Belati di Dada Alya

Alya merasa tidak terlalu berhasil tadi. Tapi mengingat ia masih bisa tetap tegak melangkah dengan bibir tersenyum, itu patut disyukuri. Padahal, cerita penuh romansa di masa lalu bersama sang mempelai lelaki, janji-janji yang teringkari, dan penantiannya yang bermuara di ruang kosong, bagai film yang diputar ulang dalam ingatannya, saat berada di panggung pelaminan tadi. Sang Mama memuji-muji ketegarannya.

Udara panas menyergap seketika begitu Alya menjejakkan kaki di luar. Namun, Alya merasa lebih sejuk berada di luar gedung dibandingkan di dalam ruangan pesta meskipun dilengkapi pendingin udara.

“Kita langsung pulang?” Mama meraih tangannya, seolah ingin mengalirkan kekuatan.

“Alya ingin minum dulu, Ma,” sahutnya. Banyak jenis makanan dan minuman di dalam sana. Tapi ia hanya mampu menelan beberapa suap nasi dan minum setengah gelas air putih dingin. Tak lebih.

Ketika sedang menunggu taksi, Alya merasa tubuhnya sangat ringan. Belati bergagang hati serasa sudah terlepas dari dadanya. Hilang tak berbekas. Tak ada luka menganga, tak terlihat darah mengalir.

Suara ribut-ribut di dalam gedung mengusik perhatiannya. Para tamu terlihat panik. Yang sudah telanjur keluar, masuk kembali penuh rasa ingin tahu. Lalu keluar lagi bersama arus orang-orang yang tak sejalan, ada yang mendesak masuk dan banyak yang bersesakan ingin keluar. Suasana semakin riuh.

“Ada apa?” Seseorang bertanya, mencari tahu pada beberapa tamu yang melewatinya.

“Ada pisau tertancap di dada mempelai pria!”

“Alya…?” Wajah Mama memucat. Ia menarik pergelangan tangan putrinya dan menyeretnya masuk ke dalam gedung. Raut kecemasan kentara membayang di wajahnya. Tapi Alya bersikukuh. Ia menarik tangan mamanya ke arah berlawanan.

“Taksi kita datang, Ma,” sahut Alya tanpa menoleh lagi ke belakang. Sedikit pun tidak.

***

 

Ayi Jufridar bekerja sebagai jurnalis dan penulis fiksi di Lhok Seumawe, Aceh. Cerpen-cerpennya dimuat di berbagai media cetak daerah dan nasional. Empat novel yang sudah terbit, Alon Buluek (2005), Kabut Perang (2010), Putroe Neng (2011) dan 693 KM Jejak Gerilya Sudirman (2015).

Arsip Cerpen di Indonesia