Raut muka cemas memang tampak ketika peletakan batu pertama. Namun segala bayang-bayang yang telah bercokol di kepala mereka tidak terwujud nyata. Mereka pun tak keberatan dan tak perlu merasa khawatir kembali. Sampai pada pembangunan waduk hampir rampung, sampai pada retakan tanah, sampai pada tanah yang ambruk, perasaan cemas kembali pula bercokol.
Warga di yang tinggal sekitarnya mendapat bantuan renovasi rumah. Rajuan jerami atau daun lontar berganti bangunan batu bata bersusun rapi. Pada siang hari, anak-anak jarang terlihat mandi dan mengusili ikan-ikan kecil di sepanjang selokan. Jarang pula bermain orang-orangan di sawah. Mereka tidur pulas.
Rumah yang nyaman ditinggali membuat mereka lupa satu hal. Betapa andeng yang kerap menudungi bukit setelah turun hujan tak tampak lagi. Andeng enggan minum dan bidadari tak lagi mandi di sana. Mereka tak merasakan kecuali Sumar seorang. Ketiadaan andeng membuat bukit Karawung tak sekeramat dahulu.
Sebagai keturunan orang pintar, terpanggi hatinya mengembalikan kewibawaan Bukit Karawung. Maka muncullah kabar ular penjaga bukit Karawung keluar dari pertapaan. Menggegerkan rumah warga.
***
Baca juga: Solilokui Kemboja – Cerpen Fandrik Ahmad (Republika, 30 November 2014)
Di pos ronda, Sumar sedang berpikir keras. Tubuhnya yang mulai ringkih tak dapat memejamkan mata. Apabila ia tak membuktikan adanya ular raksasa itu, maka kabar yang dikuat-kuatkan akan hilang dengan sendirinya. Bisa saja sebutan si tukang bohong bisa menghampirinya. Sementara warga akan kembali bermalas-malasan.
Sumar terus menekur. Sepasang burung hantu bersitatap. Nyamuk tampak ganas karena malam itu ia seorang di pos ronda. Di pikirannya muncul seorang kawan lama. Seseorang yang ahli menjinakkan ular. Barangkali memang sulit mencari ular besar yang sesuai dengan cerita yang sudah tersebar luas. Namun, sebagai seorang pawang, tak akan sulit baginya mengumpulkan aneka macam ular sebanyak mungkin, batinnya.
***
Hujan turun deras sekali. Petir menyambar dahsyat. Angin bertiup kencang. Di dalam rumah, kepala-kepala menatap cemas ruahan air yang seperti ditumpahkan dari bejana raksasa. Jalan setapak tergenang air. Rumput-rumput terendam. Dedaunan kering terbawa arus. Rerantingan bergoyang-goyang seolah tak kuat menahan tikaman air yang begitu runcing dan bertubi-tubi.
Di balik jendela kaca yang buram, Sumar tersenyum lebar. Ia tampak bahagia menyaksikan hujan yang seperti hendak menenggelamkan bukit. Pembendaharaan kata sudah menumpuk sebagai cerita sehabis hujan; kepada warga yang mengindahkan peringatannya.