Setahun sejak kematian nenek dan ibunya, Stefani kerap disergap mimpi-mimpi buruk yang mengerikan. Mimpi bergelimang darah selalu mengepung tidurnya. Untuk mengusir kegilaan itu, dan takut tergoda mengikuti jejak neneknya—melakukan percobaan bunuh diri secara dini—atau mengonsumsi narkoba, ia pun menyalurkan cerita mimpinya ke dalam kanvas-kanvas lukisan. Stefani melukis apa saja yang dilihatnya dalam mimpi, untuk mengenyahkannya dari alam bawah sadarnya, berbagai adegan mimpi itu di atas kanvas-kanvas lukis. Kini ia tahu, mengapa neneknya sering mendongengkan mimpi-mimpi buruk. Rupanya itu sebagai penyaluran. Agar nenek tak gila.
***
Stefani menyelesaikan isapan rokok terakhir sebelum membenamkan puntungnya ke dalam gelas minuman di sisi jendela. Ia membuka kunci jendela dengan sebelah tangannya. Udara dingin langsung berembus kencang mencubiti sekujur kulitnya yang tak sempat tertutup selimut hangat. Butir-butir salju yang baru turun bagai menari-nari memasuki kamarnya. “Walaupun dingin, aku butuh sedikit udara segar,” ujarnya kepada diri sendiri.
Stefani menyibakkan rambut dan menggosok pipinya dengan telapak tangan. Rupanya hawa dingin hampir saja membekukan wajah cantiknya. Ia segera menutup jendela kamar. Lantas berjalan keluar kamar, berdiri di depan sebuah kanvas berukuran besar yang belum tersapu cat minyak. Tak lama setelah itu, ia tenggelam dalam keasyikan melukis. Tangannya dengan lincah bergerak-gerak menyapu permukaan kanvas dengan kuas. Memindahkan mimpi-mimpinya, perasaannya berangsur-angsur menjadi tenteram.
***
Beberapa bulan lalu, ia memperlihatkan lukisannya kepada seorang sahabat. Patrick begitu terpukau oleh lukisan Stefani. Itulah lukisan para malaikat dengan sayap hitam yang terkembang, melayang-layang di langit merah darah. Keganjilan lukisan itu malah memesona Patrick. Ia memohon untuk melihat lukisan Stefani yang lain. Maka, diajaklah Patrick masuk ke sebuah ruangan yang menyerupai gudang. Dinding-dinding ruangan itu dihiasi berbagai lukisan hasil pelampiasan mimpi-mimpi buruk Stefani. Di dekat lemari besar yang dipoles mengilap, ada sebuah lukisan teronggok begitu saja, tersandar pada lemari. Patrick terkesiap dan hampir menjerit melihat lukisan itu, namun ia langsung menguasai dirinya. “Begitulah rupa iblis,” ucap Stefani, ringan. Gambar seraut wajah dengan mata bersinar merah cerah. Mulutnya berbusa dan sedang menggigit sebuah kitab. Mungkin kitab suci sebuah agama.
Patrick, kurator lukisan, tentu saja bagai menemukan harta karun. Mulutnya sampai ternganga-nganga dan tak henti-henti lidahnya berdecak menimbulkan suara serupa cicak yang sedang berburu mangsa di dinding. Dirancanglah sebuah pameran lukisan karya Stefani. Meski Stefani sempat menolak, berkat argumentasi Patrick yang cemerlang, akhirnya Stefani mau juga menggelarnya. Pameran diselenggarakan di sebuah galeri seni di Jakarta. Banyak pengunjung pameran lukisan itu.