Mimpi Stefani

Entah apa sebabnya, ada sekelompok orang merasa tak suka dengan lukisan karya Stefani. Mereka begitu marah dan mengancam akan membakar galeri dan seluruh lukisan Stefani apabila pameran tak dihentikan.
“Demi Tuhan, itu lukisan-lukisan setan!” pekik kelompok orang yang semuanya memakai serban, peci, dan gamis putih. Mereka menunjuk lukisan sebuah wajah dengan mata bersinar merah cerah dengan mulut berbusa dan sedang menggigit sebuah kitab. Wajah mereka tampak menjadi lebih seram dan sangar daripada wajah dalam lukisan itu. Mereka mengepung galeri itu. “Bunuh pelukisnya!” teriak yang lain. Stefani tersenyum miris, sebelum ia memutuskan angkat kaki dari galeri dengan linangan air mata dan kebencian.

***

Stefani menempati sebuah rumah berbentuk setengah lingkaran dengan halaman depan selalu tertutup salju bila musim dingin tiba. Beberapa bagian atap rumahnya mencuat ke atas seperti menjulang menggapai langit malam. Itulah mengapa Stefani memilih rumah ini sebagai tempat tinggalnya di Jerman. Rumah dengan keheningan yang ganjil.
“Bahkan, malaikat maut pun enggan datang ke sini,” gurau Stefani ketika teman-temannya dari Indonesia mengunjungi kediamannya, sebulan lalu. Peristiwa pameran lukisan itu akhirnya membawa Stefani ke Kota Rheine. Ia memilih meninggalkan Indonesia dan menetap di Jerman.
Pagi telah tiba. Tapi, rumah Stefani tidak menunjukkan tanda-tanda tentang itu. Sinar matahari yang redup tak mampu merembes melewati tirai yang ditempel di satu-satunya jendela di balkon rumahnya. Stefani telah menyelesaikan lukisannya semalam. Ia menegakkan punggungnya. Stefani melihat ke arah jam dinding. Tiga jam lagi seharusnya mereka tiba. Ia ingin semuanya sudah siap sebelum itu. Ia menata meja dan kursi-kursi di ruangan tengah. Ia pun menyiapkan cangkir-cangkir dan piring-piring untuk beef pie cake dan champagne bagi para tamunya nanti. Sebentar-sebentar ia memandang jam dinding yang tampak berdetak lambat. Sampai tiga jam berlalu. Saat Stefani menyimpan kembali beef pie cake dan champagne itu ke dalam lemari pendingin, pintu rumahnya diketuk seseorang dari luar. Ia bergegas menuju beranda.
“Akhirnya datang juga!” serunya dalam hati. Tamunya dua orang perempuan. Seorang perempuan tua dan seorang lagi perempuan paruh baya. Perempuan tua tersenyum, menunjukkan gigi-giginya yang masih utuh walaupun di usia senja. Kulitnya berwarna pucat. Rambutnya nyaris putih semua dan bergantung selurus panah ke bahunya, tepat mengusap kerah jas hitamnya. Perempuan yang lain memiliki raut wajah yang cantik seperti Stefani. Ia tersenyum, kulit wajah bersemu merah, seperti menahan rasa rindu yang berlarat-larat pada Stefani. Ia memakai rompi bulu-bulu tebal dan bercorak simbol-simbol perak yang terpilin-pilin. Mereka berdua kelihatan seperti bidadari yang baru saja keluar dari sebuah buku. Ya, dari sebuah buku layaknya cerita dongeng.

Arsip Cerpen di Indonesia