Kardi tak habis pikir, mengapa Wahyu menuduh seperti itu. Akan tetapi di satu sisi, ia semakin kasihan melihat sahabatnya itu. Bagi Wahyu, surat kepada Presiden adalah harapan satu-satunya untuk menyelamatkan tanahnya dari ancaman pembangunan hotel.
Kardi masih ingat betapa kalap temannya itu saat melihat beberapa pekerja mengukur-ukur luas pekarangannya. Pembangun hotel itu mulai bekerja tanpa seizin Wahyu, setelah berkali-kali merayu dia menjual tanah di depan rumah, tetapi tidak juga berhasil.
“Bagaimana mungkin aku menjual tanah di depan rumahku itu, Kar. Kau tahu, itu kenangan terbesar Marni,” ucap Wahyu suatu malam.
Kecintaan Wahyu kepada Marni memang sangat besar. Di pekarangan depan rumah itulah dulu Marni menanam bunga-bunga indah dan aneka pohon yang dia rawat dengan telaten. “Marni pernah berkata, bunga dan pohon di pekarangan itu adalah tempat bermain anak kami kelak,” curhat Wahyu suatu hari.
Namun, nahas, belum sempat mereka diamanahi buah hati, Marni meninggal akibat kecelakaan. Wajar bila Wahyu menolak tawaran dari pengusaha hotel. Saat melihat pekarangan itu, ia selalu teringat kepada Marni. Mereka sudah melaporkan pembangunan itu ke pihak RT dan RW. Namun mereka malah menyalahkan Wahyu. Mereka berkata, Wahyu bodoh menolak tawaran begitu tinggi.
Wahyu juga sudah melaporkan perbuatan pembangun hotel itu ke aparat keamanan. Ketika itu dikatakan, kasus itu akan segera diproses. Wahyu akhirnya sadar, kata “memproses” itu sungguh ambigu. Bahkan hingga detik ini, jika ditanya mengenai perkembangan penanganan kasus itu, aparat keamanan akan berkata sedang memproses.
Kardi tidak sampai hati melihat Wahyu terduduk lemas di kursi ruang tunggu kantor aparat keamanan selepas mendengar kabar untuk kali kesekian bahwa kasus itu sedang diproses.