Semoga Belum Terlambat

Setelah aku tumbuh dewasa, aku punya sehektare kebun kelapa sawit. Aku hidup berkecukupan. Hanya saja, wabah malaria menyerang kampungku, dan menewaskan anak dan istriku. Perihal kematian anak dan istriku pun kuanggap bukan kuasa Tuhan. Tetapi disebabkan oleh serangan nyamuk jahanam itu. Aku merantau ke Jakarta. Tujuanku menetap di Jakarta, untuk melupakan kenangan atas anak dan istriku, bukan karena faktor ekonomi semata.

***

Rumahku di ujung gang dekat kali dan pohon mangga. Rumahku saling berdempetan dengan rumah-rumah kumuh lainnya di pinggiran kali. Aku dan Hasan tinggal serumah. Hasan sama denganku, tak pernah sembahyang.

Pagi ini aku pergi ke sebuah stasiun. Bulan puasa tinggal menghitung hari. Persiapan menjelang bulan suci tampak semarak ketika aku melewati pasar menuju stasiun. Sebuah kereta komuter memasuki stasiun. Aku buru-buru membeli tiket dengan tujuan Bogor.

Aku turun dari kereta dan keluar dari peron. Langkahku terpincang-pincang di tengah keramaian penumpang yang turun dan naik ke kereta komuter ini. Aku sedikit terkejut saat melihat lelaki tampan memakai kain ihram itu menungguku dan kini mendekatiku. Aku mengangakan mulutku yang pasti terlihat jauh lebih lebar dari ukuran normal. Di dalam mulutku sudah jelas tampak deretan gigi tajam mengenaskan yang masih tersisa. Ternyata ia nyata, memang aku tidak bermimpi semalam, batinku.

Lelaki tampan itu lantas berkata, “Kukira kau tidak akan datang.”

Aku kembali mengangakan mulutku. Ia mengajak aku ke sebuah pojokan dekat toilet umum di luar stasiun.

“Se.. se.. sebenarnya kau siapa dan mau apa?” tanyaku. Aku bicara serupa siput kecil yang tertatih-tatih berjalan di selembar daun pisang. Ia tersenyum misterius. Aku melongo tak mengerti, wajahku mirip jaring laba-laba tipis berwarna keputihan.

Matahari tepat berada di ubun-ubunku. Lelaki tampan itu tersenyum memandangku sebelum ia mendongak melihat langit. Ia seperti melihat bentangan riwayat hidupku.

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba aku merasakan angin panas bertiup amat kencang membawa berbagai benda beterbangan membentuk pusaran besar yang bergerak hebat mengantarkan aku pada sebuah suasana hening. Aku merasakan keheningan yang begitu ganjil. Keheningan yang lantas berganti dengungan panjang.

Entah berapa lama. Ketika aku dengan susah-payah membuka kelopak mata, ada beberapa jemari yang saling menggapai, sisa puntung rokok di atas rel dan batang korek api bekas berserak di antara bebatuan. Tubuhku serasa melayang. Aku merasa bagai sebuah boneka bertali yang tiba-tiba dipotong benangnya. Tubuhku melayang lagi. Sebuah kereta komuter jurusan Bogor-Jakarta Kota baru saja menyambar sesuatu.

Arsip Cerpen di Indonesia