Belalang yang membuatku merinding tadi, kini sudah tak ada. Entah kapan ia pergi. Dengan cara apa? Merangkak? Terbang atau menghilang begitu saja? Sudah sering bermain di bekas panen padi, baru kali ini kutemukan belalang semacam itu.
Kadang ia juga bisa datang ke dinding rumahmu. Diam-diam ia memanjat bajumu, masuk ke rambutmu dan membuat rumah di sana, kata Butet. Tapi kubilang jangan menceritakan hal horor lagi. Nanti aku ngompol. Lagi pula tak ada hubungan belalang dengan rahasia.
Kami hanya ke ladang bekas panen padi lalu kebetulan saja ada belalang merayap di tanganku. Dasar penakut, ejek Butet. Meski aku anak laki-laki sehat dan berotot, tapi untuk cerita begituan aku lebih lemah dari bayi. Bila malam tiba kubangunkan Bapak menemani kencing. Sedang Ibu, aku lebih sering terkejut mendapati mulutnya yang sewarna darah. Gusinya selalu penuh. Ibu suka menyirih. Sehabis itu ia menggosok-gosokkan tembakau ke seluruh gigi. Kata Ibu, giginya yang sudah goyang itu suka gatal. Jika digosokkan tembakau gatalnya hilang. Selain itu bisa juga mengobati bentol-bentol karena ulat bulu, atau bekas gigitan serangga.
Pernah ada yang datang minta tolong. Kami semua sudah tidur. Seseorang itu mengeluhkan kakinya baru saja dipagut ular. Ibu memeriksa bekas gigitannya. Hanya luka sedikit, kata Ibu. Namun bila tak diobati nyawa bisa terancam. Segera Ibu ke kamar—bukan kamar tidur bersama Bapak, tapi kamar khusus Ibu menyimpan ramuan.
Dioleskannya krim ke kaki orang itu. Disembur sirih ke badannya. Ibu membisikkan sesuatu ke ubun-ubunnya. Tak lama setelahnya seseorang itu pergi dengan mengucapkan terima kasih saja. Kudengar ia belum punya uang. Ibu jawab tak apa-apa yang penting sembuh dulu.
Hampir selalu begitu. Belum pernah kulihat Ibu menikmati jerih payahnya. Paling dibawakan rokok, buah, beras, kelapa, sayur, dan ternak. Jika pasien Ibu sudah pergi, aku segera tengkurap dan pura-pura ngorok. Ibu tak membolehkanku penasaran bila sedang mengobati. Urusan orangtua tak perlu dicampuri anak-anak, begitu Ibu berpesan.