Sekali waktu keinginan Inalis untuk bisu itu terkabul. Dia tidak bisa berteriak, menembak orang dengan kata-katanya yang tajam, bahkan melenguh pun tidak bisa. Saya memeluknya. “Bicaralah, In, bicaralah seperti biasa,” bisik saya. Tapi Inalis membisu.
Darah segar membasahi tangan saya saat tersentuh belati yang menancap di dada Inalis. ***
Yus R Ismail, menulis cerpen, novel, dan puisi, dalam bahasa Indonesia dan Sunda yang sudah diterbitkan di sejumlah media massa. Buku terbarunya Humor Klasik si Kabayan (BIP, 2017), Mahacinta (e-book Gramedia, 2017), Ambilkan Bulan, Bu (audiobook, 2017).
Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, ketik sebanyak 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media massa lain. Kirim e-mail ke cerpenmi@mediaindonesia.com