“Bagaimana caranya agar aku bisa melupakannya, Lauraku sayang?”
“Percuma kamu bergelar sarjana kalau kau sendiri masih mempertanyakan hal yang sebenarnya sepele.”
“Ini beda, Lar …, eh Laura ….”
“Pakai mesin-mesin kamu itu untuk menggembleng otakmu, Bodoh!”
“Laura …!!!” Satria terus mengetuk-ngetuk pintu kamar Laura makin lama makin keras.
“Kau boleh temui aku setelah kau benar-benar lupa pada mantanmu itu. Terima kasih.”
“Laura ..!!!” seketika tangan Satria berhenti mengetuk pintu. Ia bangkit. Tertunduk lesu, lalu pulang dengan kecewa.
***
PADA suatu hari, ada seseorang datang menemui Laura. Ia memberikan sepucuk surat kepadanya, lalu pergi. Dibacanya surat itu:
Laura tercinta,
Melalui surat ini kukabarkan bahwa pukul sepuluh di hari jadi hubungan kita yang pertama aku ingin memenuhi keinginanmu. Aku ingin melupakan mantanku dengan caraku sendiri yang jika berhasil dijamin 100% aku bisa melupakannya. Kebetulan aku bekerja sama dengan dokter yang ahli pemetaan otak. Aku telah membuat sebuah mesin penghapusan memori otak. [1] Ini memang hasil perenunganku selama beberapa bulan belakangan ini. Kemungkinannya ada tiga dari hasil kerja mesin ini. Pertama, aku benar-benar bisa melupakan dia. Kedua, seluruh memori yang tersimpan di otakku akan terhapus seperti amnesia. Tapi yang ketiga, inilah risiko dari mesin baru dan belum pernah dicoba sebelumnya: aku bisa gila. Aku sudah memikirkannya dengan sungguh-sungguh risikonya. Aku tidak ingin mengecewakanmu, Laura. Aku ingin menemuimu lalu kita menikah. Setelah kamu membaca surat ini, aku harap kamu bisa memaafkanku dan menemuiku.
Salam cinta,
Satria Wijaya