia sedang memintaku untuk tak melangkah lebih jauh, atau jika di-parafrase-kan lagi kalimatnya akan berbunyi, “Janganlah melampaui batas.”
Dia barangkali hanya belum menyadari telah memandang istrinya terlalu tinggi dan melihatku terlalu rendah.
Sepanjang ingatanku, tak pernah ia mencela istrinya. Sebab istrinya sempurna. Istrinya adalah bidadari yang dikirim dari langit berkendaraan bintang setahun silam, pandai memasak apa pun yang ia suka termasuk menu-menu baru di restoran atau cafe-cafe yang baru buka. Istrinya bahkan bisa memasak jamur hingga terasa mirip suwiran daging ayam dan membuat lele terasa begitu gurih, garing tapi dagingnya tetap tebal dan empuk. Istrinya selalu memujinya meski ia pulang dalam keadaan lusuh, berkeringat dan bau. Memijitinya tanpa diminta dan menyambutnya di tempat tidur dengan lingerie berenda, pubis tercukur rapi dan rambut yang tergerai harum, mempersembahkan diri hanya untuknya, sebab saat ke toko membeli merica bubuk istrinya bercadar dan ketika memeriksakan kandungan sejak awal ia memilih ginekolog perempuan.