Semoga Belum Terlambat

Tapi bagi anak-anak yang sudah cukup lama mengenalku, aku tidaklah seseram penampilan fisikku. Aku sangat baik dan ramah, begitu menurut mereka. Aku suka memberi makanan, minuman, permen, es krim, bahkan uang tanpa mereka minta sekalipun.

Meskipun aku tak punya pekerjaan tetap, aku kerap menyumbangkan uangku kepada siapa saja yang membutuhkan. Pekerjaanku serabutan, seperti memulung sampah, lalu kujual kepada penadah di pinggiran kota. Aku juga terkadang jadi juru parkir tidak resmi di pasar induk dan tenaga keamanan swakarsa. Secara rutin aku menyumbangkan uang hasil mulung dan markir ke masjid di gang sempit perkampungan kumuh ini. Banyak warga heran, aku selalu menyumbang uang untuk masjid, padahal mereka tak pernah melihat aku sembahyang di masjid itu atau di rumahku sekalipun. Aku tak pernah berpuasa di bulan Ramadan. Mungkin menurut mereka aku tak beragama. Pandanganku tentang agama memang berubah drastis ketika ayahku mati puluhan tahun lalu.

Aku tak peduli dengan omongan orang-orang mengenai sembahyangku, puasaku, ibadahku, bahkan mengenai keimananku.

***

Aku berhenti sembahyang, puasa, mengaji dan beribadah di musim kemarau berpuluh-puluh tahun lalu, ketika aku melihat ayahku mati bunuh diri. Ia menembak langit-langit mulutnya sendiri dengan pistol. Ayahku adalah tentara pembasmi anggota partai komunis atau yang diduga komunis kala itu. Kematian ayahku sangat efektif karena pada detik pertama peluru itu meletus, putus pula napas ayahku.

Aku tak bisa berbuat banyak, karena aku masih kanak-kanak. Aku hanya mampu memandang wajah ayahku yang menoleh ke arahku dalam keremangan dekat ranjang tempat tidur di mana ia menyudahi hidupnya. Aku menyadari betul ayahku memang sudah lama berniat bunuh diri. Aku merasa putus asa untuk merayu ayahku agar tidak bunuh diri. Aku pernah mencoba membujuk ayahku, bahwa ia membunuh petani-petani kelapa sawit yang dituding komunis itu adalah tugas negara. Aku juga bilang, ayah bertobat saja, berhenti dari dinas militer. Nyatanya ayahku mati dengan isi kepala berpencar.

Aku merasa sia-sia, ternyata hubunganku dengan Tuhan bertepuk sebelah tangan. Waktu itu, dalam setiap doaku dalam sembahyang, aku selalu memohon kepada Tuhan agar dosa-dosa ayahku diampuni. Aku masih berdoa saat ayahku hendak bunuh diri, agar Tuhan menggagalkan usahanya, misalnya pistol yang digunakannya ternyata kosong peluru, atau paling tidak saat dikokang, pistolnya macet. Tapi, ayahku mati tanpa pertolongan Tuhan. Tanpa bantuan malaikat pencabut nyawa. Ayahku telah menentukan kematiannya sendiri, bukan Tuhan. Lalu kenapa aku harus sembahyang dan berdoa memohon pertolongan Tuhan? Apalagi berpuasa di bulan suci dan mengaji. Kenyataannya ayahku lebih berkuasa dari Tuhan ketika menarik pelatuk pistol. Yang aku lakukan hanya menangis. Aku kehilangan ayah. Aku merasa ditinggal Tuhan.

Arsip Cerpen di Indonesia