Meski mengalami keterbelakangan mental, tubuh Ibu nyaris normal. Kulit kuning langsat seperti bercahaya, halus mengundang orang untuk membelainya. Ibu bisa berjalan mengesot, bisa melakukan apa pun keperluannya sendiri. Mandi, ganti baju, mengambil makanan dari meja makan, ibu bisa melakukannya. Ibu pernah sekolah, tapi hanya beberapa tahun. Entah kenapa ibu tidak melanjutkan sekolah, nenek tidak pernah bercerita.
Suatu hari sepulang bermain di teras belakang rumah, ibu menangis. Melenguh-lenguh, lalu diam dengan air mata mengalir membasahi pipinya yang ranum. Tangis yang tidak biasa. Karena berhari-hari kemudian, berminggu-minggu kemudian, tangis itu tidak berhenti.
Nenek dan kakek tentu saja bingung. Tapi kemudian ibu melupakan tangisnya. Ibu sibuk lagi dengan keterampilan menyulamnya, keterampilan yang diajarkan nenek sejak kecil. Apa pun disulamnya. Taplak meja, sarung bantal, bajunya, hiasan dinding, dan apa pun. Sebagian hasil sulaman ibu dibagikan kepada saudara-saudara yang datang dan tetangga.
Tapi nenek dan kakek tidak berhenti bingungnya. Karena beberapa bulan kemudian ibu tidak juga datang bulan. Waktu dibawa ke dokter, ibu dinyatakan hamil. Waktu itu usia ibu dua puluh tahun. Sampai saya dan Inalis lahir, nenek dan kakek tidak tahu siapa sebenarnya ayah kami. Ibu selalu menangis setiap ditanya. Ibu pun meninggal waktu melahirkan saya dan Inalis.
***
Kata orang, saya dan Inalis seperti pinang dibelah dua. Hanya yang membedakannya, Inalis lebih besar dan tinggi. Karena sejak kecil Inalis biasa bergerak, menari, menyanyi, dan bermain berlari-larian. Sementara saya hanya menemaninya dari pinggir halaman, tersenyum, bertepuk tangan, dan ngesot untuk mengejarnya.