Jimi dan Jami

Cerita Anak Boem (Analisa, 15 Desember 2013)

Dl sungai yang ditumbuhi pohon-pohon yang lebat di tepinya ini hiduplah seekor siput dan kura-kura. Si ciput bernama Jimi dan Si kura-kura bernama Jami. Mereka adalah teman sepermainan.

Suatu sore ketika mereka sedang duduk-duduk di tepi sungai, datanglah Unui si kelinci menghapiri mereka. Unui menyampaikan undangan dari Karmen si kera raksasa yang tinggal di hulu sungai. Besok ia berulang tahun. Pestanya di mulai pukul sepuluh pagi.

“Jam, besok kita perginya sama-sama ya! Pasti banyak makanan yang enak di sana.”

“Ya. Kita berangkat pukul sembilan supaya tidak terlambat.”

“Ah, itu terlalu cepat, Jam. Nanti kita terlalu lama menunggu.”

“Mengapa begitu, Jim?”

“Ya. Karena pesta di sini tak pernah tepat waktu. Bisa-bisa terlambat satu sampai dua jam.”

“Tapi tak ada salahnya jika kita sampai tepat waktu.”

Hari mulai gelap. Mereka pun pulang dan berjanji akan pergi bersama ke pesta si Karmen.

Pagi ini tepat pukul sembilan, Jami sudah di tepi sungai. Dia melihat ke sana ke mari mencari sahabatnya. Sayang, sahabatnya itu belum nampak juga batang hidungnya. Karena takut terlambat pergi ke pesta dan menyadari keadaan mereka yang tak bisa cepat kalau berjalan, akhirnya Jami pun pergi ke rumah Jimi.

Betapa terkejutnya Jami menyaksikan Jimi masih tertidur lelap. Dia panggil-pangil sahabatnya itu, tapi belum juga ada tanda-tanda kalau Jimi akan bangun. Karena sudah tidak sabar, akhirnya digerakkannya tubuh Jimi dengan cangkangnya. Jimi pun terbangun.

“Cepat sekali kamu datang, Jam!”

“Ah. Ayo kita pergi ke pesta?”

Jimi yang merasa pintar itu menertawai Jami. “Pesta itu akan selalu terlambat di mulai dari jam yang ditentukan, Jam! Apa kau bisa menunggu dengan hidangan yang sedap-sedap di depanmu?”

Jami menggelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya. Meski demikian, Jami menurutkan apa yang disampaikan Jimi. Dia pun menunggu sahabatnya itu dengan sabar.

Tepat pukul sepuluh mereka pun berangkat ke pesta Karmen. Lalu Jimi yang berlagak pintar itu berkata pada Jami. “Kau lihat ini, Jam. Jalan masih sepi. Pasti kita yang duluan sampai ke pesta walau kita juga sudah terlambat.”

Mereka berjalan sambil membayangkan makanan dan minuman yang enak-enak di sana. Sampai di tengah perjalanan terlihat Unui dan teman-temannya dari arah berlawanan. Mereka terlihat sangat girang.

“Hai, mengapa kalian baru datang? Pesta baru saja usai.” Sapa Unui pada dua sahabat itu. “Ini sudah pukul dua belas. Pesta di mulai tepat waktu.”

Mendengar hal itu. Jami merasa kesal pada Jimi. Karena dialah Jami akhirnya tak dapat menghadiri pesta dan menyantap hidangan yang enak itu. Lalu Jami berkata pada sahabatnya. “Sudahlah lambat, sok pintar pula. Inilah jadinya.”

Melihat sahabatnya kesal, Jimi pun meminta maaf pada Jami atas perlakuannya pada Jami. Dia berjanji jika nanti ada pesta lagi, dia akan datang tepat waktu. ***

.

.

Arsip Cerpen di Indonesia