Pasar malam di Selatan, lebih semarak dari pada pasar malam di Ibukota negara. Para pengunjung datang untuk menikmati hiburan yang tersedia. Bukan untuk duduk-duduk mengambil gambar dari ponsel dan sekadar chatting dengan handai taulan (entah di mana handai taulan itu berada). Bukan pula untuk memamerkan pakaian bagus yang mereka kenakan.
Semua orang tidak begitu peduli dengan apa yang kau pakai. Ponsel apa yang kau gunakan. Apakah tasmu asli seharga puluhan juta atau bajakan seharga enam puluh lima ribu. Orang-orang hanya memedulikan bagaimana untuk bisa menikmati sensasi diputar-putar buayan kaliang. Ikut merasakan keseruan melihat para pengendara motor memilin tali gas di dinding tong maut. Seberapa tepat lemparan gelangmu sehingga kau berhak membawa pulang hadiah yang disediakan. Dan menikmati suguhan pertunjukan musik dangdut oleh artis lokal.
Teman seperjalanan memarkir kendaraan untuk ikut menikmati kemeriahan pasar malam di Pasir Putih.
“Di mana lagi kau bisa menemukan hiburan seperti ini?” katanya.
Tetapi, tidaklah cocok bagi seorang lelaki muda tinggi dengan potongan rambut pompadour, brewokan, dan memakai celana Louis berjalanan di tengah masyarakat yang berjalan sepuluh kilometer menuju pasar malam ini. Sepatu kulit coklat mahalnya tidak akan cocok dipijakkan pada lapangan rumput berlumpur yang puluhan tahun terbiasa diinjak oleh sandal jepit.
Dengan segera lelaki muda itu kikuk. Pada sebuah festival di ibukota, dia akan dilirik oleh perempuan muda dan berakhir dengan sebuah kencan di sebuah kafe di pusat kota. Tetapi di sini, dia tak ubahnya seperti badut yang dibayar murah oleh juragan buayan kaliang untuk menarik perhatian para pembeli tiket.