Dengan begitu, yang diinginkannya adalah menutup bab ini dengan bahagia, dengan sebuah garis batas. Tiga bulan sudah terlalu lama, ia tak ingin keterusan dan membuat kecemasan istri bidadarinya terbukti. Ia ingin kembali ke jalan yang lurus, yang tak mempersilakan sekutu terhadap apa pun, termasuk tak menyekutukan pendamping hidup dengan menghadirkan pendamping lain. Ia ingin kembali menjadi suami yang setia, yang penuh perhatian dan berdedikasi kepada keluarganya, yang merupakan amanah baginya.
Jadi, kali ini dia tampil sebagai paragraf eksposisi, paragraf yang berisi ide, pendapat, buah pikiran, informasi atau pengetahuan yang bertujuan untuk memperluas wawasan, menjelaskan suatu hal tapi tidak memaksa pembacanya memercayai atau mengikuti isi eksposisi itu. Dia sedang berusaha menunjukkan padaku, meski tetap sepenuhnya menyerahkan keputusan akhirnya kepadaku, bahwa akan tiba saatnya aku harus berhenti. Berhenti menghubunginya, berhenti menemuinya, berhenti menanyakan kabarnya, berhenti mengkhawatirkannya, berhenti mengharapkannya. Sebab dengan demikian, keadilan ditegakkan, aku adil terhadap perasaanku, ia adil terhadap perasaannya. Keadilan-keadilan yang kami upayakan nanti akan membuahkan keadilan bagi orang lain juga, dalam hal ini istrinya dan keluarganya. Mungkin tidak mudah, tapi itulah yang harus dijalani. Bukan soal inilah realita kehidupan atau apa, tapi intisari hidup ini, katanya adalah, “Perkara mengekang diri.”
Aku membayar tunai lima cangkir kopi dan tiga jenis kudapan non-nasi. Melalui phone-banking kudapat konfirmasi transfer antar bank sejumah sekian belas juta rupiah, status: berhasil. Kulunasi biaya persalinan istrinya. Ia tidak berterimakasih karena mungkin belum tahu, tak perlu juga berterimakasih kepadaku karena sesungguhnya justru dirinyalah yang memberiku pelajaran baru, aku tak enak hati menerimanya secara cuma-cuma. Sepuluh tahun lalu, aku bisa menerima ciumannya secara gratis setiap kali kami bertemu tidak hanya di malam minggu, menikmati detik-detik bersamanya tanpa bayar, hanya berbekal kata cinta atau isyarat suka sama suka. Lima tahun lalu aku bisa menolak maharnya yang berjajar-jajar angka nolnya dengan alasan belum siap, lalu melarikan diri ke berbagai benua sembari memintanya menunggu dan menjaga baik-baik hatiku. Sekarang tidak. Keadilan harus ditegakkan. Aku harus belajar mengekang diri.
Surabaya-Singapura masih tiga jam lagi. Tapi lebih baik menunggu di Bandara dan menulis puisi ketimbang menenggelamkan lambung dengan cafein. Puisi tanpa paragraf pertama, sebagaimana yang diinginkannya. Aku belum tahu cara meloncat ke paragraf kedua tanpa aba-aba, tapi kupikir, semuanya soal kebiasaan saja. Dan aku tidak mau terlalu terbebani, setelah tiga bulan yang manis ditutup dengan kelahiran Linea, maka langkahku ringan saja sampai ke meja check in ketika pesan singkatnya tiba: