Aku Melihat Ranggas Terbakar di Mata Butet

“Jadi sudah kautemukan teka-teki nama itu?”

“Belum.”

Tapi aku curiga ia telah mengetahui sangat banyak dan akan menceritakannya perlahan sampai aku benar-benar masuk perangkapnya—maksudku sampai ia benar-benar melihat sorot mataku yang paling serius. Tak ada begu (setan) di sini ataupun di rumahmu, katanya, suatu malam sewaktu belajar kelompok di rumahnya dan aku minta diantarkan pulang sebab listrik padam total.

***

Aku melakukan pengintaian berikutnya. Kubuat alasan kepada Mama agar diizinkan keluar rumah. Ada tugas mengenai hewan dan tumbuhan dari sekolah, ujarku. Aku harus juara di semester ini. Juara umum. Mama pun membolehkanku. Mama selalu mendukung apa pun yang kulakukan.

Hari kedua, aku baru tahu kalau Ranggas itu perempuan. Suka menyirih, suka menggosokkan tembakau ke gigi. Tapi hampir semua perempuan menikah di desaku melakukan hal semacam itu, termasuk mamaku. Hanya, perempuan penyirih yang mereka maksudkan ini, hebat. Punya ilmu.

Pamanku, Bapaknya Timur, sepupuku yang penakut itu tiga minggu lalu terlibat pertengkaran dengan tetangga ladangnya. Si tetangga ngotot menuduh Paman menggeser tapal batas sekitar satu meter. Harusnya pohon kemirinya berjumlah seratus. Kok tinggal sembilan puluh sembilan? Kenyataan tak sebatang pohon kemiri pun di ladang Paman.

Untuk tanaman tua Paman hanya menanam kemenyan. Saat Paman bilang barangkali dulu sewaktu masih kecil batang-batang kemiri yang dipinggir sakit lalu mati, si tetangga itu langsung menuduh: jangan-jangan kauguna-gunai. Istrimu yang melakukannya. Dasar parbegu ganjang! cecarnya, tanpa membiarkan Paman membela diri. Seminggu kemudian lelaki tua itu kejang-kejang lalu mati.

Cerita itu aku tahu saat menguping ketika Mama bertandang ke rumah Paman, di mana waktu itu lengan kanan paman berdarah. Kena tebas parang, kata Paman. Mama membantu Tante meracik obat Paman. Saat aku duduk lebih dekat, Mama menyuruhku pulang. Sana, pergi belajar. Bilangnya mau juara? Aku pun pergi. Namun bukan benar-benar pergi. Aku berdiri di balik dinding, kemudian berlari sekencang-kencangnya saat sudah yakin siapa sebenarnya Ranggas yang dibicarakan banyak orang di rumah laki-laki di ujung desa.

***

Arsip Cerpen di Indonesia