Mimpi Stefani

“Nenek, Mama, aku kangen!” seru Stefani menghambur memeluk dan menciumi pipi kedua perempuan itu.
“Bagaimana perjalanan kalian dari Belanda ke Jerman?” tanya Stefani. Mereka lantas terlibat percakapan yang penuh kehangatan. Di ujung beranda yang tertutupi serpihan salju, bergerak-gerak ke arah mereka bayangan hitam pekat dengan gerakan terputus-putus yang tajam. Meski gerakan bayangan hitam itu tersentak-sentak, bayangan itu mendekat dengan gesit.
Tiba-tiba terdengar bunyi gerincing logam bertemu logam. Derap sepatu di lorong beranda. Suara jeritan yang tercekat dari mulut nenek dan ibunya, ketika kepala mereka menggelinding di lantai ruang tamu. Darah tepercik di wajah Stefani. Stefani terbangun di ranjangnya sendirian, lagi-lagi dengan mimpi buruk yang kian bergejolak. Ia menyeringai sebelum menyulut sebatang rokok yang telah ia sisipkan di belahan bibirnya yang seksi.
“Mimpi sialan!” Stefani kini sedang melukis mimpinya.
 

Jakarta, 2012

Bamby Cahyadi, bergiat di Komunitas Sastra Jakarta (Kosakata). Bukunya, Kisah Muram di Restoran Cepat Saji (2012).

Arsip Cerpen di Indonesia