Pasar Malam di Pasir Putih

“Ada apa di depan sana, uda?”

“Ada pasar malam,” kata seorang lelaki muda sambil tersenyum.

“Pasar malam?”

Daerah Selatan, daerah yang sedikit terlupakan modernisasi. Ekonomi masyarakat di sini mayoritasnya, kalau tidak ke laut menangkap ikan, maka ke rimba membuka ladang. Beberapa lainnya berdagang. Sedang sedikit sekali mereka yang bekerja sebagai pegawai pemerintah yang dijanjikan dana pensiun. Namun, lebih banyak yang mencoba peruntungan nasib di rantau orang. Dari seorang kawan yang juga berasal dari Selatan, aku diberi tahu bahwa orang di sini banyak yang tidak benar-benar tahu apa artinya kaya. Sedangkan bagi yang tahu, tidak tahu bagaimana caranya untuk bisa kaya. Kemiskinan di sini adalah kebersahajaan yang dirayakan bersama-sama. Upah ratusan ribu per bulan cukuplah untuk membuat mereka tetap hidup dari tahun ke tahun.

Puluhan ribu yang didapat di siang hari tidaklah masalah untuk dihabisan pada malam nanti untuk mencicipi hiburan di pasar malam. Buayan Kaliang digelar di sebuah lapangan. Roda-roda maut memekakkan telinga dengan desingan knalpot yang menderu. Asap dari sate dan mie ayam mengepul menggugah selera di panasnya udara malam pesisir. Gerai lempar gelang berhadiah rokok dan kebutuhan pokok berjejer dari timur ke barat.

Puluhan orang antri menunggu giliran mereka untuk menaiki Buayan Kaliang. Beberapa pemudi muntah setelah menaikinya. Remaja belasan tahun memakai topi berkaca mata hitam di malam hari menikmati semangkok mie ayam bersama para gadis. Seorang pria setengah baya tertawa menerima hadiah sebungkus rokok, tiga buah sabun mandi, dan lima botol minyak goreng setelah memenangkan permainan bowling ajaib. Seorang lainnya terpaku setelah merogoh kantongnya, tidak lagi menemukan selembar pun uang. Dia terlalu asyik melempar-lempar gelang, sehingga tidak menyadari lemparan terakhirnya adalah uang terakhir yang ia miliki malam itu.

Para pemuda, menikmati minuman sambil berdendang ria di kafe sepanjang pantai. Sebuah speaker besar disediakan oleh tiap kafe untuk menarik pengunjung. Lama tidak berjalan-jalan ke Selatan, aku tidak tahu bahwa teknologi karaoke telah membudaya di sini. Kaca mata hitam dan topi tetap tidak tinggal dikenakan oleh para pemuda ini.

Arsip Cerpen di Indonesia