Tiba-tiba saja, mempelai pria sudah berdiri di hadapan Alya. Ah, tidak. Alya yang berdiri di depan mempelai pria. Alya nyaris tidak menyadarinya ketika tangannya sontak terulur. Entah apa yang meluncur dari bibirnya, ia tidak mendengar dengan jelas. Tapi telinganya mampu mendengar ketika mempelai pria mengucapkan terima kasih.
“Tidak menyangka kamu datang.”
Kali ini Alya mendengar suaranya dengan lebih jelas. Justru mempelai wanita yang tidak mendengar karena masih berbasa-basi dengan para tamu lainnya.
“Kamu ingin aku tidak datang?”
Mempelai pria tersenyum masam. Butir-butir keringat memenuhi dahinya, mengotori riasan tipis di wajahnya yang pucat. Seharusnya dia tidak perlu berkeringat di ruangan yang sejuk dan nyaman. Di hari penuh kebahagiaan pula.
Alya lalu mengucapkan selamat kepada mempelai wanita ketika mamanya mulai berbasa-basi dengan mempelai pria. Dia mempercepat langkahnya saat mendengar suara mamanya memuji kecantikan sang mempelai wanita. Kalimat itu ditutup dengan harapan agar mereka berdua bahagia dalam membangun keluarga sakinah. Entah apa yang dikatakan mamanya kemudian, yang jelas Alya hanya mampu menangkap samar suara tawanya. Alya berharap Mama tidak memanggilnya untuk berfoto bersama mempelai. Beruntung doa Alya terkabulkan, meski bagian itu tidak masuk dalam kesepakatan mereka sebelum berangkat tadi.
Alya dan mamanya membuat beberapa permufakatan sebelum berangkat ke pesta, termasuk ia bebas mengenakan pakaian apa pun sejauh itu tidak melanggar kesopanan. Mengenakan gaun hitam tentu bukan pelanggaran meski semua orang tahu itu simbol perkabungan.
Seminggu sebelumnya Mama sudah mendesaknya agar berbesar hati untuk datang ke pesta meski dengan dada terluka. Itu bukan tawaran mudah untuk Alya mengiyakannya. Lelaki itu adalah alasan tentang keberadaan belati yang kini menancap di dadanya.