Sejak itu saya tidak ingin bisa bicara seperti Inalis bicara. Keinginan yang sejak saya ingat dan sadar bahwa saya tidak bisa bicara seperti itu, berhenti begitu saja. Seperti sinar matahari yang tertutup awan dan hujan. Saya lalu lebih memercayai tersenyum sebagai kata-kata. Itulah awalnya mengapa saya dikenal sebagai Perempuan Sunyi yang selalu tersenyum.
“Coba, kamu tahu apa arti senyum Perempuan Sunyi itu kali ini?” tanya seseorang kepada temannya saat melihat saya sedang menyulam di teras rumah. Saat itu senja turun dengan matahari jingga kekuningan.
“Mungkin dia bangga bisa membuat sulaman,” jawab temannya.
“Bukan. Dia pasti berbahagia begitu menyadari bahwa dirinya tidak bisa bicara.”
“Haha… masak karena bisu jadi bahagia?”
“Iya, karena dia tahu, banyak berkata-kata sering kali menutup orang untuk tersenyum.”
Mendengar percakapan seperti itu senyum di bibir saya semakin merekah.
***
Setelah kami dewasa, kata-kata seperti kutukan bagi Inalis. Dia sangat baik kepada siapa pun. Tapi begitu sudah berselisih, mulutnya seperti senapan yang tidak akan berhenti sebelum ada peristiwa besar. Sekali waktu, saat Inalis SMP, teman akrabnya sendiri dikatakan pelit, bodoh, tidak tahu diri, kurang ajar, sengsara, buruk rupa, pecundang, dan entah apa lagi; hanya karena tidak memberinya pinjaman buku. Tentu saja temannya itu marah. Dia memutuskan hubungan pertemanannya.