Belati di Dada Alya

Alya hanya tersenyum lebar. Ia berusaha untuk memberikan kesan seramah mungkin. Tetap saja beberapa perempuan di hadapannya belum mampu sepenuhnya mengendalikan kekagetan mereka. Meski tidak ada pertanyaan lagi setelah itu—mereka harus terus melangkah—para tamu yang telanjur melihat belati di dada Alya tidak mampu meredakan rasa penasarannya, bahkan setelah kekagetan mereka mereda.

Belati itu terlihat nyata. Meski gagangnya senada dengan warna gaun yang dikenakan Alya, ujung gagangnya terlihat mencolok karena berwarna merah darah dan ternyata—setelah diamati dari dekat—berbentuk hati.

Seorang lelaki semula bertanya, melihat lebih dekat dan teliti ke dada Alya untuk memastikan adakah aliran darah yang mengucur.

“Kamu melihat apa, Pah?”

“Tak ada darah yang mengalir.”

“Kamu melihat darah atau dada perempuan itu?”

Lelaki itu menggumamkan sesuatu sembari menarik pandangannya dan mengingatkan pasangannya untuk terus berjalan. Alya tersenyum melihatnya. Senyuman yang tersungging begitu saja tanpa ia sadari, yang mengembang bukan untuk memanipulasi nyeri di dadanya.

“Teruslah berjalan,” Mama Alya kembali mendorong dengan jemarinya. Alya mengayunkan kaki beberapa langkah dan berhenti lagi.

Mengantre memang harus banyak bersabar, khususnya dalam resepsi pernikahan. Para tamu umumnya tak sekadar ingin mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Banyak di antara mereka berfoto dengan mempelai yang membuat antrean tak ubahnya bagai deretan mobil yang terjebak dalam kemacetan.

Dari tempatnya berdiri, Alya bisa mendengar suara pengarah gaya yang mengatur posisi orang-orang agar membentuk lengkungan sempurna di kiri dan kanan mempelai. Posisi klise yang selalu terlihat dalam pesta pernikahan.

Sudah semakin dekat….

Arsip Cerpen di Indonesia